Rabu, 21 Desember 2011

FOCUS of CHRISTMAS

Allah memusatkan perhatian secara penuh dengan mengerahkan seluruh kekuatan dan kasihNya untuk mengembalikan manusia dalam rancanganNya yg kekal. 
Tidak ada tendensi kepentingan Allah, tidak ada tuntutan hak dan tidak ada pamrih. Semua karya Allah yg dahsyat dikerjakan Tuhan Yesus untuk kita dilakukan dengan kerelaan yg besar. 
Pusat perhatian yg menggelora dalam hati Allah adalah keselamatan kekal manusia sehingga Dia rela mengorbankan apapun membayar harganya tanpa memperhitungkan nilai kemuliaanNya sendiri. 
Natal merupakan presentasi perjuangan Allah membela kita dengan turun langsung kedunia menjadi hina, menghampakan diri, memberikan seluruhnya, yg paling baik dan paling besar untuk tanpa syarat . Sasaran kasih Allah ditumpahkan seluruhnya tanpa batas kepada seluruh isi dunia. Tidak harapkan balasan, semua dikerjakan dengan penuh kesadaran dan kerelaan supaya kita menikmati keselamatan yg disediakanNya. Natal merupakan kesempatan Allah mengasihi manusia tiada batas, dalam kesempatan anugerah yg sangat luas dan untuk dunia yg tidak terbatas. 

Jika natal kita peringati setiap tahun, itu bukanlah tuntutan Tuhan supaya memperingati hari kelahiran Kristus. Karena esensi natal bukanlah peringatan, permenungan makna, bukan acara gerejawi dan bukan liturgi tetapi ambisi Allah untuk mengubah hati kita. Natal adalah momentum yg seharusnya menggiatkan kita secara konsisten untuk berinteraksi dan memberikan respon setiap hari sebagai bukti keseriusan kita menyambut kehangatan anugerah Allah yg sangat amat besar dalam mengubahkan hidup kita.
itulah FOCUS of CHRISTMAS

Simeon adalah pribadi yg memusatkan pada NATAL 
Lukas 2:25 - 35

 2:25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh   yang menantikan penghiburan   bagi Israel. l  Roh Kudus ada di atasnya, 2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan  hukum Taurat, 2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera,  sesuai dengan firman-Mu, o  2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan p  yang dari pada-Mu, 2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. q 2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. 2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu r Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan s  atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan 2:35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."


I. FOKUS PADA KEHENDAK ALLAH  (ayat.25-27)

Simeon bersukacita karena harapan imannya terpenuhi: Allah memperkenankan untuk melihat bahkan menatang bayi sang Messias. 
Untuk dapat melihat Allah secara langsung, apakah ini terjadi secara acak ataukah kondisional? Alkitab mencatatnya secara eksplisit bahwa Simeon seorang yg benar dan saleh serta Roh Kudus diatasnya. Jelaslah bahwa respon keyakinan kepada Allah dikembangkan bersama sikap hidupnya yang benar (“dikaios”) dan saleh (“eulabes”) di hadapan Allah

Kata “dikaios” dapat berarti: benar dan adil
Kata “ eulabes” berarti: saleh, sangat berhati-hati dan takut akan Tuhan. 

Sehingga pengertian “benar dan saleh” menunjuk kepada suatu kedalaman hidup rohani yang dipraktekkan oleh Simeon sedemikian kental sehingga sepanjang hidupnya dia senantiasa berlaku benar, adil, sangat berhati-hati, hidup saleh dan takut akan Tuhan. Semua orientasi hidupnya hanya ditujukan kepada penantian akan datangnya Messias yang diutus oleh Allah. 

Tidaklah mengherankan jikalau kehidupan Simeon senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus.  Itu sebabnya pula secara sengaja Allah memperjumpakan Simeon dengan Messias yang dinantikan dan diharapkan di Bait Allah. Mata Simeon dapat melihat secara langsung wujud inkarnasi Firman Allah, dan juga kini dia dapat menatang dengan kedua tangannya sendiri. 

Efektivitas mata rohaniah kita yang mampu melihat keselamatan dari Allah sangat ditentukan oleh keterbukaan diri terhadap proses pembaharuan dalam kehidupan kita. Semakin kita terbuka terhadap pekerjaan Roh Kudus dengan senantiasa hidup saleh dan benar , maka kita dimampukan untuk melihat keselamatan Allah di setiap bidang dan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. kita akan memperlakukan setiap orang dan setiap situasi dengan sikap yang benar, adil, serba hati-hati dan dipenuhi oleh roh yang takut akan Tuhan. Apabila setiap peristiwa dan pengalaman merupakan manifestasi dari karya keselamatan Tuhan, maka kita akan terus belajar merangkulnya dengan sikap iman dan memaknainya secara kreatif. Ini dimungkinkan bagi mata orang yang suci hatinya. Sebab hanya orang yang suci hatinya saja yang mampu merangkul atau menerima setiap peristiwa yang paling pahit dan sedih. Sebaliknya mereka yang hidup cemar dalam dosa, tidak akan sanggup untuk menerima hal yang paling “sederhana/kecil” dalam suatu peristiwa yang pahit. Apalagi jika mereka harus diperhadapkan dengan suatu hal yang “besar” dalam suatu peristiwa pahit seperti peristiwa yang tragis dan penderitaan! Mereka segera meledak-ledak penuh kemarahan dan mencaci-maki Allah. Setelah itu mereka kehilangan kendali, lumpuh dan tidak berdaya. Sebaliknya orang fasik tidak sanggup menghadapi suatu penderitaan atau kemalangan. Orang fasik akan dimatikan oleh kemalangan yang sebenarnya sangat sederhana dan sepele.  Kita dapat melihat ketangguhan atau daya tahan dari orang yang hidup benar dan kudus, walau mereka didera oleh berbagai kemalangan  umumnya mereka tetap tabah dan penuh syukur. Sebaliknya orang yang cemar hatinya sangat mudah terpukul oleh perkara-perkara yang sebenarnya sangat sederhana seperti: meninggalkan Tuhan karena kehilangan pekerjaan, menolak pelayanan karena kurang mendapat penghargaan sebagaimana yang diharapkan, tidak setia beribadah karena jarah rumah ke gereja menjadi sedikit jauh, dan sebagainya.


II. FOKUS PADA RANCANGAN KESELAMATAN ALLAH (ayat.29-30)

Bagi Simeon dapat melihat dan menatang bayi Yesus sebagai Messias merupakan berkat keselamatan Allah yang tak terkira. Hatinya digenangi oleh damai-sejahtera yang berlimpah, sehingga dia tidak gentar apabila ajal menjemput. Bukan karena alasan telah lanjut usia dan bosan hidup, tetapi karena dia secara langsung telah mengalami keselamatan Allah dalam kehidupannnya. Itu sebabnya Simeon berkata: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Luk. 2:29-30). 



Keselamatan Allah dialami oleh Simeon dalam suatu perasaan damai-sejahtera yang berlimpah. Inilah pengalaman “syaloom”,  Pengalaman “syaloom” yang demikian merupakan kepenuhan hidup di mana makna dan tujuan hidup telah tercapai dalam perjumpaan manusia dengan Allah? Sikap yang sama diungkapkan oleh nabi Yesaya: Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya” (Yes. 61:10)


Umat percaya dalam kesaksian nabi Yesaya mengungkapkan suatu sukacita yang begitu penuh karena keselamatan yang telah dianugerahkan oleh Allah sehingga mereka bersorak-sorai memuji Allah.  Jelas realitas syaloom Allah bukan sesuatu yang datang dari dalam diri manusia, tetapi sesuatu yang dianugerahkan dari “luar”. Seperti Simeon yang memperoleh karunia untuk dapat melihat dan menatang bayi Messias.


Kenyatan sehari hari justru sering menghadapkan kita demikian  jauh dari syaloom Allah. Bukan hanya kita tidak digenangi oleh damai-sejahtera yang berlimpah, tetapi justru kehidupan rohani kita begitu kering dari perasaan damai-sejahtera.  Apabila Simeon dapat melihat dan menatang bayi Yesus, maka yang sering  kita lihat dan tatang adalah berbagai persoalan, kegagalan, kesedihan dan penderitaan. Kehidupan sering hanya diiringi oleh suara kesedihan, rintihan dan tangisan. 


Dalam konteks ini kita perlu bertanya apakah kehidupan kita telah ditandai oleh jalan hidup yang benar dan saleh di hadapan Tuhan?  Karena betapa banyak orang yang merasa hidupnya penuh dengan kesedihan dan penderitaan yang disebabkan karena jalan hidup yang menyimpang dan jauh dari kebenaran. Pengalaman penderitaan dan kepedihan sebagai efek enuaian dari apa yang telah di tabur. 


Simeon, mampu  melihat berkat Allah yang tersembunyi di balik semua hal yang menyedihkan dan mendukakan itu?  Semakin hidup kita saleh dan benar, maka kita dimampukan untuk melihat secara jeli dan jernih karya Tuhan yang terjadi dalam kehidupan kita. Jadi dengan pola spiritualitas iman yang  semakin jeli dan jernih, maka kita tidak akan jatuh  dalam sikap yang mengasihani diri sendiri atau berputus-asa dengan apa yang menimpa kehidupan kita. 


III. FOKUS PRIBADI ALLAH WALAUPUN PENUH MISTERI

Kehadiran dan karya Kristus sepanjang sejarah senantiasa diliputi oleh berbagai perbantahan teologis karena tidaklah mudah bagi manusia untuk memahami rahasia jati-diri Kristus yang tidak terbatas. Karena itu iman kepada Kristus membutuhkan karunia atau anugerah dari Allah. Kita tidak mungkin dapat percaya kepada Kristus hanya karena pengertian dan akal-budi kita yang serba terbatas. 



Simeon yang diliputi oleh perasaan damai-sejahtera dan sukacita keselamatan saat menatang bayi Yesus menyadari permasalahan tersebut. Dia berkata kepada Maria, ibu Yesus: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang"  (Luk. 2:34-35).


Kehadiran Kristus bukan hanya dapat menimbulkan perbantahan teologis, tetapi Dia juga ditentukan oleh Allah untuk menjatuhkan dan membangkitkan banyak orang. KedatanganNya ke dalam dunia bukan sekedar membawa suatu revolusi dalam perjalanan sejarah, tetapi juga  membawa arah perjalanan sejarah bergerak ke arah DiriNya.  Kehidupan umat manusia bergerak ke arah diriNya. Ini berarti kehadiran, pemikiran, dan karya Kristus menjadi parameter  yang terus-menerus memberi pencerahan kepada umat manusia sepanjang abad. Bahkan keselamatan dan hidup kekal tidak dapat dilepaskan dari iman kepadaNya.
Itu sebabnya di hadapan Kristus setiap orang dipanggil untuk berani melepaskan segala kebanggaan dan kebenaran diri sendiri. Selama kita masih memiliki kebanggaan-kebanggaan duniawi dan kebenaran-kebenaran yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka Kristus  yang adalah batu penjuru Allah dapat berubah menjadi batu sentuhan bagi kita. Sebab kita tersandung jatuh karena kita berbenturan dengan Kristus. Tetapi sebaliknya bagi setiap orang yang rendah-hati, terbuka terhadap anugerah dan keselamatan Allah; maka kehadiran Kristus justru akan membangkitkan dia untuk menjadi alat Tuhan yang efektif. 


Apabila kehidupan kita berproses ke arah Kristus tidak berarti seluruh misteri Kristus dapat kita pahami dengan kapasitas otak kita yang serba terbatas. Ada hal-hal yang cukup jelas kita pahami tentang Kristus, tetapi juga ada  banyak hal yang belum sepenuhnya kita pahami seperti bagaimana proses inkarnasi Kristus yang menjadi janin melalui Maria yang masih perawan, bagaimana Dia dapat membuat berbagai mukjizat, bagaimana proses kebangkitan Kristus dan kenaikanNya ke sorga. Tetapi iman kita telah diteguhkan bahwa segala yang difirmankan Alkitab tentang Kristus adalah benar dan dapat dipercaya. Justru iman yang mau berhadapan dengan misteri ilahi akan mendorong kita untuk terus belajar dan terbuka agar Allah berkenan melengkapi kita sedikit demi sedikit. 


Pengenalan kita tentang karya Allah di dalam Kristus membutuhkan proses yang progresif ke depan.  Saat kita berjalan bersama dengan Kristus, maka segala pertanyaan dan perbantahan tentang Dia berubah menjadi sumber inspirasi, kekuatan dan pencerahan hidup yang menyegarkan. Dengan demikian saat kita berjalan bersama dengan Kristus, kita tidak hanya melihat keselamatan Allah, tetapi kita seperti Simeon diperkenankan untuk menatang keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar