Minggu, 04 Desember 2011

MASIH ADAKAH TEMPAT BAGI KRISTUS?


Yes. 9:2-7; Mzm. 96; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14, 15-20 

Pengantar
Dalam kehidupan sehari-hari tidak ada seorangpun di antara kita yang tidak membutuhkan “tempat” atau “ruang”. Apakah tempat tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat berteduh, tempat dan ruang berkomunikasi, tempat studi, tempat  mengembangkan diri, tempat bermain, tempat berbagi rasa, tempat beribadah, tempat bekerja, dan sebagainya.

Makna ruang bagi manusia bukan sekedar suatu tempat yang bersifat fisik seperti tersedianya sebuah gedung, rumah, sekolah, mal/plaza, pasar, gereja, dan akses jalan raya. Tetapi juga makna ruang menunjuk kepada tersedianya situasi batiniah atau rohaniah yang personal. Misalnya kita dapat merasa “sesak” di dalam gedung yang cukup luas karena kita tidak  memperoleh penghargaan yang sewajarnya. Keadaan “sesak” di sini lebih menunjuk keadaan batin kita yang merasa tertekan  karena orang-orang di sekitar bersikap mengabaikan dan merendahkan diri kita. Sebaliknya kita juga dapat merasa “nyaman” dan “lapang” di suatu ruang yang sempit secara fisik sebab kita memperoleh kehangatan kasih, keakraban, dan persaudaraan yang tulus. Dengan demikian makna “ruang yang sempit” atau “ruang yang lapang” sangatlah relatif bagi setiap orang sebab tergantung dari kualitas relasi yang terjalin di dalamnya.  Semakin tinggi kualitas relasi atau komunikasi kita dengan orang-orang di sekitar kita, maka sebenarnya kita telah memperoleh ruang batiniah yang lebih lapang dan melegakan. Tetapi semakin rendah kualitas relasi atau komunikasi kita dengan orang-orang di sekitar kita, maka sebenarnya ruang  batin kita menjadi serba sempit, menekan, menyesakkan, mengancam, bahkan  menakutkan walau kita hidup di suatu gedung yang sangat mewah dan megah. Keleluasaan ruang batin tidak senantiasa identik nilai dan ukurannya dengan keleluasaan ruang fisik.

                Allah diimani sebagai satu-satunya Tuhan yang menciptakan ruang kehidupan yaitu bumi dengan segala isinya. Dialah Tuhan yang berada di tempat yang tidak terbatas. Dia serba tidak terbatas oleh waktu dan ruang, sebab waktu dan ruang hanyalah ciptaanNya. Keberadaan Allah lebih tepat disebut sebagai keberadaan yang kekal (eternal), maha-hadir (omnipresent), melampaui segala sesuatu (transcendent). Namun ketika Allah dalam inkarnasi Kristus hadir dalam sejarah kehidupan manusia, Alkitab menyaksikan situasi yang paradoksal. Injil Yohanes 1:10-11 menyaksikan: Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”.  Saat Allah yang telah menciptakan ruang dan alam datang ke bumi, ternyata umat ciptaanNya tidak mau menyediakan ruang bagiNya.  Dia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi manusia tidak mengenal dan menolak kehadiranNya. Dengan demikian peristiwa Natal sebenarnya juga menyaksikan bagaimana sikap manusia yang tidak tanggap terhadap kehadiran Allah, sehingga manusia lebih memilih untuk menutup setiap ruang kehidupan yang dimilikinya. Yang mana pilihan dan penolakan kita tersebut telah membuat semua kemungkinan atau celah yang ada telah tertutup rapat, sehingga hanya tinggal satu kemungkinan yaitu tidak tersedianya tempat bagi Allah. Bukankah sejarah kehidupan kita sering ditandai oleh berbagai respon penolakan  terhadap kehadiran Allah dan FirmanNya? Kita sepertinya sering mencoba untuk menyingkirkan Allah dalam ruang kehidupan kita dan kalau perlu kita berupaya untuk membunuhNya. Sebagaimana yang dikatakan oleh  Frederick Nietzche: “God is dead” (Allah telah mati). Kalau Allah telah mati, maka tertutuplah segala kemungkinan bagi manusia untuk memperoleh perlindungan. Manusia merasa dirinya bebas sehingga manusia dapat menentukan dirinya lebih leluasa. Dalam realita hidup kita tidak hanya berupaya menyingkirkan Allah secara filosofis dan teologis, tetapi juga dalam praktek dan tindakan. Kita umumnya lebih menyukai untuk memenuhi seluruh ruang hati kita dengan mengejar ketamakan seperti materi, uang, sikap yang ambisius, hawa-nafsu seks dan popularitas.
Berkat Yang Tersembunyi?
Karena perintah kaisar Agustus, Yusuf dan Maria harus pergi dari Nazaret menuju Betlehem yang berjarak sekitar 170 km dengan berjalan kaki. Mereka harus pergi ke Betlehem untuk pendaftaran sensus karena Yusuf dan Maria berasal dari keturunan raja Daud.  Firman Tuhan kepada Samuel berkata: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku" (I Sam. 16:1). Keterangan I Sam. 16:1 sangat jelas menyatakan bahwa raja Daud dan leluhurnya berasal dan lahir di kota Betlehem (bdk. Luk. 2:4-5 dengan Rut. 1:1-2, 19; 4:17). Dari sumber ini kita dapat melihat bahwa bukan hanya Yusuf saja yang keturunan Daud, tetapi juga Maria. Sebagaimana diketahui bahwa Yusuf adalah keturunan Daud melalui Salomo. Sedangkan Maria berasal dari keluarga Lewi, tetapi dia juga adalah keturunan Daud melalui Natan (Luk. 3:32).  Dengan demikian Yesus yang dilahirkan oleh Maria secara hukum dan biologis berasal dari keturunan raja Daud. Jika demikian, bukankah melalui perintah kaisar Agustus yang mewajibkan setiap penduduk di wilayah   kekuasaan kerajaan Romawi khususnya bagi Yusuf dan Maria untuk didaftarkan di tempat asal mereka masing-masing sebenarnya merupakan suatu berkat yang tersembunyi (blessing in disguise)?  Artinya melalui perintah kaisar Agustus tersebut, Yusuf dan Maria dapat kembali menengok sanak famili atau kerabat yang masih tinggal di Betlehem. Selain itu khusus untuk Maria, dia dapat melahirkan di tengah-tengah keluarga besar keturunan raja Daud. Bukankah suatu sukacita besar bagi seorang wanita dapat melahirkan anak di tengah-tengah keluarga besar mereka? Tradisi Timur di Israel, seperti halnya budaya Jawa pada umumnya memiliki kebiasaan bagi seorang wanita untuk kembali pulang ke rumah orang-tua atau kerabat saat dia akan melahirkan seorang anak.
                Tetapi tampaknya kota Betlehem saat itu sedang sibuk dengan para pendatang yang juga memiliki tujuan seperti yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria untuk pendaftaran sensus penduduk. Demikian pula halnya dengan para kerabat dan sanak famili dari Yusuf dan Maria. Mereka juga sibuk dengan berbagai urusan dan persoalannya masing-masing. Sehingga mereka tidak dapat membantu Maria untuk melahirkan anaknya di tengah-tengah keluarga besar keturunan Daud. Bahkan juga tempat penginapan di kota Betlehem telah penuh.  Padahal Maria pada waktu itu telah tiba saatnya untuk bersalin. Luk. 2:6-7 menyaksikan: “Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”. Apa yang dialami oleh  Maria sepertinya sesuatu yang wajar. Karena orang-orang Betlehem dan kerabat telah sibuk dengan urusannya masing-masing dan tempat di rumah mereka telah penuh, maka  harap dimaklumi jikalau mereka tidak dapat menyediakan tempat bagi Maria untuk melahirkan Anaknya di tengah-tengah mereka. Budaya kita sering membuat “permakluman” dengan alasan kesibukan atau sedang repot, sehingga kita sering tidak tanggap dengan kesusahan dan pergumulan orang-orang dekat di sekitar kita.  Itu sebabnya alasan kesibukan atau kerepotan sering menjadi senjata yang sangat ampuh untuk membenarkan diri; yang  artinya kita tidak mau disalahkan apabila kita tidak dapat menyediakan sedikit “ruang” bagi orang lain.
                Yusuf dan Maria yang kemungkinan besar berharap dapat berada di tengah-tengah keluarga besar mereka, namun kini harapan tersebut kandas. Semua tempat kerabat dan tempat penginapan telah penuh, sehingga Maria terpaksa harus melahirkan seorang Anak di tempat yang tak layak yaitu kandang ternak.  Bukankah cerminan peristiwa yang dialami oleh Yusuf dan Maria yang melahirkan Kristus di tempat yang tidak seharusnya merupakan gambaran dari kehidupan sehari-hari yang sering kita tidak tanggap untuk menyambut kehadiran Allah di tengah-tengah umatNya? Saat kita tidak mau menyediakan waktu dan hati untuk mendengarkan sesama atau saudara yang sedang menanggung beban yang sangat berat, maka sebenarnya kita juga tidak menyediakan “ruang” bagi Allah dalam kehidupan kita. Rasa enggan dan penolakan kita terhadap kehadiran orang lain merupakan cermin dari sikap spiritualitas kita yang enggan dan menolak terhadap kehadiran Allah yang sebenarnya hendak menyapa diri kita. Bukankah saat kita menolak kehadiran diri Allah, sebenarnya kita juga menolak keselamatan yang hendak dianugerahkanNya? Kita sering menolak kehadiran Allah karena kita tidak mau menyediakan suatu ruang khusus untuk menyambut kedatanganNya yang menyelamatkan. Dalam hal ini kita sering lupa bahwa keselamatan Allah tidak mungkin akan terwujud selama kita tidak menyediakan ruang bagiNya. Sebab bukankah keselamatan Allah membutuhkan konteks hidup, yaitu “ruang relasional” sehingga memungkinkan terjadi perjumpaan Allah dengan umatNya? Tanpa ruang atau konteks hidup, keselamatan dari Allah hanyalah suatu harapan yang utopis belaka.
Umat Yang Menyediakan Ruang
Kisah kelahiran Kristus di Betlehem ditandai oleh peristiwa yang paradoksal. Pada satu pihak disaksikan bahwa kerabat dan famili Yusuf atau Maria tidak dapat membantu untuk menyediakan tempat untuk melahirkan Anaknya. Namun pemilik  kandang dan para gembala justru dikisahkan oleh Injil  Lukas lebih tanggap terhadap kesulitan yang dihadapi oleh Yusuf dan Maria. Pemilik kandang berkenan memberi tempat bagi Maria untuk melahirkan Anaknya, sedang para gembala bersedia datang beramai-ramai datang menengok bayi Yesus. Pada intinya baik pemilik kandang dan para  gembala bersedia menyediakan ruang, yaitu ruang fisik bernama kandang dan ruang hati berupa kesediaan untuk menyambut. Mereka merupakan representasi dari umat yang dengan tulus mau menyediakan ruang bagi karya keselamatan Allah. Sehingga tidak mengherankan, jikalau kabar baik tentang kelahiran Kristus disampaikan Allah melalui para malaikatNya kepada para gembala yang  sedang menjaga kawanan ternak mereka. Kata para malaikat kepada para gembala: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan" (Luk. 2:10-12). Hanya kepada para gembala, para malaikat memberitakan suatu kesukaan besar bagi seluruh bumi sebab kini telah lahir Kristus Tuhan di kota Daud. Mereka diminta untuk datang mengunjungi bayi Yesus yang terbaring dalam palungan (tempat  makanan ternak). Tentu saja tanda yang disebut oleh para malaikat telah begitu akrab atau familiar bagi para gembala. Mereka tahu dengan persis apa artinya “kandang dan palungan”. Sehingga kelahiran bayi Yesus Kristus di palungan yang dinyatakan oleh malaikat sebagai Tuhan dan Juru-selamat bagi para gembala merupakan peristiwa yang begitu akrab dan cocok dengan situasi hidup mereka sehari-hari. Di satu pihak para gembala pernah gentar (pengalaman “tremendum”) saat para malaikat menampakkan diri di hadapan mereka, tetapi sikap mereka kemudian berubah takjub dan bertanya-tanya  saat mereka melihat bayi Yesus di dalam palungan (Luk. 2:17-18).   Dalam hati para gembala timbul suatu perasaan takjub akan keagungan Allah (pengalaman “fascinans”), tetapi juga makna kelahiran Kristus masih tersembunyi sebagai rahasia ilahi (pengalaman “mysterium”) yang belum sepenuhnya dimengerti oleh mereka. 
                Tokoh para gembala sebagai representasi dari umat yang bermurah-hati menyediakan ruang hati bagi Kristus pada hakikatnya bukan terjadi karena mereka senantiasa hidup serba miskin dan berkekurangan secara materi. Sebab tidak otomatis setiap orang yang miskin secara materi atau ekonomis senantiasa akan menjadi orang-orang yang bermurah-hati  dan mau menyediakan ruang bagi sesamanya. Justru karena alasan “miskin” atau hidup “kekurangan” bukankah cukup banyak orang menjadi sangat kikir dan egoistis, sehingga mereka sering menolak atau mengelak untuk memberi bantuan kepada sesamanya? Karena kita merasa diri “miskin” dan hidup serba “pas-pasan”, maka kita sering enggan untuk menolong orang yang datang kepada kita.  Jadi lebih tepat para gembala yang dilukiskan di Luk. 2 pada prinsipnya representasi dari umat yang telah terbiasa hidup miskin, terhimpit dan tertindas; maka spiritualitas mereka lebih terlatih untuk hidup sederhana dan bersandar kepada anugerah Allah.  Dengan demikian tokoh para gembala merupakan simbolisasi dari umat yang “miskin” di hadapan Allah. Spiritualitas para gembala ditandai oleh kesederhanaan hidup, kesediaan untuk menghadapi ketertindasan dan pergumulan hidup dengan sikap  iman yang berserah penuh kepada Allah. Sehingga hati mereka lebih terbuka dengan keadaan dan persoalan sesamanya yang sedang menderita. Selain itu mereka percaya kepada janji Allah, bahwa Allah akan memulihkan dan menyelamatkan kehidupan mereka. Allah akan mengubah kehidupan mereka yang terhimpit dan penuh kenistaan menjadi kehidupan yang penuh pengharapan.
Nubuat Yang Tergenapi
Sukacita dan pengharapan yang dialami oleh para gembala sebagai representasi dari umat yang menyambut kehadiran Allah merupakan penggenapan janji Allah sebagaimana pernah disaksikan oleh Yes. 8:23 – 9:7. Semula umat Israel yang tinggal di tanah Naftali dan Zebulon berada dalam situasi yang kelam dan suram. Sebab daerah mereka mengalami kerusakan yang paling hebat akibat perang Syro-Efraimi tahun 734-733 sM. Tentara Asyur waktu itu telah melakukan penyerbuan dengan menyerang terlebih dahulu wilayah Naftali dan Zebulon di kerajaan Utara, baru kemudian  meluas ke wilayah kerajaan Israel Selatan yakni kerajaan Yehuda. Di tengah-tengah umat yang sedang terhimpit dan menderita itu, Allah berfirman kepada nabi Yesaya, yaitu: “Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain” (Yes. 8:23).  Itu sebabnya di Yes. 8:23 – 9:7 terjadi suatu perubahan situasi, dari situasi sedih dan putus-asa berubah menjadi penghiburan dan pengharapan. Sebab janji Allah menyatakan: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah  melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes. 9:1). Dalam konteks ini Allah telah menghadirkan janji keselamatan dan pengharapan yang baru di tengah-tengah umat Israel yang waktu itu sedang terpuruk dalam kesuraman hidup. Jadi dalam inkarnasi Kristus, umat diperkenankan mengalami karya keselamatan Allah yang membawa pengharapan baru; sehingga kini makin terbukalah ruang atau dimensi “syaloom” dalam arti yang sepenuh-penuhnya.  Sungguh, inkarnasi Kristus telah menghadirkan dimensi ruang rohaniah yang melegakan, membebaskan dan membuka suatu perspektif hidup yang baru. Sehingga sangat tepatlah ketika rasul Paulus berkata: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Tit. 2:11).  
                Ini berarti melalui peristiwa inkarnasi Kristus, selaku umatNya kita dipanggil untuk menggeser dan membuka sekat-sekat rohaniah yang menyebabkan ruang hati kita dipenuhi (disesaki) oleh berbagai macam kejahatan dan egoisme diri. Rasul Paulus juga berkata:  “yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Tit. 2:14). Sehingga dalam iman kepada Kristus, kita dapat menjadi umat yang kudus dan rajin berbuat baik. Bukankah kekudusan dan rajin berbuat baik merupakan kunci iman yang utama untuk menciptakan ruang yang membebaskan di tengah-tengah kesesakan hidup yang duniawi?  Tanpa kekudusan, kita akan menjadi umat yang cemar dan bergelimangan dosa. Dan tanpa spiritualitas yang rajin berbuat baik, kita akan menjadi umat gemar berbuat jahat. Padahal hidup cemar dan gemar berbuat jahat merupakan manifestasi dari spiritualitas yang menindas dan merusak nilai-nilai kehidupan ini. Bahkan juga pola hidup yang cemar dan gemar berbuat jahat akan menghancurkan martabat dan keagungan dari karya keselamatan Allah. Hanya dengan pola hidup yang kudus dan gemar berbuat baik saja yang memungkinkan kita menciptakan berbagai ruang yang menghadirkan syaloom Allah, yaitu keselamatan dan damai-sejahtera dari Allah secara konkret.
Panggilan           
Saat ini seluruh umat manusia telah didera oleh “krisis global” yang menyebabkan begitu banyak orang kehilangan pekerjaan dan tiba-tiba jatuh miskin. Mereka menjadi terpukul dan putus-asa. Sehingga banyak orang merasa makin sesak di tengah-tengah kompleksitas persoalan hidup ini. Dalam situasi demikian, ruang batiniah atau spiritualitas kita makin menyempit dan menekan, sehingga kita merasa terbelenggu tanpa daya. Situasi kehidupan kita saat ini seperti yang dialami oleh umat Israel yang tinggal di wilayah Naftali dan Zebulon. Serba kelam dan suram. Tetapi ternyata kasih Allah begitu besar, sehingga Dia tidak membiarkan kita terus-menerus berada dalam kekelaman dan kesuraman hidup. Di dalam inkarnasi Kristus, Allah telah hadir sebagai terang besar yang membawa sukacita bagi setiap orang agar  mereka mengalami pembebasan, kelegaan, damai-sejahtera dan keselamatan. Ini berarti dalam peristiwa Natal, kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Tit. 2:11).  Jika demikian, apakah kita yang saat ini diperkenankan merayakan inkarnasi Kristus bersedia membuka ruang hati kita bagi sesama yang lebih menderita? Semakin kita membuka ruang hati untuk menolong sesama, maka semakin luas pula ruang spiritualitas kita. Jadi damai-sejahtera Allah akan kita alami saat ruang hati kita makin meluas dan berhasil menyingkirkan sekat-sekat  penghalangnya. Sebaliknya perasaan gelisah dan tertekan akan kita alami saat ruang hati kita semakin menyempit dan dipenuhi oleh berbagai sekat penghalang. Jika demikian, apakah kita kini lebih memilih untuk menutup pintu dan ruang hati yang akan menyebabkan kita bersikap egoistis dan tidak mau peduli dengan kehadiran sesama? Damai-sejahtera Natal dari Kristus akan memampukan kita untuk lebih membuka ruang hati kita bagi orang-orang di sekitar kita, sehingga kita dapat menciptakan ruang kehidupan yang lebih memberdayakan dan membebaskan. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar