Minggu, 04 Desember 2011

“Memuliakan Kristus Yang Lahir"

Lukas 2:8-20


Berita Natal menurut Injil Lukas dikomunikasikan kepada publik melalui para gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Para gembala domba dan kambing merupakan gambaran dari komunitas masyarakat yang tidak terpelajar, miskin, lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun selain tampil sebagai orang-orang yang hidup sederhana. Mereka merupakan suatu lapisan masyarakat dengan sebutan: “am ha-aretz”. Kedudukan “am ha-aretz” yang umumnya disebut sebagai “rakyat jelata” sangatlah berbeda dengan kedudukan “ha-kohen ha-moshiah” yang menunjuk kepada Imam Besar. Mereka juga bukan “ziknei ha-edah” (para Tua-Tua). Sebab Imam Besar dan Tua-Tua selain menunjuk sebagai para pemimpin agama, mereka juga dianggap sebagai orang-orang yang telah dipilih oleh Allah dan menguasai Taurat. Padahal para gembala sebagai “am ha-aretz” justru sama tidak menguasai hukum Taurat, sehingga mereka dianggap kotor karena mereka tidak dapat memenuhi peraturan hukum Taurat sebagaimana seharusnya.

Gambaran Injil Lukas tentang para gembala yang tinggal di padang pada waktu malam itu sama sekali bukan karena mereka sedang menanti dan mencari datangnya sang Messias. Pikiran mereka saat itu bukan sedang merancang masa depan yang lebih cerah; tetapi mungkin mereka sedang berkutat dengan persoalan apakah yang esok hari mereka bersama keluarga masih dapat makan? Kehidupan para gembala di padang sungguh-sungguh merupakan gambaran konkret dari sebagian besar masyarakat Indonesia yang saat ini sedang terpuruk oleh kemiskinan, penderitaan, penyakit, kebodohan dan ketidakpastian akan masa depan yang lebih baik. Namun dalam berita Natal merekalah yang pertama-tama menerima penyataan dan kabar gembira dari Allah tentang datangnya seorang Juru-selamat. Luk. 2:9 berkata: “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar melilputi mereka dan mereka sangat ketakutan”.

Para gembala bukanlah tipe dari orang-orang yang religius, dan mereka sama sekali tidak memiliki bekal pemahaman teologis apapun. Tetapi saat itu tiba-tiba mereka mengalami kehadiran dari “Yang Ilahi”. Dalam kosakata Rudolf Otto mungkin para gembala waktu itu mengalami misteri ilahi yang membuat mereka terkejut namun pengalaman yang sangat mempesona (mysterium tremendum et fascinans). Di antara misteri ilahi yang membuat mereka terpesona, tak pelak mereka mengalami kegentaran spiritual (tremendum). Apakah yang dimaksud dengan pengalaman “tremendum” itu? Aldous Huxley dalam tulisannya yang berjudul “Words Words Words, La Spiga Languages”, 217-218 berkata:
"The literature of religious experience abounds in references to the pains and terrors
overwhelming those who have come, too suddenly, face to face
with some manifestation of the Mysterium tremendum. In theological language,
this fear is due to the in-compatibility between man's egotism and the divine purity,
between man's self-aggravated separateness and the infinity of God."

Pada intinya para gembala waktu itu mengalami suatu pengalaman religius yang berlimpah sehingga saat itu mereka mungkin dipenuhi oleh kengerian dan sesuatu yang mengejutkan. Pengalaman itu begitu menggetarkan, karena mereka berhadapan secara langsung dengan manifestasi dari misteri ilahi. Rasa takut yang menggetarkan tersebut dalam pengertian teologis disebabkan karena disadari terdapat perbedaan yang mencolok antara egoisme manusia dengan kekudusan ilahi, antara kenajisan diri manusia dengan Allah yang tidak terbatas. Walau demikian pengalaman yang menggetarkan dan menakutkan tersebut diteduhkan oleh perkataan malaikat Tuhan yang berkata: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk. 2:10). Kehadiran Allah memang menggetarkan dan menakutkan sebab Dia dapat menjadi api yang menghanguskan. Tetapi dalam peristiwa Natal, kehadiran Allah tersebut sama sekali bukan bertujuan untuk menakut-nakuti atau menteror manusia. Sebab para gembala tiap-tiap hari telah sering menderita dan mengalami rasa takut dengan dunia sekitar yang tidak menghargai dan menolak diri mereka. Justru berita Natal yang disampaikan kepada mereka adalah agar mereka mengalami “kesukaan besar”.

Memang waktu para gembala melihat kehadiran malaikat Tuhan, mereka sempat mengalami rasa “terkejut yang besar”, tetapi di balik pengalaman yang menggentarkan itu ternyata terdapat suatu “kesukaan besar”. Bahkan sangat menarik, berita tentang “kesukaan besar” itu disampaikan kepada mereka, agar mereka kelak dapat menjadi penyampai atau utusan Allah untuk “seluruh bangsa”. Kesukaan besar dari Allah tersebut tidak boleh mereka nikmati sendiri, tetapi mereka diutus untuk mengkomunikasikan kepada seluruh bangsa. Mungkin mereka sempat bertanya dalam hati, “siapakah kami para gembala yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan kesukaan besar kepada seluruh bangsa?”

Berita kesukaan besar dari Allah tersebut bukan suatu janji masa depan atau meneguhkan suatu peristiwa sebelumnya. Kedatangan sang Messias bukanlah persoalan “nanti” atau “peristiwa “sebelumnya”, tetapi sang Messias telah terjadi pada saat kini di awal Masehi. Itu sebabnya malaikat Tuhan berkata: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk. 2:11). Prinsip teologis ini sangat penting, karena kini banyak orang mengklaim sebagai “nabi zaman akhir” atau menyebut diri sebagai seorang “Messias”. Juru-selamat, yaitu Messias untuk semua bangsa yang dijanjikan oleh Allah bukanlah plural, tetapi singular (tunggal). Mungkin para Tua-Tua, Imam-Imam Kepala, Orang-orang Saduki dan Imam Besar waktu itu sibuk mempelajari dan mencari-cari di kitab Taurat tentang sosok Messias. Tetapi kini Allah telah menyingkapkan diri sang Messias yang dijanjikan saat itu kepada para gembala, sebagai wakil dari rakyat jelata. Para gembala dapat mengenali dan menemukan sang Messias bukan karena mereka sibuk mencari, membuat menganalisa dan gemar “berteologi”; tetapi mereka hanya menerima penyataan Allah yang melampaui akal dan pengertian mereka. Berita kesukaan besar tersebut sebenarnya suatu berita yang alamiah. Mungkin berita kedatangan sang Messias bagi umat Israel sebenarnya merupakan berita yang sangat mengejutkan (bdk.Mat. 2:3). Luar biasa karena Messias yaitu Kristus telah datang dalam sejarah umat manusia. Tetapi ternyata kedatangan sang Messias itu bukan melalui peristiwa yang “supra-natural”.

Sang Messias ternyata datang melalui peristiwa kelahiran biasa dan serba alamiah yang tempat geografisnya berada di kota Daud yaitu Betlehem. Apalagi malaikat Tuhan kemudian memberi penjelasan agar mereka dapat menemukan di manakah bayi Messias tersebut lahir, yaitu: “Dan inilah tandanya bagimu: kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan” (Luk. 2:12). Ciri-ciri keadaan sang Messias yang baru lahir ternyata tidak luar biasa. Dia lahir dalam keadaan yang sangat miskin sama seperti pola kehidupan sehari-hari yang dialami oleh keluarga para gembala. Sang Messias lahir di sebuah tempat dengan palungan, yaitu tempat makanan hewan. Bukankah para gembala sebenarnya sudah sangat mengenal dengan keadaan palungan, tempat makanan hewan peliharaan mereka? Justru di balik yang biasa, alamiah dan sederhana atau miskin tersebut hadirlah misteri ilahi dalam diri sang Messias, yaitu Kristus Tuhan. Para gembala kemudian mendengar nyanyian malaikat Tuhan: “Kemuliaan Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya” (Luk. 2:14). Bala tentara malaikat Tuhan tersebut menyanyi dan memuji Allah di depan para gembala yang miskin dan sederhana. Para malaikat tidak memyanyi dan memuji Tuhan di depan kalangan istana dan pejabat kerajaan serta orang-orang pandai atau para pemimpin agama. Sebab kemuliaan Allah di tempat yang maha tinggi hanya dikaruniakan kepada orang-orang yang berkenan kepadaNya.

Dalam berita Natal menurut Injil Lukas, kita menemukan beberapa paradoks yang saling terjalin erat, antara yang “natural” dengan “yang supra-natural”, antara “yang manusiawi” dengan “yang ilahi”, antara “kebodohan” dengan “roh hikmat”. Namun jalinan paradoks tersebut memberikan makna yang baru, menyentuh dan memberikan pencerahan, yaitu:
- Di balik rasa takut dan kegentaran yang dahsyat ternyata terdapat janji kesukaan besar.
- Di balik peristiwa yang biasa dan alamiah terdapat sesuatu yang luar biasa, yaitu kehadiran Kristus di tengah-tengah sejarah umat manusia.
- Di balik ketidaktahuan dan kelemahan manusiawi, tersedialah anugerah Allah yang berlimpah sehingga para gembala mengalami penyataan Allah yang memberi pengertian dan pencerahan iman.
- Di balik kehinaan dan kemiskinan manusiawi, hadirlah suatu kemuliaan Allah dari tempat yang maha tinggi.

Makna berita Natal memang bukan hasil pencarian, upaya dan prestasi spiritualitas manusia. Tetapi suatu penyingkapan ilahi sehingga manusia menemukan anugerah Allah yang memampukan mereka untuk mamahami dan mengalami kehadiran Allah yang “transenden” di balik realita kehidupan yang “imanen”. Itu sebabnya para gembala dengan mata iman yang baru kepada teman-temannya yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita” (Luk. 2:15). Mungkin kota Betlehem pada zaman itu seperti kota-kota lain menjadi tempat perdagangan dan persinggahan bagi banyak orang. Tetapi yang membedakan antara para gembala dan banyak orang yang pergi ke Betlehem adalah hanya para gembala yang mampu melihat bahwa di dalam kota Betlehem “telah terjadi” suatu peristiwa istimewa dengan lahirnya seorang Juru-selamat, yaitu Kristus. Setelah mereka sampai di tempat tujuan, mereka menemukan Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di suatu bekas makanan ternak. Saat itulah para gembala menyampaikan segala peristiwa yang mereka alami kepada Maria dan Yusuf. Para gembala yang sehari-hari hanya mampu berbicara perihal hewan peliharaan, dan berbagai persoalan hidup kini mereka diubah oleh Allah. Di depan Maria, Yusuf dan bayi Yesus, para gembala mampu memberikan kesaksian tentang pengalaman hidup yang telah mengubah seluruh paradigma dan keyakinan mereka. Dengan gairah yang baru mereka menyaksikan bagaimana karya dan penyataan Allah yang “luar-biasa dan menakjubkan” telah terjadi dalam kehidupan mereka. Namun mereka tidak kecewa ketika mereka wujud penyataan Allah tersebut dalam bentuk seorang bayi yang biasa dan sangat sederhana. Di kandang Betlehem itu, para gembala mampu melihat kehadiran Allah yang transenden dan yang imanen dalam diri bayi Yesus. Itu sebabnya para gembala kemudian kembali untuk menjadi utusan Allah tentang berita kesukaan besar bagi seluruh bumi. Luk 2:20 berkata: “Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka”.

Para gembala dapat menjadi penyaksi iman dan orang-orang yang memuliakan Allah, karena mereka dengan anugerah Tuhan mampu menyingkapkan dimensi realita sehari-hari yang sering kasar dan keras dengan mata iman yang baru, sehingga mereka menemukan kehadiran Allah yang luar biasa dalam hal-hal yang biasa. Sebaliknya kita sering terjebak oleh rutinitas kehidupan sehari-hari yang menghasilkan kepenatan, kejenuhan, rasa putus-asa dan tiadanya makna hidup. Dalam situasi yang demikian kita sering tidak mampu menyingkap dan “mentransendensikan” rutinitas dan kehidupan sehari-hari untuk melihat kehadiran Allah yang berkarya di tengah-tengah kita. Itu sebabnya kita sering gagal merayakan peristiwa iman dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita tidak mampu mempermuliakan Allah dalam kehidupan nyata setiap hari. Kita beranggapan bahwa tindakan memuliakan Allah hanya dapat terjadi dalam peristiwa ibadah, khususnya dalam peristiwa Natal. Akibatnya di luar perayaan ibadah, hidup kita sama sekali jauh dan terasing dari Allah. Tidak mengherankan jikalau dalam hidup sehari-hari kita sering gagal berperan sebagai para utusan Allah yang menyaksikan karya keselamatanNya. Kehidupan sehari-hari kita tanpa spiritualitas, tanpa iman dan kasih. Sehingga kehadiran dan kehidupan kita sering hanya menimbulkan atau mengakibatkan “ketakutan besar” bagi banyak orang. Padahal ketika kita menyambut panggilan Tuhan dengan berperan sebagai para utusanNya, kita dimampukan dengan kuasa anugerahNya untuk memberitakan “kesukaan besar” bagi sesama. Ini berarti tindakan memuliakan Allah bukan sekedar suatu ritual-ibadah, tetapi suatu kehadiran yang senantiasa menghadirkan syalom, yaitu damai-sejahtera dan keselamatan dari Allah bagi orang-orang di sekitar kita.

Jadi makna memuliakan Kristus berarti kita menghadirkan damai-sejahtera dan keselamatan Allah dari tempat yang tinggi ke situasi hidup sehari-hari yaitu kepada sesama dan orang-orang di sekitar kita. Sehingga melalui kehidupan kita, Allah berperan semakin efektif dan menjadikan kita sebagai para utusanNya untuk memberitakan kesukaan besar. Jika demikian, apakah kita telah memiliki spiritualitas kerendahan hati dan kesederhanaan hidup sebagaimana kehidupan dari para gembala di padang Efrata? Ataukah kehidupan kita terlalu menekankan prestige, kedudukan, kehormatan, pujian dan materialisme sehingga kita tidak pernah memiliki mata iman yang melampaui dan menembus “tembok-tembok area duniawi”? Dalam situasi yang demikian, sesungguhnya Kristus tidak pernah lahir dan mentransformasi kehidupan kita. Tanpa Kristus yang lahir dan membaharui hidup kita, sesungguhnya kekristenan kita telah mati. Kekristenan kita sekedar suatu identitas formal, tetapi kita telah kehilangan roh Kristus. Karena itu marilah kita memuliakan Allah dengan segenap hidup kita, baik melalui perayaan ibadah maupun melalui perayaan hidup sehari-hari. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar