Minggu, 17 Juli 2011

Dibangun diatas dasar yg kokoh


Makna pijakan yang kokoh agar tidak mudah tergoncangkan sebenarnya telah menjadi filosofi dalam sejarah kehidupan manusia. Karena itu filosofi tersebut setua usia manusia seturut dengan proses kesadaran manusia melalui berbagai pengalaman yang pernah terjadi. Berdasarkan pengalaman itu manusia belajar bagaimana harus membangun rumah di atas pondasi yang kokoh agar tidak mudah tergoncangkan oleh angin dan badai. 
Di Mat. 7:24-25, Tuhan Yesus mengilustrasikan sikap orang yang taat kepada firmanNya seperti seorang yang membangun rumah di atas batu: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu”. Pijakan yang kokoh dan tidak tergoncangkan di mana suatu rumah dibangun akan menimbulkan keselamatan dan keamanan bagi penghuninya. Sebab pijakan yang kokoh dan tidak tergoncangkan selalu siap menghadapi ujian angin dan badai. Itu sebabnya pijakan yang kokoh dan tidak tergoncangkan juga dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menjelaskan bagaimana gereja seharusnya berdiri di tengah-tengah dunia.
                Gereja yang didirikan oleh Kristus pada hakikatnya didirikan di atas batu karang yang kokoh. Kepada Petrus yang mengaku Yesus selaku Messias, Anak Allah yang hidup, Tuhan Yesus berkata: “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya”(Mat.  16:18)Kepada Simon yang disebut Kefas, Tuhan Yesus dalam kasus ini memberi suatu sebutan: “Petrus” yang berasal dari kata “petros” (Πέτρος) yang artinya: batu karang. Lalu kepada Simon si “batu karang” itu Tuhan Yesus akan mendirikan gerejaNya di atas batu karangNya. Kata “batu karang” di sini berasal dari kata: “petra” bentuk feminim (πέτρα). Secara sederhana makna Mat. 16:18, mau menyaksikan bahwa melalui sikap iman dari Simon, Tuhan Yesus telah mengubah jati-dirinya menjadi “petros” (si batu karang) dan lebih dari pada itu Tuhan Yesus akan mendirikan jemaatNya di atas batu karang. Di sini terdapat perbedaan esensial antara “petros” dan “petra”. Arti “petros” lebih menunjuk kepada simbol jati diri yang dianugerahkan Kristus kepada Simon yang telah mengaku percaya, dan arti “petra” lebih menunjuk kepada kondisi yang tidak tergoncangkan karena ditopang oleh Kristus sendiri. Tepatnya gereja tidak berdiri di atas “petros”, tetapi di atas “petra”. Dalam pemahaman teologis itulah gereja seharusnya bersandar kepada batu karang yang tidak tergoncangkan yaitu Kristus, dan bukan kepada “petros” yang mudah digoncangkan sehingga dia akhirnya menyangkal Kristus.
Kristus: Batu Karang Yang Tak Tergerakkan
Bait Allah dan kota Yerusalem berdiri di atas gunung Sion atau gunung Moria, tempat di mana Abraham diperintahkan oleh Allah untuk mempersembahkan Ishak (Kej. 22:2). Di II Taw. 3:1 menyatakan: “Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di 
 Yerusalem di gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya, di tempat yang ditetapkan Daud, yakni di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus itu”. Yerusalem dapat berdiri dengan kokoh di atas bukit Moria sebab memiliki pondasi dari batu-batu. Yes. 28:16 menyaksikan: "Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!” Itu sebabnya dalam perjalanan sejarahnya, Yerusalem mampu berdiri dengan kokoh walau berulangkali diserang oleh para musuhnya. Namun perhatian umat Israel sebenarnya tidak semata-mata melihat kekokohan kota Yerusalem karena memiliki batu penjuru yang hebat, tetapi karena Allah sendiri bersemayam di Yerusalem. Mzm. 9:12 berkata: “Bermazmurlah bagi TUHAN, yang bersemayam di Sion, beritakanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa”.  Karena Allah bersemayam di gunung Sion, maka gunung Sion menjadi tempat perlindungan bagi setiap orang yang terinjak dan mengalami kesesakan (Mzm. 9:10). Dengan demikian Yerusalem yang berdiri di bukit Moria menjadi penting dan berarti, karena Allah sendiri bersemayam dan meletakkan dasarnya (Yes. 14:32). Pemahaman teologis inilah yang kemudian dipakai oleh penulis surat Ibrani dalam menempatkan Kristus sebagai tempat yang tidak tergoncangkan. Sebagaimana halnya kota Yerusalem yang berdiri di atas bukit Moria, demikian pula halnya umat percaya yang mau berdiri di dalam Kristus. Mereka tidak akan tergoncangkan sebab berpijak di tempat yang tak tergoncangkan selama-lamanya. Mengutip perkataan Aristoteles, yaitu: “The Unmoved Mover” dalam pengertian baru, sesungguhnya Kristus juga adalah Penggerak yang tak tergerakkan. Kristus yang menggerakkan seluruh ciptaan dan alam semesta ini tetapi Dia sendiri tak tergerakkan. Apabila Kristus sendiri dapat digerakkan atau ditundukkan oleh kuasa dunia ini, maka Dia tidak mungkin mampu menjadi pelindung yang aman dan menyelamatkan bagi setiap orang. Kristus menjadi pelindung yang aman dan Juru-selamat karena Dia adalah sang Firman Allah.
                Namun dalam praktek hidup, umat sering tidak menempatkan Kristus sebagai tempat yang tidak tergoncangkan. Umat lebih memilih para “batu-karang” (petros) yang ditampilkan dalam diri para tokohnya atau orang-orang yang dianggap sangat berjasa dan memiliki pengaruh.  Mereka memang adalah para penggerak yang dipakai oleh Kristus untuk mengembangkan dan menumbuhkan jemaatNya, tetapi mereka sebenarnya hanyalah para penggerak  yang tergerakkan (“moved mover”). Maksudnya mereka memperoleh anugerah dari Tuhan Yesus untuk menggerakkan anggota jemaat atau umat yang belum percaya menerima keselamatan dan kasih-karunia Allah, tetapi mereka tetaplah insan yang serba terbatas dan dipenuhi dengan berbagai kelemahan dan keberdosaan. Kita semua tanpa terkecuali masih mudah “digerakkan” atau dikendalikan oleh berbagai keinginan dan hawa-nafsu duniawi. Bila kita tidak menyadari keterbatasan dan keberdosaan diri kita, maka kita akan menggunakan setiap kesempatan untuk mempermuliakan dan menguntungkan diri mereka pribadi.  Itu sebabnya para penggerak yang tergerakkan ini kadangkala menyalahgunakan otoritas Kristus untuk kepentingan diri dan kelompoknya, sehingga seakan-akan hanya mereka saja yang dipakai oleh Kristus. Sikap mereka yang demikian  pada akhirnya mengaburkan kuasa Kristus yang sesungguhnya sebagai penggerak yang tidak tergerakkan dengan otoritas diri mereka yang hanya sebagai penggerak yang tergerakkan. Sebaliknya bilamana mereka selalu waspada dengan kekurangan dan keberdosaan mereka, maka mereka akan menjadi “penggerak yang tergerakkan” namun diberkati Allah. Pelayanan mereka akan menjadi efektif dan mampu mempermuliakan Kristus. Sebab mereka selaku pelayan Kristus selalu berupaya dengan sekuat tenaga untuk  menghubungkan atau mempertemukan umat dengan Kristus. Tepatnya melalui hidup mereka, mereka dipakai oleh Kristus untuk membawa perjumpaan yang menyelamatkan antara umat dengan Allah. Itu sebabnya melalui hidup mereka, umat dibawa kepada Kristus si batu karang yang tidak tergerakkan dan tidak tergoncangkan.
Kristus: Bukan Allah Yang Menakutkan
Seandainya Kristus tidak berinkarnasi menjadi manusia, maka Allah yang adalah penggerak yang tak tergerakkan atau tak tergoncangkan  tersebut sangatlah mustahil didekati oleh umat manusia. Sebab kekudusan Allah akan menghalangi setiap orang untuk mendekat kepada diriNya. Siapakah yang tahan berdiri di hadapan Allah yang kudus? Surat Ibrani pasal 12:18-21 melukiskan bagaimanakah ketidakmungkinan atau kemustahilan bagi umat untuk berhadapan dengan Allah yang 
 kudus itu. Di Ibr. 12:18-19 menyatakan bagaimana Allah hadir di gunung Sinai, dan gunung Sinai tersebut mengeluarkan api yang menyala-nyala disertai halilintar, awan padat dan angin badai. Semua gejala alam tersebut merupakan respon terhadap kehadiran Allah yang maha dahsyat. Kekudusan dan keagungan Allah memancar melalui semua fenomena alam yang begitu menakutkan dan menggetarkan. Itu sebabnya di Ibr. 12:20 umat tidak tahan menghadapi kehadiran Allah yang dahsyat itu dan mereka tidak sanggup mendengar firmanNya yang menggoncangkan. Bahkan Musa yang diberi anugerah Allah untuk mampu berdiri di hadapanNya , saat itu juga mengalami ketakutan. Ibr. 12:21 menyaksikan bagaimana kondisi yang menakutkan itu termasuk diri Musa, yaitu: “Dan sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata: "Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar".  Allah yang adalah penggerak yang tak tergoncangkan juga adalah Allah yang kudus dan dahsyat. KehadiranNya mampu menggoncang dan membakar bumi, termasuk  pula langit. Ibr. 12:26 berkata: “Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga". Kehadiran Allah yang dahsyat dan mampu menggoncang seluruh alam semesta termasuk bumi dan seisinya, mau menegaskan bahwa Dialah satu-satunya Pencipta yang menguasai dan menggerakkan seluruh ciptaanNya serta kekudusanNya selalu membakar segala hal yang jahat dan berdosa. Namun di sisi lain, Allah yang adalah penggerak dan tak tergoncangkan serta menghanguskan tersebut akan menjadi Allah yang tidak “empatis” atau jauh dari sikap belas-kasihan. Dia hanya mampu menghukum dan membinasakan, tetapi mengabaikan keselamatan umatNya.  Jika Allah adalah api yang menghanguskan, maka anugerah  keselamatanNya menjadi suatu kemustahilan. Itu sebabnya melalui Kristus, sang Firman Allah berkenan berinkarnasi menjadi manusia sehingga kekudusanNya yang menghanguskan juga menjadi keselamatan yang menyembuhkan.
                Selaku tubuh Kristus, gereja dipanggil untuk memberitakan kekudusan Allah yang menghanguskan kepada dunia ini sekaligus juga gereja dipanggil untuk memberitakan rahmat dan keselamatan Allah di dalam penebusan Kristus. Umat manusia yang kini terasing oleh belenggu dosa perlu dibawa kepada kekudusan Allah yang menghanguskan sekaligus mempesona karena kuasa kasihNya. Dosa harus dibinasakan, tetapi kehidupan manusia diselamatkan. Kita diingatkan akan pemikiran Rudolf Otto dalam bukunya yang sangat berpengaruh yaitu “Das Heilige” (tahun 1917) yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris, yaitu: “The Idea of the Holy”  (tahun 1923). Di hadapan kekudusan Allah, umat manusia mengalami suatu misteri akan kedahsyatan Allah yang menggetarkan, dan juga misteri akan keterpesonaan Allah yang begitu agung dan indah. Itu sebabnya kesadaran dan pengalaman akan kekudusan Allah demikian dinyatakan Rudolf Otto dengan: “mysterium tremendum et fascinans”. Manusia dapat mengalami kehadiran Allah sebagai yang suci, menggetarkan dan mempesona. Melalui kehadiran Kristus, kesucian Allah termanifestasi dalam hidupNya yang tanpa cela, kuasa mukjizat dan pengajaranNya yang menggetarkan dan kuasa kasih atau bela-rasaNya yang mempesona. Itu sebabnya melalui Kristus, umat manusia tidak lagi berada dalam situasi kemustahilan untuk berjumpa dengan Allah yang kudus. Sebaliknya melalui Kristus, umat manusia diperkenankan untuk berjumpa dengan Yang Ilahi. Sebab Kristus adalah pengantara perjanjian yang baru. Di Ibr. 12:24 menegaskan: “dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel”.  Sebagai pengantara perjanjian baru, Kristus menjadi satu-satunya penghubung yang menjembatani kondisi keberdosaan umat dengan diri Allah yang menghanguskan. Yang mana darah yang ditumpahkan di bukit Golgota lebih kuat dari pada darah Habel yang menuntut pembalasan. Darah atau hidup Kristus justru menggemakan pengampunan Allah yang tanpa batas kepada umat yang berdosa.
Kristus: Allah yang Berempati dan Peduli
Di Luk. 13:10-17 menyaksikan  Tuhan Yesus yang sedang mengajar pada hari Sabat di salah satu rumah ibadah/sinagoge. Ketika Tuhan Yesus mengajar, Dia melihat seorang perempuan yang telah 18 tahun sakit bungkuk di punggungnya. Luk. 13:12-13 memberi kesaksian demikian, yaitu: “Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: Hai ibu, penyakitmu telah sembuh. Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah”.Disaksikan bahwa “ketika” Tuhan Yesus melihat perempuan itu, Dia segera 
memanggil dan menyembuhkan ibu yang sedang sakit bungkuk di punggungnya. Artinya waktu itu Tuhan Yesus sedikitpun tidak menunda-nunda pertolongan kepada ibu yang telah 18 tahun sakit bungkuk di punggungnya.  Jadi saat Tuhan Yesus melihat wanita yang bungkuk itu, Dia segera menyembuhkan wanita tersebut pada hari itu juga, yang kebetulan hari itu adalah Sabat. Di Luk. 13:14 menyaksikan kepala rumah ibadah itu menjadi sangat gusar karena Yesus menyembuhkan wanita itu pada hari Sabat. Kegusaran kepala rumah ibadat tersebut sebenarnya cukup rasional, yaitu apakah wanita yang telah sakit 18 tahun tidak bisa ditunda penyembuhannya  beberapa hari lagi. Bukankah wanita tersebut telah terbiasa dengan sakit bongkoknya selama 18 tahun? Mengapa sepertinya Yesus tidak “sabar” atau menahan diri untuk menyembuhkan wanita tersebut pada hari Sabat? Di Luk. 13:15-16, Tuhan Yesus memberi jawaban, yaitu: "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?" Orang-orang Farisi dan ahli Taurat  pada zaman itu mempunyai kebiasaan untuk melepaskan hewan peliharaannya mereka pada hari Sabat, tetapi mereka waktu itu melarang Tuhan Yesus melepaskan penderitaan seorang wanita pada hari Sabat. Dengan pola berpikir yang serba legalistis dan dangkal dapat membuat seseorang memiliki anggapan bahwa “hewan peliharaannya” atau harta miliknya lebih penting dan lebih berharga dari pada keselamatan dan kebahagiaan sesamanya. Mereka melupakan bahwa wanita tersebut sama seperti mereka yaitu keturunan Abraham.
                Kepala rumah ibadat itu secara hukum memang telah bertindak benar, karena dia ingin menegakkan kekudusan hari Sabat. Tetapi makna kekudusan hari Sabat ternyata dilepaskan dari konteks nilai keselamatan sesama yang sedang menderita. Padahal kekudusan hari Sabat akan bermakna saat ditempatkan dalam kekudusan Allah yang telah mencipta manusia menurut gambar dan rupaNya. Karena itu harkat  dan nilai manusia diciptakan untuk menjadi kudus. Hukum hari Sabat dikaruniakan Allah untuk keselamatan dan kesejahteraan manusia. Karena itu hukum hari Sabat diciptakan untuk membela kemanusiaan manusia, dan bukan untuk merendahkan atau meremehkannya. Di Mark. 2:27, Tuhan Yesus berkata: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat”. Karya Tuhan Yesus yang menyembuhkan wanita yang bongkok selama 18 tahun pada hakikatnya merupakan manifestasi dari tindakan Allah yang memulihkan harkat kemanusiaannya. Karena itu tindakan Tuhan Yesus yang menyembuhkan wanita bongkok pada hari Sabat, bukanlah pelanggaran terhadap kekudusan hari Sabat. Sebaliknya tindakan Tuhan Yesus yang menyembuhkan wanita bongkok tersebut justru telah menempatkan kekudusan hari Sabat di tempat yang paling agung. Karena melalui tindakan penyembuhan itu, Kristus menyatakan secara nyata bahwa Allah itu peduli dan berempati.  Di Yes. 58:13, Allah berfirman: “Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus TUHAN "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong”. Makna kekudusan hari Sabat ditandai oleh sikap tidak egois yang hanya memperhatikan urusan pribadi dan melakukan hal yang sia-sia. Hari Sabat seharusnya menjadi hari yang memancarkan anugerah keselamatan Allah.Setiap umat seharusnya semakin peduli dan berempati saat mereka merayakan hari Sabat, sehingga keselamatan dan pemulihan Allah terwujud nyata.
Kristus: Penyembuh yang Membuka Perspektif Baru
Karya mukjizat yang dilakukan oleh Kristus tidak seluruhnya dilakukan dalam waktu yang sifatnya segera. Dalam kasus Lazarus, Tuhan Yesus sengaja tidak segera menyembuhkan Lazarus yang sedang sakit. Baru setelah 2 hari kemudian, Tuhan Yesus datang menengok dan membangkitkan Lazarus yang telah meninggal. Tetapi di Luk. 13:11-13, menyaksikan bahwa Tuhan Yesus segera menyembuhkan wanita yang bongkok itu. Apa alasan atau motif  utama Tuhan Yesus menyembuhkan wanita yang bongkok selama 18 tahun itu? Seorang yang bongkok akan cenderung melihat segala sesuatu dari sudut 
 pandang yang terbatas. Bila bongkoknya sampai 45 derajat, maka dia hanya mampu melihat tanah atau jalan yang dilewatinya. Dia tidak mampu melihat sesama atau pemandangan yang terjadi di depan mata seperti orang-orang yang tegak tubuhnya. Dengan demikian seorang yang bongkok merupakan simbol dari manusia yang terbelenggu  jangkauan perspektif hidupnya dan dalam kondisi yang tertindas. Mereka tidak mampu menangkap dan menafsirkan realitas kehidupan secara lebih utuh dan luas. Selain itu mereka selalu berada di posisi yang lemah dan tidak berdaya. Luk. 13:13 menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus memulihkan: “Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah”.  Wanita yang bongkok itu kemudian mampu berdiri tegak dan berdiri secara normal dengan reaksi memuliakan Allah. Setelah 18 tahun dalam keadaan bongkok, wanita tersebut kini mampu memandang realitas dari sudut pandang yang lebih luas dan utuh. Dia juga tidak lagi berada dalam situasi tertindas, karena dia kini mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan sesamanya. Pemulihan Kristus tersebut merupakan peristiwa yang membebaskan dia dari penderitaan yang telah menyiksanya salama 18 tahun.
                Selaku gereja Tuhan, kita dipanggil untuk membebaskan sesama dari “kebongkokan spiritualitas”. Tetapi kita sering bersikap seperti kepala rumah ibadat yang mencegah Allah untuk membebaskan sesama yang terbelenggu oleh “kebongkokan rohani”.  Secara tidak sadar kita sering mencegah Allah untuk melakukan pemulihan dalam momen-momen liturgis yang dianggap sakral. Karena itu peristiwa ibadah Minggu, sakramen baptis dan perjamuan kudus, dan hari-hari raya  gerejawi sering dilepaskan dari nilai harkat dan kemanusiaan kita. Kita begitu mementingkan liturgi dan peraturannya tetapi mengabaikan umat yang menjadi pelaku dalam seluruh liturgi tersebut. Itu sebabnya kita sering mengabaikan unsur  yang hakiki, apakah umat yang terlibat dalam seluruh rangkaian liturgi tersebut telah mengalami pemulihan dan pembebasan dari “kebongkokan rohani”. Di lain pihak, umat juga sering memiliki sikap yang sama, yaitu mereka merasa telah benar di hadapan Allah asalkan telah melaksanakan ibadat tanpa mempertimbangkan apakah ibadat tersebut telah membawa perubahan dan pembaharuan dalam kehidupan pribadinya dengan sesama di sekitarnya. Kondisi “kebongkokan rohani”  secara esensial sangatlah berbahaya. Seorang yang bongkok secara rohani akan menjadi picik dan tidak mampu berpikir luas menurut ukuran Kristus. Mereka mengukur segala sesuatu dari keterbatasan perspektifnya. Dengan sikap yang demikian, mereka tidak akan mampu untuk bersandar kepada Kristus yang tak tergoncangkan. Sebab perspektif yang bongkok akan mendorong seseorang untuk merendahkan atau “membongkokan” harkat orang lain sehingga melumpuhkan daya perspektif sesama untuk melihat keagungan dan kuasa Allah yang tak tergoncangkan. Dengan kata lain, pemulihan dari “kebongkokan rohani” akan memampukan seseorang untuk juga membuka dan memberdayakan sesama dari “kebongkokan rohani”, sehingga mereka bersama-sama mampu berinteraksi dalam kasih dan memuliakan Allah.
Panggilan
Kekuatan jemaat-jemaat Tuhan bukan berdasarkan pada kekuatan organisasi, dana dan sumber dayanya tetapi dari Kristus yang adalah Tuhan yang tak tergoncangkan oleh alam maut. Karena itu gereja Tuhan termasuk Gereja Kristen Indonesia tidak boleh bersandar kepada sistem organisasi, dana dan kepandaian manusia yang berada di dalamnya. Mereka semua 
 rapuh dan mudah tergoncangkan. Gereja Tuhan tidak boleh berpijak di atas “petros” (manusia batu karang), tetapi seharusnya berpijak kepada Kristus, sang “petra” atau Kristus yang adalah batu penjuru yang kekal. Kecenderungan untuk mengkultus-individukan seseorang atau sekelompok orang bukan hanya harus dihindari tetapi secara sengaja harus disingkirkan. Karena itu yang utama dari spiritualitas yang berpijak kepada yang tak tergoncangkan adalah fokus hidup setiap umat tertuju kepada Kristus. Fokus hidup tersebut akan memampukan setiap umat untuk mengalami kehadiran diri Allah yang empatis dan berbela-rasa. Umat juga akan mengalami karya pemulihan Allah yang membebaskan diri mereka dari situasi “kebongkokan spiritualitas”.
            Selain itu kita selaku jemaat Tuhan yang berjuang di tengah-tengah dunia ini juga tidak boleh menyerah ketika kita dihambat untuk melaksanakan karya keselamatan Allah. Sebagaimana Kristus juga dihambat oleh kepala rumah ibadat, maka gereja Tuhan juga akan mengalami penghambatan atau penolakan oleh kuasa dunia ini. Sejauh kita selaku gereja Tuhan sungguh-sungguh konsisten untuk setia kepada panggilan kita menghadirkan karya keselamatan Allah di tengah-tengah kehidupan umat manusia, kita tidak boleh kecil hati atau gentar ketika kita dihambat atau dirintangi. Karena itu kita harus tahu secara persis dan obyektif apakah rintangan atau hambatan tersebut disebabkan oleh pola pendekatan dan pola komunikasi kita yang kurang bijaksana, ataukah memang hambatan tersebut terjadi karena kita konsisten dengan nilai-nilai iman Kristen  yaitu sikap kasih sebagaimana yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus.
                Jika demikian seluruh jemaat kita kini dipanggil untuk senantiasa konsisten dalam memberlakukan kasih dan keadilan dengan membela setiap orang yang tertindas dan lemah tanpa mempedulikan latar-belakang suku, etnis dan agama. Sehingga melalui pelayanan jemaat kita dimampukan untuk membebaskan sesama yang mengalami “kebongkokan rohani” dan membawa setiap orang untuk bersandar kepada Kristus yang tak tergoncangkan. Jika panggilan ini dapat terwujud maka kita dapat menjadi jemaat yang membawa rahmat Allah dan pembebas bagi sesama kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar