Minggu, 06 Mei 2012



" REAL MINISTRY "
Belajar Melayani TUHAN dari YUSUF ARIMATEA


Eksposisi Matius 27 : 57 - 61

Adalah kehormatan besar jika kita dipanggil Allah untuk melayani Dia dengan serius,  tulus dan kerendahan hati bekerja dalam rencanaNya. Namun nampaknya nyaris sangat sulit mendapatkan sosok yg bertenaga besar, sungguh bergiat tanpa pamrih memiliki keberanian berjuang bagi Kristus.  Fenomena pelayanan telah berubah wajah menjadi jabatan publik yg bergengsi, profesi yg menjanjikan kemapanan, cara mudah untuk mendapatkan fasilitas dan kemakmuran bahkan tidak kalah dengan selebritis.
Pelayanan sangat rentan berubah arah dari ekspresi hati yang seharusnya MEMBERI HIDUP kepada Tuhan bergeser menjadi metode jitu dari ambisi untuk MENDAPATKAN SEBANYAK MUNGKIN dari pekerjaan Tuhan.!!!!


Belajar pada Yusuf Arimatea yg meneladankan model pelayanan yg sejati


Latar belakang:
Hari Sabat kurang tiga jam lagi dari peristiwa kematian Tuhan Yesus  yg terjadi pada jam 3 sore, hari Jumat, sehingga hanya tersisa rentang waktu 3 jam saja Sabat orang Yahudi akan tiba, persoalannya:  siapakah yang berani tampil untuk menurunkan Yesus dari atas kayu salib selanjutnya menguburkanNya?
Bukan persoalan sederhana untuk mengambil bagaian dalam pelayanan sunyi, pelayanan rugi, dan pelayanan beresiko tinggi !!!!!
Sebagai catatan : 
a. Hukuman salib Tuhan Yesus bukanlah didasarkan atas tuduhan krimininal murni melainkan dituduh sebagai pelaku pemberontakan. Jadi mereka yang berani maju dapat dianggap sebagai kelompok seorang pemberontak yg pantas diganjar hukuman.
b. Pontius Pilatus adalah pemangku kekuasaan yg dipercaya Romawi, sehingga seluruh prosedural hukum dan administrasi harus melewati tangan Pontius Pilatus. Hanya dengan ijin Pilatus saja mayat Tuhan Yesus boleh diturunkan. Andaikata para murid berhasrat menurunkan mayat Tuhan Yesus, mereka juga harus mengikuti prosedur tersebut, namun mereka tidak punya akses dan bargaining posisi untuk menemui Pontius Pilatus. Hanya orang-orang beragama tingkat atas yang memiliki kekuatan akses tersebut, seperti: Imam Besar, Sanhedrin (Mahkamah Agama)
c. Pilatus sendiri tidak menyangka kalau Yesus akan mati secepat itu (hanya dalam waktu 6 jam) karena biasanya orang yang disalib akan mati secara perlahan dalam waktu 3 sampai 5 hari. Penjahat yang disalibkan di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus dipotong kakinya supaya dapat mati sebelum Sabat. 
Pilatus tidak siap hati untuk menyelesaikan urusan ini, maka dia memberi izin kepada Yusuf dari Arimatea untuk mengurus penguburan Tuhan Yesus.  


Pribadi Yusuf Arimaea

Nama Yusuf dari Arimatea belum pernah disebutkan sebelumnya dalam Alkitab. Injil Yohanes hanya mencatat bahwa dia adalah murid yang tersembunyi dari Tuhan Yesus. Dia adalah anggota dari Sanhedrin, yang sama dengan Nikodemus, dia melihat Tuhan Yesus berbeda sehingga dia terus menerus mempelajari dan memikirkan hal ini. Cara pikir dia berbeda dengan teman-temannya yang lain dalam Sanhedrin. Orang-orang lain dalam Sanhedrin berpikir dari sudut kepentingan manusia, sedangkan Yusuf dari Arimatea menganggap Yesus bukanlah orang biasa. Hanya 2 orang di antara sekian banyak orang dalam Sanhedrin yang mengerti tentang Tuhan Yesus. Yusuf dari Arimatea mengalami situasi yang cukup sulit sebagai orang percaya yang berada di tengah-tengah lingkungan yang melawan, tetapi imannya tidak goyah.

Yusuf dari Arimatea tersimpan oleh Tuhan sampai pada satu waktu di mana dia harus muncul. Dia harus muncul pada waktu harus menghadap Pilatus. Momen ini merupakan momen luar biasa karena tidak ada orang lain yang bisa masuk menghadap Pilatus untuk menyelesaikan penguburan Tuhan Yesus. Allah mempersiapkan Yusuf selama bertahun-tahun untuk momen ini.
Sampai hari ini tidaklah ditemukan letak Arimatea. Hal ini menunjukkan bahwa Arimatea bukanlah tempat yang terkenal, bahkan mungkin sangatlah kecil. Alkitab hendak menunjukkan bagaimana Allah membawa Yusuf dari tempat terpencil menuju ke Yerusalem, lalu membangun karir di Yerusalem sampai menjadi anggota Sanhedrin. Untuk menjadi anggota Sanhedrin bukanlah urusan sederhana. Dia haruslah orang Farisi yang terseleksi. Yusuf bukan hanya mencapai puncak dalam karir agama dan politik, melainkan juga dalam hal ekonomi, sehingga dia bisa membuat kuburan batu di tengah kota Yerusalem, yang harga tanahnya sangatlah tinggi. Dalam persiapan yang Tuhan kerjakan atas diri Yusuf, Yusuf sendiri tidaklah menyadari bahwa dia membuat kuburan untuk Tuhan Yesus. Pada saat momen itu tiba, Yusuf baru menyadari bahwa semuanya itu bukanlah untuk dirinya sendiri.
Kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki oleh Yusuf membuat Pilatus maupun anggota Sanhedrin lainnya tidak berani melawan. Inilah salah satu cara Tuhan. Kita dapat melihat di sepanjang cerita Alkitab bagaimana Tuhan mempersiapkan orang yang hendak dipakai-Nya dalam waktu bertahun-tahun. Semua perlengkapan yang Tuhan berikan kepada manusia, bukanlah untuk kepentingan manusia itu melainkan pada saatnya nanti semuanya harus kembali untuk kepentingan Tuhan. Tuhan sedang memakai anak-anak-Nya, termasuk kita semua.
Kita harus dapat melihat kontradiksi antara presuposisi Kristen dengan presuposisi non-Kristen. Gerakan Zaman Baru yang menyusup ke dalam kekristenan telah mengakibatkan munculnya orang Kristen yang memiliki semangat materialis dan humanis, yang hanya memikirkan keuntungan diri, kehebatan diri dan uang. Untuk mencapai ini, Gerakan Zaman Baru menggunakan format kesaktian. Semua kesaktian yang diperoleh berujung untuk kepentingan diri. Hal ini sangatlah kontras dengan Yusuf dari Arimatea, dimana semua yang Tuhan perlengkapkan kepada dia pada saatnya dia kembalikan untuk kepentingan Tuhan.
Ketika kita belajar dari orang-orang yang Tuhan pakai maka kita tidak akan memboroskan waktu yang Tuhan berikan. Kita harus belajar membuang semua ambisi kita agar kita bisa menjadi alat Tuhan.


Tuhan persiapkan Musa selama 40 tahun di Kerajaan Mesir 
karena nantinya Musa harus menggiring 2 juta orang keluar dari Mesir menuju ke Kanaan; hal ini sama dengan memimpin pasukan yang sangat besar yang memerlukan pengaturan logistik, manajemen, dll. Setelah itu Musa masih harus menjalani persiapan selama 40 tahun kedua di padang gurun dengan menggembalakan domba. Hal ini untuk mempersiapkan Musa supaya mengenali medan dimana nantinya dia akan berkiprah, dan dia nantinya akan berurusan dengan “kawanan domba” bukannya tentara. Orang Israel lebih mirip domba daripada tentara. Domba adalah binatang yang tidak bisa apa-apa tetapi sok tahu luar biasa. Jadi Musa dipersiapkan Tuhan selama 80 tahun sebelum menjalankan tugas dari Tuhan. Semua modal yang Tuhan berikan kepada Musa adalah untuk kepentingan Tuhan pada saat yang Tuhan tentukan.

Daud, Yeremia, Habakuk, dan juga Paulus juga dipersiapkan Tuhan sedemikian rupa. Paulus dididik oleh Gamaliel sampai mengerti Taurat sedemikian sehingga dia menjadi orang Farisi, karena nantinya dia harus mengerti benar prinsip Taurat orang Israel. Paulus dibesarkan di Tarsus yang terbuka terhadap filsafat Yunani karena nantinya dia harus melayani orang non-Yahudi. Setelah itu Tuhan masih menyimpan dia selama 12 tahun sampai dia benar-benar mengerti prinsip iman Kristen.
Semua perlengkapan yang kita dapatkan, seperti: kepandaian, ketrampilan, uang, kesempatan, dll, bukanlah milik kita; semuanya itu harus dikembalikan kepada Tuhan pada saatnya Tuhan. Yusuf dari Arimatea disimpan oleh Tuhan untuk momen penguburan Yesus.

Sembari Tuhan persiapkan Yusuf, iman sangatlah memegang peranan. Yusuf yang semula adalah murid Tuhan yang tersembunyi, harus berani menyatakan diri pada saat Tuhan mau memakai dia. Hal ini sangatlah beresiko bagi dia karena dia akan dianggap sebagai pengkhianat dalam Sanhedrin. Orang Yahudi tidak akan membiarkan hidup orang yang mengganggu keberadaannya, dan salah satu orang yang sudah dimatikan adalah Tuhan Yesus. Inilah iman Yusuf, dia rela meresikokan nyawanya sekalipun demi untuk Tuhan Yesus. Orang yang kaya jika berkorban adalah lebih sulit daripada orang yang miskin jika berkorban. Karir yang sudah dirintis puluhan tahun, kekayaan yang sudah diperolehnya harus rela dilepaskannya, bahkan nyawanya sekalipun.
Sebagai Saulus, hidup jauh lebih enak karena punya kedudukan, punya kuasa, dihormati banyak orang; tetapi sebagai Paulus, hidup jauh lebih tidak enak karena dipukuli, dimasukkan penjara, bahkan mati sebagai martir. Saulus bukanlah anak Tuhan, orang yang sangat jahat, orang binasa; sedangkan Paulus adalah anak Tuhan yang beroleh anugerah Tuhan. Sebagai orang Kristen sejati, seharusnya kita berani menanggung resiko dalam menjalankan misi Tuhan. Sebagai orang Kristen sejati yang berdiri dalam kebenaran, jangan pernah kita mengorbankan kebenaran dan mengikuti yang salah, justru kita harus dapat membawa yang salah kepada yang benar.

Yusuf dari Arimatea telah mengambil langkah yang sangat dahsyat di dalam iman.
Dia muncul bukan pada saat Yesus lagi naik daun melainkan ketika Yesus sudah mati. Secara logika manusia, apa yang didapatkan oleh Yusuf dengan membela mayat, bukankah hanya kerugian semata? Mata Yusuf melihat beda dengan mata orang lain melihat. Situasi kengerian tengah ada dalam Sanhedrin pada waktu itu karena terngiang di telinga mereka perkataan Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa Dia akan bangkit pada hari ketiga. Mereka tengah memikirkan cara untuk menutupi isu kebangkitan Yesus. Yusuf justru tenang karena dia yakin bahwa Yesus memang akan bangkit, bukan murid-murid-Nya yang akan mencuri mayat-Nya. Yusuf yakin bahwa yang dilakukannya bukan untuk mayat tetapi untuk Tuhan Yesus yang akan bangkit. Inilah masalah iman, dimana pikiran manusia bisa sejalan dengan pikiran Tuhan. Sebagai anak Tuhan seharusnya kita bisa masuk ke jalur itu, dimana cara pikir kita sejalan dengan pikiran/ kehendak Tuhan dan melihat sebagaimana Tuhan melihat.



Walaupun Yusuf, orang Arimatea, adalah pribadi yang sangat terhormat; salah seorang anggota Majelis Besar (Sanhedrin) pada waktu itu (43), secara diam-diam ia mengagumi akan karakter Yesus dan pengajaran-Nya.
Perasaan kagum dan hormat yang bercampur menjadi satu ini memberikan kepadanya keberanian tersendiri untuk menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Ia ingin memberikan perlakuan yang spesial bagi Yesus. Pertama, Yusuf "membeli kain lenan." Bukan lenan biasa, melainkan lenan baru yang terbaik untuk Sang Tuhan. Kedua, Yusuf "menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu." Apa yang dilakukan Yusuf menunjukkan kasihnya yang tanpa pamrih. Ketiga, Yusuf "membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu." Yusuf memberikan penghormatan tertinggi setelah Yesus menerima penghinaan yang terendah di atas kayu salib. Keempat, Yusuf "[menggulingkan] sebuah batu ke pintu kubur itu." Tindakan itu sebenarnya sangat umum dilakukan pada masa itu di kalangan orang Yahudi. Yang menjadi tidak umum adalah tindakan penggulingan batu itu dilakukan oleh Yusuf seorang diri yang adalah orang terkemuka. Ia bisa saja menyuruh orang lain yang melakukannya. Yusuf ingin memberikan penghormatan yang tertinggi bagi Yesus dengan tangannya sendiri. Dalam pelayanan, berapa banyak "anggota Majelis Besar yang terkemuka" yang rindu untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada Yesus dengan "tangannya sendiri"?
Sungguh miris melihat fenomena pelayanan "out-sourcing" yang terjadi di kalangan gereja tertentu saat ini. Mereka ingin memberikan penghormatan yang tertinggi pada Yesus, tetapi enggan melakukannya dengan tangan sendiri. Mereka memilih menggelontorkan dana dan membiarkan orang-orang "out-sourcing" yang melakukannya di lapangan. Mudah-mudahan Anda dan saya memilih meneladani Yusuf dari Arimatea, yang tulus melayani Yesus dengan "tangannya sendiri."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar