Minggu, 15 Januari 2012

Masih Relevankah Kutuk Keturunan ?

“Sebuah Evaluasi Singkat Terhadap Ajaran Kutuk Keturunan”
Apakah ajaran kutuk Keturunan ini Alkitabiah?
  • “Ya”, kata beberapa pelayan Injil seperti Neil Anderson dan Marilyn Hinckey.
Dasar Alkitab yang paling sering mereka gunakan:
  • Keluaran 20: 5 - “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku…”
Tanda-tanda dari mereka yang mengalami “kutuk keturunan”:
Biasanya para penganjur kutuk keturunan menggunakan Ulangan 28: 15-46 sebagai ayat pendukung. Derek Prince sebagai contoh, menyebutkan beberapa tanda yang menunjukkan adanya kutuk dalam diri seseorang adalah: (1) Gangguan kejiwaan atau emosi; (2) Penyakit menahun atau kambuhan; (3) Kemandulan, keguguran yang berlangsung berkali-kali dan penyakit kewanitaan; (4) Kehancuran rumah tangga dan keretakan dalam hubungan keluarga; (5) Kemiskinan; (6)Sering mengalami kecelakaan; (6) Banyaknya kasus bunuh diri dan kematian yang tidak wajar atau mati muda dalam suatu keluarga.
Evaluasi terhadap pandangan ajaran “kutuk keturunan”
· Tentang Keluaran 20:5. Para penganut ajaran kutuk keturunan biasanya hanya membaca ayat ini saja, tanpa menghiraukan konteks pembicaraan yang lebih luas. Memang benar dalam ayat ini Allah digambarkan sebagai Allah pencemburu yang membalaskan murkanya pada keturunan keeempat dan kelima. Namun perhatikan baik-baik, obyek dari murka Allah adalah para penyembah berhala, bukan orang percaya. Apa yang terjadi bila keturunan para penyembah berhala berpaling kepada Allah, secara otomatis kutuk tersebut dianggap tak berlaku. Perhatikan baik-baik ayat 6! Allah digambarkan sebagai Allah yang penuh kasih karunia yang menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang yang mengasihi dia dan berpegang pada perintah-perintahNya. Ayat ini secara otomatis diberlakukan kepada mereka, meski nenek moyang mereka berdosa di hadapan Allah.
· Sebuah ajaran tidak boleh diangkat dari satu bagian dari Alkitab dan melupakan bagian-bagian yang lain dari Alkitab. Perhatikan Yeh. 18: 22-32. “…Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya.” Di sini terdapat sebuah perikop yang dengan tegas menyanggah adanya ide tentang kutuk keturunan.
· Perjanjian Baru dengan lebih tegas memberikan gambaran bahwa hidup dari orang-orang beriman adalah hidup yang benar-benar merdeka (Yoh 8: 36) karena kutuk yang harus mereka tanggung telah ditanggung sepenuhnya oleh Yesus Kristus (Gal 3:13).
Kesimpulan:
· Ajaran kutuk keturunan kurang bisa dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah. Lalu pertanyaannya adalah: “kenapa populer?” Di sini, penjelasan psikologis dan sosiologis mungkin bisa memberikan jawaban. Manusia modern adalah manusia yang hidup dalam suasana kehidupan yang serba cepat, yang menawarkan solusi “instant” atas segala masalah. Kehidupan Kristen pada kenyataannya tidak melepaskan kita dari segala macam problema kehidupan. Kita sudah Kristen, kenapa tetap kekurangan. Kita sudah Kristen kenapa mengalami perceraian. Kita sudah Kristen kenapa kita mengalami kemalangan. Kita sudah Kristen kenapa tetap sakit. Solusi yang paling cepat dan masuk akal terhadap masalah ini bagi orang Kristen modern adalah: karena anda masih terikat dengan kutuk! Jadi mari kita patahkan kutuk itu, supaya masalah tuntas tas! Padahal problema sesungguhnya belum tentu pada apa yang dipercayai sebagai kutuk itu sendiri. Problema perceraian dalam rumah tangga Kristen sebagai misal, alih-alih disebabkan oleh “kutuk”, lebih disebabkan oleh gaya hidup modern kita yang cenderung materialistis dan kurang mementingkan hubungan antar-pribadi.
· Hal yang tak kalah pentingnya adalah kecenderungan dari tiap manusia untuk menolak penimpahan kesalahan pada dirinya sendiri. Ketika dia gagal, dia cenderung untuk mencari obyek dari kegagalannya. Yang paling muda dijadikan “kambing hitam” di sini adalah adanya “kutuk”.
· Yang terakhir, yang perlu kita camkan adalah kecenderungan manusia untuk memahami segala-segalanya dan penolakannya untuk merangkul misteri. Padahal kehidupan itu sendiri penuh misteri. Ketika manusia menuruti obsesinya ini, maka ia akan cenderung untuk menjelaskan segala sesuatu, bahkan yang tak terjelaskan. Kenapa orang benar menderita? Kenapa orang beriman mengalami kemalangan?” Alkitab tidak memberikan jawaban yang definitif. Yang ada adalah jawaban yang samar. Yang ada adalah sebuah misteri. Yang ada adalah bukannya jawaban terhadap pertanyaan “why (mengapa) kita mengalami ini semua padalah kita orang beriman?” tetapi “how (bagaimana) kita menghadapi ini semua sebagai orang beriman?”. Anehnya penginjil-penginjil masa kini berusaha menyederhanakan masalah ini dengan sebuah jawaban yang terlalu naif: - adanya kutuk! Dengan jawaban ini, mereka mungkin mampu memuaskan keingintahuan sebagian dari kita. Tapi sayang dengan menolak “misteri kehidupan” mereka tidak berjalan dalam jalan yang ditempuh penulis-penulis kitab suci dengan berani merangkul misteri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar