Minggu, 22 Januari 2012

Gong Xi Fa Cai


Apa itu Imlek? Imlek tak ubahnya seperti tahun baru masehi atau tahun baru Hijriah bagi umat Islam. Imlek adalah Tahun Baru Cina. Pada umumnya, yang banyak merayakan Imlek adalah warga Tiongha. Namun bagi umat lain yang beraliran sama juga bisa merayakan Hari Raya Imlek. Tahun ini jatuh pada Senin, 23 Januari 2012 atau Imlek 2563 bagi orang Cina.
IMLEK di berbagai belahan manapun dimaknai sebagai tradisi pergantian tahun. Sehingga yang merayakan Imlek ini seluruh etnis Tiongha apapun agamanya. Setidaknya pengakuan itu disampaikan Sidharta, Ketua Walubi, masyarakat Tiongha Muslim yang juga merayakan Imlek.
Imlek disebut dengan Chung Ciea yang berarti Hari Raya Musim Semi. Hari Raya ini jatuh pada akhir bulan Januari dan bila di negeri Tiongkok, Korea dan Jepang ditandai dengan berakhirnya musim dingin. Dulunya, negeri Tiongkok dikenal sebagai negara agraris. Setelah musim dingin berlalu, masyarakat mulai bercocok tanam dan panen. Tibanya masa panen bersamaan waktunya dengan musim semi, cuaca cerah, bunga-bunga mekar dan berkembang.
Lalu musim panen ini dirayakan oleh masyarakat. Kegembiraan itu tergambar jelas dari sikap masyarakat yang saling mengucapkan Gong Xi Fa Cai, kepada keluarga, kerabat, teman, dan handai taulan. Gong Xi Fa Cai artinya selamat dan semoga banyak rezeki.
Adat ini kemudian dibawa oleh masyarakat Tiongha ke manapun dia merantau, termasuk ke Indonesia. Dulunya, pada masa Bung Karno, perayaan ini boleh dirayakan tapi ketika masa Orde Baru, perayaan Imlek dibatasi. Presiden Soeharto mengeluarkan SK yang isinya mengizinkan, namun dirayakan di tempat tertutup.
Sejak orde reformasi Imlek mengalami masamasa keterbukaan hingga sekarang. Imlek tak lagi sebatas dinikmati komunitas Tionghoa, namun melebar ke seluruh kota, berikut pernik perniknya: dodol, baju merah, angpao, dan tarian Barongsai. Kenapa Barongsai? Sejumlah literatur mengungkapkan tarian Barongsai sering ditampilkan dalam perayaan hari-hari besar Tionghoa, salah satunya saat perayaan Imlek. Menurut bahasa Cina, Sai artinya Singa dan dianggap sebagai ‘’raja binatang’’. 
Ceritanya dulu di Negeri Tiongkok, di setiap rumah pejabat tinggi ada dua patung Singa. Di samping untuk menjaga keselamatan, patung Singa dinilai membawa kemegahan, sekaligus juga membawa kebahagian dan rezeki. Entah apa sebabnya, Barongsai menjadi tarian pada setiap keramaian yang sifatnya agung.
Namun, bukan hanya sekadar tradisi turun- temurun, berbagai ciri khas Imlek ternyata memiliki filosofi tersendiri
Setiap kegiatan persiapan menjelang Imlek dan ketika Imlek, serta kuliner dan ornamen khas Imlek bukan tanpa alasan. Semua hal tersebut memiliki falsafah tersendiri,” 
Misalnya, tradisi bersih-bersih rumah sejak seminggu sebelum perayaan Imlek.
“Bersih-bersih rumah ini dimaksudkan untuk menyambut kedatangan para dewa, seperti dewa rezeki dan dewa dapur,” Bahkan, warga Tionghoa mengoleskan madu di mulut patung dewa yang ada di dapur (dewa dapur). “Madu itu kan manis. Hal ini bertujuan agar dewa dapur yang sudah datang akan memberitahukan berita yang baik-baik saja dalam rumah tersebut,”
Uniknya, ketika Imlek, warga Tionghoa justru dilarang untuk menyapu. “Makanya, bersih bersih harus dilakukan sejak seminggu sebelumnya.
Karena jika menyapu saat Imlek, rezeki yang sudah masuk ke dalam rumah tersebut, dikhawatirkan akan hilang,” 
Imlek Tiongkok atau Festival Musim Semi sama seperti Hari Natal di Barat adalah hari raya tradisional yang paling besar di Tiongkok. Meskipun seiring dengan perubahan zaman, isi yang terkandung dalam Imlek dan cara merayakannya sudah berubah, tapi Imlek dalam kehidupan rakyat Tiongkok tetap berposisi penting tak tergantikan.
Sebagai gambaran, Imlek Tiongkok konon sudah bersejarah 4.000 tahun lebih. Tapi pada permulaan, hari raya itu tidak disebut sebagai Imlek, dan juga tidak dirayakan pada hari yang tetap. Kira-kira pada tahun 2100 Sebelum Masehi, rakyat Tiongkok pada waktu itu menyebut rotasi Bintang Jupiter sebagai “Sui”, yakni satu tahun, maka Imlek pada waktu itu disebut sebagai “Sui”. Pada tahun 1000 Sebelum Masehi, rakyat pada waktu itu menamakan Imlek sebagai “Nian”, dengan artinya panen.
‘’Menurut adat istiadat, Imlek dalam arti makro dimulai dari tanggal 23 bulan 12 Imlek, dan berlangsung sampai hari Cap Goh Meh yang jatuh pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, dengan masa perayaan berlangsung selama tiga minggu,’’
Lain tempat, lain adat istiadatnya. Memang rakyat di berbagai daerah di Tiongkok mempunyai kebiasaan perayaan Imlek yang tidak sama, tapi tradisi seisi keluarga berkumpul untuk menyambut kedatangan Imlek pada malam tanggal 30 bulan 12 Imlek, yaitu malam menjelang Imlek adalah kebiasaan yang sama baik bagi penduduk di bagian utara maupun di selatan.
Memasang kuplet dan gambar tahun baru serta lampion berwarna-warni adalah kegiatan yang sangat digemari dalam menyambut Imlek.
Seiring dengan meningkatnya taraf hidup rakyat, perayaan Imlek pun lebih bervariasi.
Berpelesiran ke luar negeri menjadi pilihan bagi rakyat Tionghoa yang punya uang berlebih.
Sedangkan saya bersama keluarga merayakan Imlek dengan melihat atraksi baronsai saja sambil makan angkringan di Malioboro.......Gong Xi fa chai dab.......

Momentum sukses di tahun Naga air

Para peramal beropini dan membuat estimasi bahwa tahun 2012 ini merupakan tahun Naga air, tahun naga air dimaknai sebagai tahun perubahan, tahun yang sangat baik sebagai  momentum perubahan. Tahun yang penuh semangat untuk mencapai kemakmuran.

Tahun 2012 adalah tahun pencerahan. Tahun dimana terjadi perbaikan yang perbaikannya tampil nyata. Jika tahun 2011 banyak sekali kegagalan, banyak peristiwa panas yang akhirnya terblow-up dan membuat orang miris. maka tahun 2012 setelah imlek itu adalah tahun naga air yang sifatnya menjernihkan, mendinginkan, jadi yang sifatnya panas di tahun 2011 jadi di 2012.
wooooow.......wooooow....lintasan peluang emas...tahun keberuntungan kita semua,  benarkah?

Bagi kita yg telah mendedikasikan hidup bagi Kristus, semua waktu merupakan kesempatan besar, indah bahkan mulia karena kita persembahkan bagi kemuliaan TUHAN. opini dan estimasi orang tidak akan menggeser otoritas Alkitab yg adalah standar hidup untuk merangkul misteri masa depan dan sahabat yg memampukan kita berjuang secara konsisten hingga mencapai keberhasilan bersama TUHAN.
Memulai hidup ditahun naga air, tidak ubahnya dengan seluruh lintasan hari yg Allah percayakan kepada kita.
Walaupun berbeda durasi waktu yg Allah berikan pada masing-masing orang namun semua orang diberi kesempatan , potensi dan tujuan hidup yg sangat berharga untuk sebesar-besarnya memuliakanNya. Perkara yg harus dijawab setiap otrang adalah bagaimanakah kita meng-efektifkan hari-hari sebagai momentum yg menggairahkan dan bernilai abadi?

Belajar dari Agur bin Yake dalam Amsal 30: 29-33

30:29Ada tiga binatang yang gagah langkahnya, bahkan, empat hal yang gagah jalannya, yakni:
30:30singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun.
30:31Ayam jantan yang angkuh, atau kambing jantan, dan seorang raja yang berjalan di depan rakyatnya.
30:32Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!
30:33Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul.
Hasil akhir yg memuaskan selalu dimulai dengan langkah awal benar !
Kita selalu dapat belajar banyak perkara dari orang,  keadaan maupun lingkungan, sebagaimana Agur bin Yake mengajak kita belajar pada: singa, ayam jantan , kambing jantan dan perilaku raja.

Mereka semua mencerminkan karakteristik hidup optimis, tidak rendah diri, pantang menyerah Mereka juga hidup konsisten menurut naturya: berpenampilan kuat, (tidak loyo), berpotensi besar dan penuh semangat (gesit)
Ketiga binatang dan seorang raja adalah metafora dari KEKUATAN, KEKUASAAN, KEBERANIAN, KEUNGGULAN
Untuk mewujudkan momentum perubahan ditahun tahun yg harus kita lewati dibutuhkan:

I. MEMILIKI DAYA JUANG YG SUPER ayat.29-31
Keberhasilan masa depan bukanlah serangkaian keberuntungan namun akumulasi perjuangan yg tidak mengenal menyerah dengan keadaan.

Lance Armstrong, seorang atlet besar menjuarai Tour the France selama tujuh tahun berturut-turut tahun 1999-2005,  bahkan sebenarnya dia masih berpeluang menang lagi tetapi dia mengambil keputusan untuk beristirahat . Yang menarik dari kisah hidupnya adalah di tahun 1997 sementara dia terkena kanker prostat yang kemudian menyebar ke paru-paru dan otaknya. Sesudah menjalani perawatan dan kemoterapi, tahun 1998 , Ia kemudian pergi ke club balap sepeda. Jelas tidak satupun perusahaan yg bersedia menjadi sponsornya untuk mengikuti balap sepeda. 

Siapa yang mau bekerjasama dengan orang seperti ini? 
Akhirnya satu club kacangan :"Postal America" bersedia mensponsori dan sebagai hasilnya, dunia tercengang dengan keberhasilannya menjuari turnamen tingkat dunia.


Dari seorang yang sudah tidak memiliki kemungkinan untuk hidup tetapi memiliki semangat juang tinggi hingga berhasil. Apa rahasia dibalik suksesnya? 
Ia berujar bahwa "Segalanya mungkin. Anda dapat mengatakan bahwa Anda memiliki kesempatan-90% atau kesempatan-50% atau kesempatan-1%, tapi Anda harus tetap percaya, dan Anda harus berjuang.” Dokter sudah mengatakan tidak ada kesempatan  buat dia untuk hidup, tetap dia mempunyai daya juang yg sangat tinggi

Kesuksesan tidak ditentukan dari berapa banyak kemampuan yang kita miliki.
Dari statistik: orang yang memiliki IQ tinggi belum tentu menjadi orang yang sukses dalam hidup ini. Tetapi kesuksesan itu ditentukan oleh berapa besar gelora semangat  yang ada di dalam hati kita.

Singa, ayam jantan, kambing jantan memiliki karakteristik yang sama: yaitu mereka tidak pernah pantang mundur. Bukan ditentukan oleh kemampuan kita tetapi semangat dan keberanian untuk mengerjakan sesuatu.

Rasa takut adalah hal yang natural di dalam hidup kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, keputusan apa yang harus kita ambil, apakah itu benar atau tidak, kita adalah manusia yang terbatas, Namun tidak berarti rasa takut itu akhirnya mencegah dan menghambat kita untuk melangkah.

Segala kesempatan  pasti bermuatan resiko, namun  itu bukan menjadi alasan bagi kita untuk berhenti melangkah.
Dua hal yang sering menjadi fakto penghambat laju keberhasilan:

a. PERSEPSI ORANG LAIN (Penghalang eksternal)

Sudut pandang orang lain terhadap kita, kritikan-kritikan orang, kalimat-kalimat yang diucapkan orang . Harapan baik kita adalah selalu berusaha ingin menyenangkan mereka. Sampai kapanpun kita sulit bisa menyenangkan semua orang di dalam hidup ini. Yang terbaik adalah kita mendengarkan dengan bijaksana apa yang menjadi nasehat seseorang, tetapi lakukan sesuatu tetap di dalam keputusan sendiri. 

b. PERASAAN TAKUT (Penghalang internal)


Ketakutan dapat menjadi kekuatan besar yg merampas semangat dan keberanian kita untuk menghadapi hidup yg nyata. Hanya karena ramalan tahun 2012 tidak sesuai dengan harapan,  warna hidup kita menjadi tidak bergairah, dicekam perasaan gagal dan miskin dengan pengharapan untuk maju.


Apapun kata orang, Jadikan Alkitab sebagai dasar semua tindakan kita, percayalah bahwa Tuhan tidak pernah memberikan beban yang lebih besar dari kapasitas diri manusia. Pada waktu kita mendapatkan kesempatan di depan, pakailah sebagai momentum memulai perubahan, segera ambil, beranilah bertindak, jangan ragu. karena kesempatan yg sama tidak akan datang kedua kalinya.

Bil.14:24, Tuhan berkata, “Tetapi hambaKu Kaleb, karena lain jiwanya dan dia mengikut Aku dengan sepenuhnya maka dia akan Kubawa masuk ke negeri yang Kujanjikan itu…” Kemudian Yos.14:10, Kaleb mengatakan “…jadi sekarang aku telah berumur 85 tahun hari ini. Aku masih sama kuat dengan pada waktu aku disuruh Musa 40 tahun yang lalu…”

Di ulang tahun ke 85  Kaleb mengatakan dia masih memiliki spirit yang sama dengan 40 tahun yang lalu. Tentu bukan dalam pengertian fisiknya yang sama, tetapi spiritnya dalam menggenapi janji Tuhan, masih punya keinginan untuk mengerjakan hal yang belum terjadi itu. Sampai Tuhan secara definitif berkata bahwa Kaleb memiliki roh yg berbeda dengan yg lain. 

Thomas Edison sendiri mengatakan: "banyak orang akhirnya tidak sukses bukan karena dia tidak cukup berusaha, tetapi karena dia berhenti satu langkah sebelum kesuksesan itu tiba. "

Apapun kesulitan, apapun tantangan yang kita alami, percayalah setiap kesempatan pasti ada tantangan. Seharusnya setiap orang Kristen harus memiliki hidup yang jauh lebih optimis, jauh lebih bergairah, jauh lebih indah dan lebih berani dibanding mereka yg belum percaya Tuhan. apa yang akan kita kerjakan untuk keluarga, pekerjaanTuhan, untuk siapapun lakukanlah dengan segenap hidup.


II. MEMILIKI KARAKTER YG HUMBLE (rendah hati) ayat.32 dan 33

Ayam jantan yang angkuh, dan raja yang berjalan diapit oleh tentaranya.
Yang punya otoritas, kekuatan dan peluang yang besar sekali, Maka diingatkan baik-baik tentang bahaya yang bisa menjatuhkan diri sendiri, yaitu kesombongan yg berpotensi konflik dengan orang lain. 

Kita yg dianugerahi Tuhan dengan kekuatan, punya kekuasaan dan segala fasilitas, bukan dalam kapasitas untuk show of force (unjuk kebolehan) guna merebut kemuliaan diri. 
Yang Tuhan ajarkan adalah PERCAYA DIRI, konsisten bekerja, bersemangat dan pantang menyerah
Ayam jantan itu angkuh, sebenarnya lebih cocok diterjemahkan confident, punya keberanian, punya kemampuan, optimisme. Confident karena didorong oleh kesadaran memiliki kemampuan, bakat, bisa mengerjakan dengan berani, maka akan berhasil.

Agur mengingatkan bahaya kesombongan. Bagaimana kita menjadi orang Kristen yang memiliki fighting spirit, berani untuk mengerjakan sesuatu, semangat membara tetapi pada akhirnya membakar orang lain. Orang-orang yang memiliki temperamen yang kuat sering berdampak mengorbankan orang lain disekitarnya.  Jagalah potensi diri yg dianugerahkan Tuhan secara sadar atau tidak berdampak negatif pada orang lain.

Tidak peduli tahun apapun yg harus kita lintasi, bukan pada tahun apa (kelinci emas, naga air, tikus) kita hidup tetapi bersama siapa kita sekarang hidup dan untuk siapa kita hidup. Jika kita hidup berpusatkan pada Kristus, dapat dipastikan RohNya akan melengkapi kita dengan daya juang yg tidak kenal menyerah sekaligus kerendahan hati yg memuliakan Tuhan yg berguna bagi sesama. Amin,
have nice day all..................GBU


by haris Subagiyo


Minggu, 15 Januari 2012

Masih Relevankah Kutuk Keturunan ?

“Sebuah Evaluasi Singkat Terhadap Ajaran Kutuk Keturunan”
Apakah ajaran kutuk Keturunan ini Alkitabiah?
  • “Ya”, kata beberapa pelayan Injil seperti Neil Anderson dan Marilyn Hinckey.
Dasar Alkitab yang paling sering mereka gunakan:
  • Keluaran 20: 5 - “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku…”
Tanda-tanda dari mereka yang mengalami “kutuk keturunan”:
Biasanya para penganjur kutuk keturunan menggunakan Ulangan 28: 15-46 sebagai ayat pendukung. Derek Prince sebagai contoh, menyebutkan beberapa tanda yang menunjukkan adanya kutuk dalam diri seseorang adalah: (1) Gangguan kejiwaan atau emosi; (2) Penyakit menahun atau kambuhan; (3) Kemandulan, keguguran yang berlangsung berkali-kali dan penyakit kewanitaan; (4) Kehancuran rumah tangga dan keretakan dalam hubungan keluarga; (5) Kemiskinan; (6)Sering mengalami kecelakaan; (6) Banyaknya kasus bunuh diri dan kematian yang tidak wajar atau mati muda dalam suatu keluarga.
Evaluasi terhadap pandangan ajaran “kutuk keturunan”
· Tentang Keluaran 20:5. Para penganut ajaran kutuk keturunan biasanya hanya membaca ayat ini saja, tanpa menghiraukan konteks pembicaraan yang lebih luas. Memang benar dalam ayat ini Allah digambarkan sebagai Allah pencemburu yang membalaskan murkanya pada keturunan keeempat dan kelima. Namun perhatikan baik-baik, obyek dari murka Allah adalah para penyembah berhala, bukan orang percaya. Apa yang terjadi bila keturunan para penyembah berhala berpaling kepada Allah, secara otomatis kutuk tersebut dianggap tak berlaku. Perhatikan baik-baik ayat 6! Allah digambarkan sebagai Allah yang penuh kasih karunia yang menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang yang mengasihi dia dan berpegang pada perintah-perintahNya. Ayat ini secara otomatis diberlakukan kepada mereka, meski nenek moyang mereka berdosa di hadapan Allah.
· Sebuah ajaran tidak boleh diangkat dari satu bagian dari Alkitab dan melupakan bagian-bagian yang lain dari Alkitab. Perhatikan Yeh. 18: 22-32. “…Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya.” Di sini terdapat sebuah perikop yang dengan tegas menyanggah adanya ide tentang kutuk keturunan.
· Perjanjian Baru dengan lebih tegas memberikan gambaran bahwa hidup dari orang-orang beriman adalah hidup yang benar-benar merdeka (Yoh 8: 36) karena kutuk yang harus mereka tanggung telah ditanggung sepenuhnya oleh Yesus Kristus (Gal 3:13).
Kesimpulan:
· Ajaran kutuk keturunan kurang bisa dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah. Lalu pertanyaannya adalah: “kenapa populer?” Di sini, penjelasan psikologis dan sosiologis mungkin bisa memberikan jawaban. Manusia modern adalah manusia yang hidup dalam suasana kehidupan yang serba cepat, yang menawarkan solusi “instant” atas segala masalah. Kehidupan Kristen pada kenyataannya tidak melepaskan kita dari segala macam problema kehidupan. Kita sudah Kristen, kenapa tetap kekurangan. Kita sudah Kristen kenapa mengalami perceraian. Kita sudah Kristen kenapa kita mengalami kemalangan. Kita sudah Kristen kenapa tetap sakit. Solusi yang paling cepat dan masuk akal terhadap masalah ini bagi orang Kristen modern adalah: karena anda masih terikat dengan kutuk! Jadi mari kita patahkan kutuk itu, supaya masalah tuntas tas! Padahal problema sesungguhnya belum tentu pada apa yang dipercayai sebagai kutuk itu sendiri. Problema perceraian dalam rumah tangga Kristen sebagai misal, alih-alih disebabkan oleh “kutuk”, lebih disebabkan oleh gaya hidup modern kita yang cenderung materialistis dan kurang mementingkan hubungan antar-pribadi.
· Hal yang tak kalah pentingnya adalah kecenderungan dari tiap manusia untuk menolak penimpahan kesalahan pada dirinya sendiri. Ketika dia gagal, dia cenderung untuk mencari obyek dari kegagalannya. Yang paling muda dijadikan “kambing hitam” di sini adalah adanya “kutuk”.
· Yang terakhir, yang perlu kita camkan adalah kecenderungan manusia untuk memahami segala-segalanya dan penolakannya untuk merangkul misteri. Padahal kehidupan itu sendiri penuh misteri. Ketika manusia menuruti obsesinya ini, maka ia akan cenderung untuk menjelaskan segala sesuatu, bahkan yang tak terjelaskan. Kenapa orang benar menderita? Kenapa orang beriman mengalami kemalangan?” Alkitab tidak memberikan jawaban yang definitif. Yang ada adalah jawaban yang samar. Yang ada adalah sebuah misteri. Yang ada adalah bukannya jawaban terhadap pertanyaan “why (mengapa) kita mengalami ini semua padalah kita orang beriman?” tetapi “how (bagaimana) kita menghadapi ini semua sebagai orang beriman?”. Anehnya penginjil-penginjil masa kini berusaha menyederhanakan masalah ini dengan sebuah jawaban yang terlalu naif: - adanya kutuk! Dengan jawaban ini, mereka mungkin mampu memuaskan keingintahuan sebagian dari kita. Tapi sayang dengan menolak “misteri kehidupan” mereka tidak berjalan dalam jalan yang ditempuh penulis-penulis kitab suci dengan berani merangkul misteri ini.

Sabtu, 24 Desember 2011

NATALAN dikandang DOMBA

Allah pasti memiliki harapan besar, benar dan mulia yang kenyataannya sering bertabrakan dengan idealisme manusia. Supaya kita tidak terus terkejut dengan realita kehidupan yg dipimpin oleh Tuhan ternyata tidak selalu menjawab kebutuhan dan sejalan dengan harapan walaupun kita sedang berjalan dalam pimpinanNya. Natal perdana adalah pelajaran spiritual yg sanggup membimbing kita hidup mengikuti standar harapan Allah.
Matius 2: 1-22
Adalah gambaran sebuah harapan yang tak sejalan dengan kenyataan. Para majus telah menempuh sangat , sekitar 1000 km dalam mengikuti sebuah bintang yang akan membawa mereka ke tempat kelahiran Raja besar. Hati mereka penuh dengan semagat yang menyala-nyala lengkap dengan hadiah terbaik sudah dipersiapkan untuk dipersembahkan kepada sang raja.
Setelah berbulan-bulan menempuh perjalanan yang penuh bahaya, mereka berharap dapat menemukan sesuatu yang agung dan mulia di akhir perjalanan mereka. Istana Herodes menjadi tempat persinggahan mereka! Bayangan pikirannya adalah berjumpa Sang Raja Besar lahir di istana megah dengan suasana yg seba waaah. Namun tak ada Raja Besar di istana Herodes! Mereka harus terus melangkah dan mencari bintang yg terus memimpin  dan akhirnya berhenti di goa sebagai kandang hewan! 

Kenyataannya sangat bertentangan dengan harapan mereka. Yang ditemukan adalah Yusuf dan Maria orang Nasaret yg tidak terpadang, sedang membaringkan seorang bayi yg tidak berdaya di palungan. Woooooow sama sekali jauh dari apa yang diharapkan! Perjalanan mengikuti jalan Allah yang dipimpin bintang ternyata membawanya pada tempat yg dinilai hina dimata manusia.
Kekagetan bahkan tidak menutup kemungkinan kekecewaan bercampur menjadi realita yg harus dihadapi. Namun yang luar biasa adalah sikap yang mereka tunjukkan kala menemukan sebuah kandang. Berjalan bersama dengan Tuhan tidak selalu dapat diukur dari nilai kepuasan diri ,tercapainya cita-cita atau tuntasnya suatu persoalan. Para Majus saat akan berhadapan dengan pengalaman kandang domba walupun berharap singgah di istana raja, namun mereka tetap sanggup melihat Allah dalam bayi Yesus yg sedang berbaring dipalungan.Adalah realita yg tidak dapat kita bantah:
Ketika kita mengharapkan kelimpahan, namun yg datang adalah kekurangan
Ketika mengharapkan kesehatan, namun sakit dan derita harus kita hadapi
Ketika sedang memimpikan kesuksesan, namun tersandung dengan kegagalan.
Kalau kita sedang mengalami pengalaman dipimpin ke dalam sebuah kandang kehidupan, belajarlah dari para majus!
I. Pengalaman kandang domba tidak menutup mata hati untuk tetap melihat Allah.
Secara fisik, gambaran yang dilihat para majus nyaris tanpa kesan! Tidak ada kemegahan raja, tidak sambutan yg gegap gempita, semua berjalan apa adanya bahkan sangat amat sederhana. Yang mengherankan aadalah mata rohani tidak buta, mereka mampu melihat kemuliaan dibalik kehinaan; Kemegahan di balik kesederhanaan; Keperkasaan dibalik kerapuhan; dalam diri Yesus Kristus, Sang bayi Natal
Iman mereka menembus batas kemanusiaan bahkan terus bersinar melewati kebutuhan, harapan dan kepentingan diri sendiri. Sanggup melihat penampilan Allah yg berperan sebagai raja diatas segala raja didalam bayi Yesus.
Orang kristen yang dewasa sanggup melihat Allah baik dalam susah maupun senang. Orang percaya yang dewasa melihat Allah tidak hanya dikala dalam kesenangan dan istana kerajaan, melainkan juga di pekarangan, bahkan di kandang kehidupan.
II. Pengalaman kandang domba tidak menghentikan semangat memberi yg paling baik.
Di kala kita susah, gagal, kecewa, ada kecenderungan bagi kita untuk menutup diri kita kepada Allah dan kebutuhan-kebutuhan yang ada di sekeliling kita!
Pengalaman ” menghadapi sebuah kandang: kadang membawa kita kepada ”egosentrisme” yang terwujud dalam bentuk mengasihi diri sendiri dan tak peduli pada yang lainnya, termasuk Allah!
Para majus bersikap sebaliknya dengan tetap memberikan yang terbaik dari mereka untuk sang bayi, meski sang bayi hanya tidur beralaskan jerami.
Apakah yg harus kita kerjakan dalam natal tahun ini?
Tetap memberi meski rugi! Tetap melayani meski sakit! Tetap beribadah kepada Allah dengan tulus meski beragam persolan manusiawi belum terselesaikan.
Natal adalah spiritualitas untuk memberi yg paling baik bagi Tuhan
Spirit of Christmas is the spirit of GIVING.
III. Pengalaman kandang tidak menumpulkan kepekaan dalam pimpinan Allah.
Pengalaman di dalam sebuah kandang bukan saja menjadi pengalaman berharga namun menjadi keharusan untuk melihat kemana selanjutnya arah Tuhan memimpin kita. Di dalam sebuah kandang para majus menemukan ”Mesias”. Di dalam sebuah kandang para majus menyambut tantangan Allah untuk terlibat dalam penyelamatan sang Mesias dari keganasan  Herodes yg berencana memotong ditengah jalan upaya keselamatan Allah dalam mengembalikan manusia dalam rancanganNya! Pengalaman di dalam kandang akhirnya mengubah arah dari rencana perjalanannya semula! sama sekali tidak mengikuti siasat licik Herodes.
”Pengalaman di dalam sebuah kandang” – pengalaman-pengalaman pahit di dalam hidup kita kadang menggemakan suara Allah untuk mengubah arah hidup kita
Natal bukan saat untuk bersorak sorai larut dalam gegap gempita perayaan yg habis hanya dalam beberapa saat saja. dan menyisakan segudang persoalan di dalamnya tanpa mengukirkan perubahan yg mendasar yg mengubahkan arah pelayanan, mengubahkan karakter dan mengubahkan dedikasi kita kepada Allah. 
Natal bukanlah agenda gerejawi, kenangan histori atau menjadi kesempatan unjuk diri dalam pementasan acara yg dikemas secara rohani, seolah olah kita telah bekerja untuk Tuhan atau sudah melakukan yg benar.
Allah hendak mengubah arah jalan kita yg berorientasi Tuhan.

Natal kali ini....jangan biarkan berlalu tanpa makna....atau memuaskan perasaan sesaat!
Jadikan natal tahun ini sebagai kesempatan besar untuk mentransformasi hidup: keluarga, pekerjaan, pelayanan, studi apapun juga memandang nilai kekekalan sehinga situasi apapun tidak menghentikan langkah kita untuk maju bersama Tuhan, 
Teruslah berkarya...tataplah masa depan dengan kepastian. karena di dalam kandang domba sekalipun Allah sanggup bekerja ddidalamnya. amin

Selamat Natal 2011 dan tahun baru 2012 God Bles U all....


by Haris Subagiyo, tinggal dikaki Merapi

Rabu, 21 Desember 2011

FOCUS of CHRISTMAS

Allah memusatkan perhatian secara penuh dengan mengerahkan seluruh kekuatan dan kasihNya untuk mengembalikan manusia dalam rancanganNya yg kekal. 
Tidak ada tendensi kepentingan Allah, tidak ada tuntutan hak dan tidak ada pamrih. Semua karya Allah yg dahsyat dikerjakan Tuhan Yesus untuk kita dilakukan dengan kerelaan yg besar. 
Pusat perhatian yg menggelora dalam hati Allah adalah keselamatan kekal manusia sehingga Dia rela mengorbankan apapun membayar harganya tanpa memperhitungkan nilai kemuliaanNya sendiri. 
Natal merupakan presentasi perjuangan Allah membela kita dengan turun langsung kedunia menjadi hina, menghampakan diri, memberikan seluruhnya, yg paling baik dan paling besar untuk tanpa syarat . Sasaran kasih Allah ditumpahkan seluruhnya tanpa batas kepada seluruh isi dunia. Tidak harapkan balasan, semua dikerjakan dengan penuh kesadaran dan kerelaan supaya kita menikmati keselamatan yg disediakanNya. Natal merupakan kesempatan Allah mengasihi manusia tiada batas, dalam kesempatan anugerah yg sangat luas dan untuk dunia yg tidak terbatas. 

Jika natal kita peringati setiap tahun, itu bukanlah tuntutan Tuhan supaya memperingati hari kelahiran Kristus. Karena esensi natal bukanlah peringatan, permenungan makna, bukan acara gerejawi dan bukan liturgi tetapi ambisi Allah untuk mengubah hati kita. Natal adalah momentum yg seharusnya menggiatkan kita secara konsisten untuk berinteraksi dan memberikan respon setiap hari sebagai bukti keseriusan kita menyambut kehangatan anugerah Allah yg sangat amat besar dalam mengubahkan hidup kita.
itulah FOCUS of CHRISTMAS

Simeon adalah pribadi yg memusatkan pada NATAL 
Lukas 2:25 - 35

 2:25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh   yang menantikan penghiburan   bagi Israel. l  Roh Kudus ada di atasnya, 2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan  hukum Taurat, 2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera,  sesuai dengan firman-Mu, o  2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan p  yang dari pada-Mu, 2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. q " 2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. 2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu r Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan s  atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan 2:35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."


I. FOKUS PADA KEHENDAK ALLAH  (ayat.25-27)

Simeon bersukacita karena harapan imannya terpenuhi: Allah memperkenankan untuk melihat bahkan menatang bayi sang Messias. 
Untuk dapat melihat Allah secara langsung, apakah ini terjadi secara acak ataukah kondisional? Alkitab mencatatnya secara eksplisit bahwa Simeon seorang yg benar dan saleh serta Roh Kudus diatasnya. Jelaslah bahwa respon keyakinan kepada Allah dikembangkan bersama sikap hidupnya yang benar (“dikaios”) dan saleh (“eulabes”) di hadapan Allah

Kata “dikaios” dapat berarti: benar dan adil
Kata “ eulabes” berarti: saleh, sangat berhati-hati dan takut akan Tuhan. 

Sehingga pengertian “benar dan saleh” menunjuk kepada suatu kedalaman hidup rohani yang dipraktekkan oleh Simeon sedemikian kental sehingga sepanjang hidupnya dia senantiasa berlaku benar, adil, sangat berhati-hati, hidup saleh dan takut akan Tuhan. Semua orientasi hidupnya hanya ditujukan kepada penantian akan datangnya Messias yang diutus oleh Allah. 

Tidaklah mengherankan jikalau kehidupan Simeon senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus.  Itu sebabnya pula secara sengaja Allah memperjumpakan Simeon dengan Messias yang dinantikan dan diharapkan di Bait Allah. Mata Simeon dapat melihat secara langsung wujud inkarnasi Firman Allah, dan juga kini dia dapat menatang dengan kedua tangannya sendiri. 

Efektivitas mata rohaniah kita yang mampu melihat keselamatan dari Allah sangat ditentukan oleh keterbukaan diri terhadap proses pembaharuan dalam kehidupan kita. Semakin kita terbuka terhadap pekerjaan Roh Kudus dengan senantiasa hidup saleh dan benar , maka kita dimampukan untuk melihat keselamatan Allah di setiap bidang dan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. kita akan memperlakukan setiap orang dan setiap situasi dengan sikap yang benar, adil, serba hati-hati dan dipenuhi oleh roh yang takut akan Tuhan. Apabila setiap peristiwa dan pengalaman merupakan manifestasi dari karya keselamatan Tuhan, maka kita akan terus belajar merangkulnya dengan sikap iman dan memaknainya secara kreatif. Ini dimungkinkan bagi mata orang yang suci hatinya. Sebab hanya orang yang suci hatinya saja yang mampu merangkul atau menerima setiap peristiwa yang paling pahit dan sedih. Sebaliknya mereka yang hidup cemar dalam dosa, tidak akan sanggup untuk menerima hal yang paling “sederhana/kecil” dalam suatu peristiwa yang pahit. Apalagi jika mereka harus diperhadapkan dengan suatu hal yang “besar” dalam suatu peristiwa pahit seperti peristiwa yang tragis dan penderitaan! Mereka segera meledak-ledak penuh kemarahan dan mencaci-maki Allah. Setelah itu mereka kehilangan kendali, lumpuh dan tidak berdaya. Sebaliknya orang fasik tidak sanggup menghadapi suatu penderitaan atau kemalangan. Orang fasik akan dimatikan oleh kemalangan yang sebenarnya sangat sederhana dan sepele.  Kita dapat melihat ketangguhan atau daya tahan dari orang yang hidup benar dan kudus, walau mereka didera oleh berbagai kemalangan  umumnya mereka tetap tabah dan penuh syukur. Sebaliknya orang yang cemar hatinya sangat mudah terpukul oleh perkara-perkara yang sebenarnya sangat sederhana seperti: meninggalkan Tuhan karena kehilangan pekerjaan, menolak pelayanan karena kurang mendapat penghargaan sebagaimana yang diharapkan, tidak setia beribadah karena jarah rumah ke gereja menjadi sedikit jauh, dan sebagainya.


II. FOKUS PADA RANCANGAN KESELAMATAN ALLAH (ayat.29-30)

Bagi Simeon dapat melihat dan menatang bayi Yesus sebagai Messias merupakan berkat keselamatan Allah yang tak terkira. Hatinya digenangi oleh damai-sejahtera yang berlimpah, sehingga dia tidak gentar apabila ajal menjemput. Bukan karena alasan telah lanjut usia dan bosan hidup, tetapi karena dia secara langsung telah mengalami keselamatan Allah dalam kehidupannnya. Itu sebabnya Simeon berkata: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Luk. 2:29-30). 



Keselamatan Allah dialami oleh Simeon dalam suatu perasaan damai-sejahtera yang berlimpah. Inilah pengalaman “syaloom”,  Pengalaman “syaloom” yang demikian merupakan kepenuhan hidup di mana makna dan tujuan hidup telah tercapai dalam perjumpaan manusia dengan Allah? Sikap yang sama diungkapkan oleh nabi Yesaya: “Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya” (Yes. 61:10). 


Umat percaya dalam kesaksian nabi Yesaya mengungkapkan suatu sukacita yang begitu penuh karena keselamatan yang telah dianugerahkan oleh Allah sehingga mereka bersorak-sorai memuji Allah.  Jelas realitas syaloom Allah bukan sesuatu yang datang dari dalam diri manusia, tetapi sesuatu yang dianugerahkan dari “luar”. Seperti Simeon yang memperoleh karunia untuk dapat melihat dan menatang bayi Messias.


Kenyatan sehari hari justru sering menghadapkan kita demikian  jauh dari syaloom Allah. Bukan hanya kita tidak digenangi oleh damai-sejahtera yang berlimpah, tetapi justru kehidupan rohani kita begitu kering dari perasaan damai-sejahtera.  Apabila Simeon dapat melihat dan menatang bayi Yesus, maka yang sering  kita lihat dan tatang adalah berbagai persoalan, kegagalan, kesedihan dan penderitaan. Kehidupan sering hanya diiringi oleh suara kesedihan, rintihan dan tangisan. 


Dalam konteks ini kita perlu bertanya apakah kehidupan kita telah ditandai oleh jalan hidup yang benar dan saleh di hadapan Tuhan?  Karena betapa banyak orang yang merasa hidupnya penuh dengan kesedihan dan penderitaan yang disebabkan karena jalan hidup yang menyimpang dan jauh dari kebenaran. Pengalaman penderitaan dan kepedihan sebagai efek enuaian dari apa yang telah di tabur. 


Simeon, mampu  melihat berkat Allah yang tersembunyi di balik semua hal yang menyedihkan dan mendukakan itu?  Semakin hidup kita saleh dan benar, maka kita dimampukan untuk melihat secara jeli dan jernih karya Tuhan yang terjadi dalam kehidupan kita. Jadi dengan pola spiritualitas iman yang  semakin jeli dan jernih, maka kita tidak akan jatuh  dalam sikap yang mengasihani diri sendiri atau berputus-asa dengan apa yang menimpa kehidupan kita. 


III. FOKUS PRIBADI ALLAH WALAUPUN PENUH MISTERI

Kehadiran dan karya Kristus sepanjang sejarah senantiasa diliputi oleh berbagai perbantahan teologis karena tidaklah mudah bagi manusia untuk memahami rahasia jati-diri Kristus yang tidak terbatas. Karena itu iman kepada Kristus membutuhkan karunia atau anugerah dari Allah. Kita tidak mungkin dapat percaya kepada Kristus hanya karena pengertian dan akal-budi kita yang serba terbatas. 



Simeon yang diliputi oleh perasaan damai-sejahtera dan sukacita keselamatan saat menatang bayi Yesus menyadari permasalahan tersebut. Dia berkata kepada Maria, ibu Yesus: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang"  (Luk. 2:34-35).


Kehadiran Kristus bukan hanya dapat menimbulkan perbantahan teologis, tetapi Dia juga ditentukan oleh Allah untuk menjatuhkan dan membangkitkan banyak orang. KedatanganNya ke dalam dunia bukan sekedar membawa suatu revolusi dalam perjalanan sejarah, tetapi juga  membawa arah perjalanan sejarah bergerak ke arah DiriNya.  Kehidupan umat manusia bergerak ke arah diriNya. Ini berarti kehadiran, pemikiran, dan karya Kristus menjadi parameter  yang terus-menerus memberi pencerahan kepada umat manusia sepanjang abad. Bahkan keselamatan dan hidup kekal tidak dapat dilepaskan dari iman kepadaNya.
Itu sebabnya di hadapan Kristus setiap orang dipanggil untuk berani melepaskan segala kebanggaan dan kebenaran diri sendiri. Selama kita masih memiliki kebanggaan-kebanggaan duniawi dan kebenaran-kebenaran yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka Kristus  yang adalah batu penjuru Allah dapat berubah menjadi batu sentuhan bagi kita. Sebab kita tersandung jatuh karena kita berbenturan dengan Kristus. Tetapi sebaliknya bagi setiap orang yang rendah-hati, terbuka terhadap anugerah dan keselamatan Allah; maka kehadiran Kristus justru akan membangkitkan dia untuk menjadi alat Tuhan yang efektif. 


Apabila kehidupan kita berproses ke arah Kristus tidak berarti seluruh misteri Kristus dapat kita pahami dengan kapasitas otak kita yang serba terbatas. Ada hal-hal yang cukup jelas kita pahami tentang Kristus, tetapi juga ada  banyak hal yang belum sepenuhnya kita pahami seperti bagaimana proses inkarnasi Kristus yang menjadi janin melalui Maria yang masih perawan, bagaimana Dia dapat membuat berbagai mukjizat, bagaimana proses kebangkitan Kristus dan kenaikanNya ke sorga. Tetapi iman kita telah diteguhkan bahwa segala yang difirmankan Alkitab tentang Kristus adalah benar dan dapat dipercaya. Justru iman yang mau berhadapan dengan misteri ilahi akan mendorong kita untuk terus belajar dan terbuka agar Allah berkenan melengkapi kita sedikit demi sedikit. 


Pengenalan kita tentang karya Allah di dalam Kristus membutuhkan proses yang progresif ke depan.  Saat kita berjalan bersama dengan Kristus, maka segala pertanyaan dan perbantahan tentang Dia berubah menjadi sumber inspirasi, kekuatan dan pencerahan hidup yang menyegarkan. Dengan demikian saat kita berjalan bersama dengan Kristus, kita tidak hanya melihat keselamatan Allah, tetapi kita seperti Simeon diperkenankan untuk menatang keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada kita.

Minggu, 18 Desember 2011

Sukacita Murni dan Abadi

Karakteristik Natal adalah momentun perayaan, suasana meriah dan ekspresi sukacita seolah jauh dari kesedihan dengan berbagai persoalan.  Ornamen natal dihadirkan didalam gereja tampil gemerlap bahkan memukau seolah sudah men-sugesti kita telah merayakan natal ditempat yg benar. wooooow lalu suasana natal berkumandang menyirnakan sejuta rasa duka dan beban persolan yang harus dipikul,.... itulah sukacita natal.

Benarkah perayaan Natal yang penuh dengan sukacita merupakan peristiwa faktual yang menyenangkan pada natal yg pertama?

Atas perintah kaisar Agustus, Maria dan Yusuf harus pergi sementara waktu dari kota Nazaret ke Betlehem untuk melaksanakan pendaftaran sensus penduduk. 

Jarak tempuh dari Nazaret ke Betlehem sekitar 150-170 km, tanpa menggunakan alat transportasi modern pastilah perjalanan Yusuf dan Maria bukanlah suatu perjalanan yang menyenangkan.
Selain perjalanan tersebut sangat jauh dengan cara berjalan kaki atau naik keledai, Maria dalam sedang hamil tua. Kesulitan dan penderitaan dalam perjalanan   dari Nazaret ke Betlehem yang dialami oleh Maria terjadi sebagai konsekuensi respon Maria yang bersedia untuk mengandung dari Roh Kudus (Luk. 1:38). Seandainya Maria menolak panggilan dari malaikat Gabriel untuk mengandung dari Roh Kudus, Maria tidak akan mengalami penderitaan yang seberat ini. Mungkin dia tetap akan berangkat ke Betlehem tetapi bukan dalam keadaan hamil. Seandainya dia menolak perkataan malaikat Gabriel, Maria juga tidak perlu menanggung risiko berupa sanksi sosial dan keagamaan  dengan kehamilannya yang di luar kewajaran

Sukacita diukur dari perubahan keadaan

Makna sukacita sering dipahami sebagai perjalanan yg melewati zona nyaman tanpa penghalang, berjalan bertabur mawar disepanjang jalan.  Konklusi yg kita buat sudah merumuskan bahwa sukacita adalah ritme kehidupan ini selalu berjalan serba datar, menjauh dari tantangan, dan mulus tanpa masalah.  Sesungguhnya banyak alasan bagi Maria dan Yusuf menolak panggilan Allah demi rasa aman mereka, maka karya keselamatan Allah dalam inkarnasi Kristus juga tidak akan terwujud. Dunia dan umat  manusia tidak akan pernah mengalami kehadiran Allah dalam sejarah kehidupan mereka. Umat manusia sepanjang zaman tidak akan dapat mengalami sukacita sorgawi dengan datangnya sang Raja Kehidupan. Justru melalui kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh Maria dan Yusuf maka terbukalah wilayah yang luas tanpa batas anugerah keselamatan dari Allah bagi umat manusia.  Sehingga melalui kerelaan dan sikap iman yang diperlihatkan oleh Maria telah mewujudkan perkataan nabi Yesaya: “Sebab inilah yang telah diperdengarkan TUHAN sampai ke ujung bumi! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang”  (Yes. 62:11). Sukacita Natal dapat kita  alami secara penuh karena keselamatan dari Allah telah datang!

Mengukur sukacita dari keberhasilan memiliki

Makna sukacita dalam kehidupan sehari-hari seringkali dilepaskan dari keselamatan Allah. Sukacita dalam kehidupan sehari-hari justru seringkali dikaitkan dengan keberhasilan untuk memiliki. Semakin banyak kita memiliki, maka semakin banyak pula kita bersukacita. Tetapi semakin banyak yang kita miliki hilang, maka hilang pula sukacita yang kita miliki. Ketika  nilai saham yang kita miliki merosot jatuh, maka hilanglah segala sukacita yang pernah kita miliki. Ketika investasi atau harta kekayaan yang kita miliki disita, maka hancurlah segala kebanggaan dan kebahagiaan hidup kita. 

Dengan demikian makna sukacita dan kebahagiaan yang kita miliki berubah-ubah seiring dengan apa yang kita dapatkan dan apa yang tidak kita dapatkan. Justru peristiwa Natal hendak menegaskan bahwa nilai sukacita bukanlah ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tetapi ditentukan oleh seberapa besar kita menyambut keselamatan Allah yang telah datang. 

Peristiwa Natal justru merupakan momen yang penuh makna saat kita mampu melepaskan segala hal yang kita milliki agar terbukalah ruang hati yang luas untuk menyambut  peristiwa inkarnasi firman Allah menjadi manusia. Saat hati kita penuh sesak dengan berbagai barang atau milik secara dunia,  maka kita tidak dapat menyambut sukacita dan kebahagiaan Natal.

Mengusahakan sukacita dengan kekuatan diri
              
Martin Seligman (salah satu pendiri dari psikologi positif )dalam bukunya yang berjudul “Authentic Happiness” (Kebahagiaan yang otentik), , menyatakan bahwa kebahagiaan terdiri dari “emosi-emosi positif” (positive emotions) dan “aktivitas-aktivitas positif” (positive activities) yang terentang dari masa lampau, kini dan masa mendatang. Sehingga manakala masa lampau dan masa kini kita penuh dengan kepuasan, rasa bangga dan ketenteraman; serta sikap kita memandang masa depan dengan sikap yang optimistik, berpengharapan dan keyakinan maka niscayalah kita akan berbahagia. Efek dari kebahagiaan yang demikian akan membebaskan diri kita dari penghalang-penghalang emosi, sehingga kita dapat lebih mampu menikmati pekerjaan dan aktifvitas-aktivitas yang lebih kreatif. Dengan cara hidup yang demikian, kita akan dapat mengalami makna hidup yang lebih penuh sebab kita mengarahkan tujuan hidup yang lebih besar dari pada tujuan-tujuan jangka pendek. 

Pemikiran Martin Seligman tersebut pada satu sisi boleh dianggap benar untuk  menemukan makna sukacita  Tetapi pandangan ini jelas menempatkan makna sukacita sebagai hasil upaya manusia untuk mengelola emosi-emosi secara positif agar dapat menghasilkan aktivitas yang positif. Mereka memandang kebahagiaan sebagai hasil dan upaya manusiawi. 

Tetapi tidaklah demikian dengan berita Natal. Kebahagiaan dan sukacita pada hakikatnya merupakan anugerah keselamatan dari Allah. Di Tit. 3:4-6, menyatakan: “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita”.  

Justru di saat kita gagal untuk berpikir positif dan hidup yang tidak tenteram serta penuh penderitaan, di situlah berita sukacita natal digemakan, disaat kita tidak berpengharapan dan lelah dengan berbagai persolan hidup , Allah memperkenankan sukacita menjadi milik semua bangsa. Saat hidup kita terpuruk dan tidak berharga, kita memperoleh pengharapan baru bahwa sukacita yg abadi sudah ada ditengah kita. Sukacita yg boleh dimiliki mulai dari para rakyat jelata, penggembala domba hingga para raja, diberikan anugerah yg sama untuk menikmatinya.
Itulah SUKACITA NATAL yg hendak mengembalikan ketidakberdayaan kita dalam menikmati persekutuan yg permanen bersama dengan Allah, ditengah gelora persoalan dunia yg tidak pernah berhenti. Sukacita yg murni dan abadi didalam persekutuan bersama TUHAN YESUS dapat menjadi bagian selama lamanya, amin

Joy of Xmast 2011
by Haris subagiyo

Minggu, 11 Desember 2011

Menjadi Makin Besar dimata Tuhan

Seharusnya "Kapasitas diri" yg besar selalu bekerja konsisten menghasilkan kualitas hidup yg besar. Namun betapa sering besarnya kapasitas diri terdiam dalam kondisi lembam,  menganggur atau bekerja seadanya dengan standar sedang-sedang saja. Seolah-olah pekerjaan mengejar mutu hanya berhenti pada kepuasan mendapatkan kontribusi yg cukup hanya pada diri sendiri saja. Tidak bisakah kita memacu selangkah lagi untuk mencatatkan prestasi yg semakin cemerlang?

Laporan kemajuan pelayanan yg berdampak semakin efektif adalah karakter orang yg bersedia mengubah MUTU KEBAIKAN menjadi MUTU KEMULIAAN.

Bagaimanakah kita dapat meningkatkan mutu pelayanan yg semakin berkenan dihadapan Tuhan? 
Belajar dari tokoh wanita bernama Maria
Milikilah Keberanian Besar dalam menuruti Firman Allah

“Salam kepadamu Maria yang diberkati Allah. Engkau dikaruniai Allah…” 
Kesempatn yg diberikan Allah untuk menjadi pribadi yg agung, berbahagia dan diberkati adalah kesempatan terbuka dengan konsekuensi yg tidak ringan. Ini menjadi taruhan hidup yg harus dipindahkan dari kualitas baik menjadi keagungan dimata Tuhan.

a. Berani menerima kehendak Allah walaupun mengandung konsekuensi
kata Maria: "Jadilah kehendakMu atasku, karena aku ini hamba Allah,”
Allah tidak pernah memaksakan kehendaknya, karena pilihan hidup menjadi kekuatan secara personal yg harus diputuskan sendiri dengan segala konsekuensinya.
Maria berani mengambil pilihan Menerima kehendak Allah mengandung konsekuensi yang luar biasa. Kemungkinan yang terbaik yang akan terjadi kepada Maria setelah dia menerima kehendak Tuhan di dalam hidupnya adalah dia diceraikan oleh calon suaminya dan dipermalukan dimuka umum bahkan lebih dari itu. Di Timur Tengah sampai sekarang masih terjadi, menganggap sebagai kehormatan untuk membunuh mereka yg dianggap telah berbuat dosa amoral. Sehingga konsekuensi yg paling buruk yg dihadapi Maria adalah ayahnya terlalu malu dan membunuh dia.

Alkitab mencatat bagi wanita yang hamil di luar nikah, dia berhak dirajam dengan batu.
Yusuf mengambil kemungkinan yang paling buruk yaitu menceraikan Maria.
Kelahiran Kristus dimuka bumi tidak akan terjadi kalau tidak ada seorang wanita yang berani  menyerahkan diri, mengambil kehendak Tuhan itu untuk dirinya dan itu memberikan konsekuensi pengorbanan yang tidak bisa terbayangkan yang akan terjadi kepadanya.

b. Berani menerima kehendak Allah walaupun tidak populer

Berjalan mengikuti arus besar adalah langkah yg paling cepat dan mudah namaun pada waktu malaikat datang kepada Maria, Maria menerima panggilan untuk memakai kandungannya sebagai alat Tuhan mengerjakan pekerjaan besar.
Kita tidak akan bisa melihat hidup ini sebagai pintu kesempatan. kalau kita tidak membawanya di hadapan Tuhan dengan satu penghargaan penilaian yang terindah,segala sesuatu dapat menjadi berkat karena Allah. Kalau kita tidak punya prinsip seperti itu, tawaran yang terbaikpun kadang-kadang kita akan tolak. Tetapi pada waktu kita melihatnya sebagai berkat, kita akan menjalani pengalaman yang mungkin berbeda.
Berani untuk menerima sesuatu yang mungkin belum pernah kita lakukan dalam hidup ini bersama Tuhan. Kalau Tuhan memberi kesempatan tahun depan mendapat pekerjaan yang lebih baik, pelayanan, yg lebih baik, why not , sementara kita memandang kapasitas diri yg kecil atau belum pengalaman. Jika Tuhan yg memanggil kita, katakan YA saya bersedia apapun resikonya karena saya tahu Tuhan yg mengutusnya
Hidup ini bukan soal happy or unhappy tetapi kita diberkati atau tidak. Apapun yang kita dapat, apapun yang kita raih, jika tujuannya untuk membuat kita happy, kita akan menggerutu karena kita merasa semua itu hasil kerja dan usaha kita sendiri, itu hal yang berhak dan layak kita dapat. Tetapi berkat konsepnya terbalik. Walaupun kita mengejar sesuatu, walaupun kita meraih sesuatu, ada satu perasaan sebenarnya hal ini tidak layak datang kepada hidupku. Kalau akhirnya itu terjadi, kita berbahagia karena kita merasa itu sebagai berkat dari Tuhan.
Maria menerima ini sebagai berkat ,ia bersukacita meskipun dia sadar dia akan diejek dan dipermalukan, tetapi dia melihat ini sebagai anugerah baginya. Maria menerima kehendak Tuhan. Itu perlu keberanian. Tetapi dia melihat itu sebagai kesempatan, sebagai berkat, sebagai anugerah dari Tuhan.

c. Berani Mengerjakan perkara yg tidak mungkin sebagai kesempatan yg mungkin
Maria berkata: bagaimana mungkin?” Maria sesungguhnya sadar bahwa ia tidak dapat melihat kemungkinan itu terjadi, realitanya tidak bisa, sebab dia belum bersuami. Tetapi ia bersedia dipakai Tuhan dengan caranNya sendiri yg tidak mungkin menurut perspektif manusia.
Pada waktu orang Eropa pertama kali datang ke South Africa mereka kaget. Mereka melihat anak-anak kecil sedang bermain kelereng. Batu yang dipakai berwarna putih, waktu mereka asah, batu itu menjadi berlian. Di balik hidup kita mungkin banyak material yang seperti itu yang tidak terlihat dan hanya dipakai untuk bermain saja. Tetapi kalau kita sungguh-sungguh melihat itu dari mata Tuhan, nothing is impossible. Itu bisa menjadi berlian yang indah di dalam hidupmu. Put it in your perspective, meskipun belum terjadi sekarang.
“Tidak ada satu orangpun lahir langsung sukses.
Tidak semua orang bisa jadi orang sukses.
Tetapi kesuksesan bisa datang kepada siapa saja.
Bagaimana kita mengubah hidup dari baik menjadi agung, berbahagia dan diberkati?
Jangan gentar jika Tuhan meminta kita untuk mengerjakan kehendakNya, sekalipun engkau belum pernah mengerjakannya.

Jangan pahit memegang apa yang sudah lewat di masa lampau sehingga kita tidak mau melangkah untuk hari depan.
Ketakutan akan kegagalan masa lampau yang terus kita simpan di dalam hidup kita sehingga kita tidak berani untuk maju.
Pertanyaannya: apakah nasib kita di masa depan harus ditentukan oleh pengalaman kepahitan kita di masa lampau?
Memang betul masa lampau tidak bisa kita hapus dari sejarah hidup kita, tetapi jangan sampai dia mengontrol hidup kita.
Tingkatkan terus standar pengharapan kita bersama dengan Allah

Kita ingin ekspektasi hidup kita terus maju, demikian juga hidup rohani kita. Tercapai atau tidak, itu urusan belakang. Tetapi naikkan terus ekspektasi itu. Jangan ingin terus mengerjakan hal yang sama dalam hidup ini. Jangan merasa kita sudah melakukan pengorbanan yang besar dalam hidup ini. More than that.
Di dalam sejarah American Football pernah tercatat satu hal yang sangat mengesankan. Seorang pemain football bernama Roy Riggles dalam pertandingan final melakukan satu touchdown lari begitu jauh. Seluruh penonton terdiam. Baru dia sadar ternyata dia berlari ke gawang sendiri. Dia malu bukan main. Dia menolak untuk melanjutkan permainan di babak selanjutnya. “I’m finish,” katanya. Setengah permainan, pelatih masuk ke dalam dan berkata kepadanya, “Kau bisa pilih, terus duduk di situ dan mengakhiri game ini dengan memory orang tidak pernah lupa Roy Riggles did a memorable touchdown in a wrong side. Atau, you keluar, sebab the game is half over.” Dia berdiri lalu keluar dan dia main. Dan sejarah mencatat di sisa game itu Roy Riggles bermain seperti kesetanan.
Sudah gagal? Sudah salah? Ingat, the game is half over. You still have another game. He raised his bar of expectation.
Saya bikin satu kegagalan, saya akan bikin lima kesuksesan. Saya bikin dua kegagalan, saya akan bikin sepuluh kesuksesan. Tahun ini saya baru mengerjakan satu hal. Tahun depan saya akan mengerjakan tiga hal. Itu namanya hidup. Itu namanya ekspektasi. Itu namanya keinginan desire dalam hidup kita. Tidak ada orang besar dalam dunia ini tidak lahir dari mimpi yang besar. Dan tidak ada orang besar dalam dunia ini yang menjadi besar karena tidak memiliki mimpi yang besar. Walaupun kita tahu tidak semua mimpi menjadi realita dalam hidup kita.
Tingkatkan terus kualitas pelayanan kita, kerahkan seluruh potensi besar yg sudah Allah percayakan dalam diri kita.

Selamat Natal 2011 gbu all