Minggu, 04 Desember 2011

“Memuliakan Kristus Yang Lahir"

Lukas 2:8-20


Berita Natal menurut Injil Lukas dikomunikasikan kepada publik melalui para gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Para gembala domba dan kambing merupakan gambaran dari komunitas masyarakat yang tidak terpelajar, miskin, lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun selain tampil sebagai orang-orang yang hidup sederhana. Mereka merupakan suatu lapisan masyarakat dengan sebutan: “am ha-aretz”. Kedudukan “am ha-aretz” yang umumnya disebut sebagai “rakyat jelata” sangatlah berbeda dengan kedudukan “ha-kohen ha-moshiah” yang menunjuk kepada Imam Besar. Mereka juga bukan “ziknei ha-edah” (para Tua-Tua). Sebab Imam Besar dan Tua-Tua selain menunjuk sebagai para pemimpin agama, mereka juga dianggap sebagai orang-orang yang telah dipilih oleh Allah dan menguasai Taurat. Padahal para gembala sebagai “am ha-aretz” justru sama tidak menguasai hukum Taurat, sehingga mereka dianggap kotor karena mereka tidak dapat memenuhi peraturan hukum Taurat sebagaimana seharusnya.

Gambaran Injil Lukas tentang para gembala yang tinggal di padang pada waktu malam itu sama sekali bukan karena mereka sedang menanti dan mencari datangnya sang Messias. Pikiran mereka saat itu bukan sedang merancang masa depan yang lebih cerah; tetapi mungkin mereka sedang berkutat dengan persoalan apakah yang esok hari mereka bersama keluarga masih dapat makan? Kehidupan para gembala di padang sungguh-sungguh merupakan gambaran konkret dari sebagian besar masyarakat Indonesia yang saat ini sedang terpuruk oleh kemiskinan, penderitaan, penyakit, kebodohan dan ketidakpastian akan masa depan yang lebih baik. Namun dalam berita Natal merekalah yang pertama-tama menerima penyataan dan kabar gembira dari Allah tentang datangnya seorang Juru-selamat. Luk. 2:9 berkata: “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar melilputi mereka dan mereka sangat ketakutan”.

Para gembala bukanlah tipe dari orang-orang yang religius, dan mereka sama sekali tidak memiliki bekal pemahaman teologis apapun. Tetapi saat itu tiba-tiba mereka mengalami kehadiran dari “Yang Ilahi”. Dalam kosakata Rudolf Otto mungkin para gembala waktu itu mengalami misteri ilahi yang membuat mereka terkejut namun pengalaman yang sangat mempesona (mysterium tremendum et fascinans). Di antara misteri ilahi yang membuat mereka terpesona, tak pelak mereka mengalami kegentaran spiritual (tremendum). Apakah yang dimaksud dengan pengalaman “tremendum” itu? Aldous Huxley dalam tulisannya yang berjudul “Words Words Words, La Spiga Languages”, 217-218 berkata:
"The literature of religious experience abounds in references to the pains and terrors
overwhelming those who have come, too suddenly, face to face
with some manifestation of the Mysterium tremendum. In theological language,
this fear is due to the in-compatibility between man's egotism and the divine purity,
between man's self-aggravated separateness and the infinity of God."

Pada intinya para gembala waktu itu mengalami suatu pengalaman religius yang berlimpah sehingga saat itu mereka mungkin dipenuhi oleh kengerian dan sesuatu yang mengejutkan. Pengalaman itu begitu menggetarkan, karena mereka berhadapan secara langsung dengan manifestasi dari misteri ilahi. Rasa takut yang menggetarkan tersebut dalam pengertian teologis disebabkan karena disadari terdapat perbedaan yang mencolok antara egoisme manusia dengan kekudusan ilahi, antara kenajisan diri manusia dengan Allah yang tidak terbatas. Walau demikian pengalaman yang menggetarkan dan menakutkan tersebut diteduhkan oleh perkataan malaikat Tuhan yang berkata: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk. 2:10). Kehadiran Allah memang menggetarkan dan menakutkan sebab Dia dapat menjadi api yang menghanguskan. Tetapi dalam peristiwa Natal, kehadiran Allah tersebut sama sekali bukan bertujuan untuk menakut-nakuti atau menteror manusia. Sebab para gembala tiap-tiap hari telah sering menderita dan mengalami rasa takut dengan dunia sekitar yang tidak menghargai dan menolak diri mereka. Justru berita Natal yang disampaikan kepada mereka adalah agar mereka mengalami “kesukaan besar”.

Memang waktu para gembala melihat kehadiran malaikat Tuhan, mereka sempat mengalami rasa “terkejut yang besar”, tetapi di balik pengalaman yang menggentarkan itu ternyata terdapat suatu “kesukaan besar”. Bahkan sangat menarik, berita tentang “kesukaan besar” itu disampaikan kepada mereka, agar mereka kelak dapat menjadi penyampai atau utusan Allah untuk “seluruh bangsa”. Kesukaan besar dari Allah tersebut tidak boleh mereka nikmati sendiri, tetapi mereka diutus untuk mengkomunikasikan kepada seluruh bangsa. Mungkin mereka sempat bertanya dalam hati, “siapakah kami para gembala yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan kesukaan besar kepada seluruh bangsa?”

Berita kesukaan besar dari Allah tersebut bukan suatu janji masa depan atau meneguhkan suatu peristiwa sebelumnya. Kedatangan sang Messias bukanlah persoalan “nanti” atau “peristiwa “sebelumnya”, tetapi sang Messias telah terjadi pada saat kini di awal Masehi. Itu sebabnya malaikat Tuhan berkata: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk. 2:11). Prinsip teologis ini sangat penting, karena kini banyak orang mengklaim sebagai “nabi zaman akhir” atau menyebut diri sebagai seorang “Messias”. Juru-selamat, yaitu Messias untuk semua bangsa yang dijanjikan oleh Allah bukanlah plural, tetapi singular (tunggal). Mungkin para Tua-Tua, Imam-Imam Kepala, Orang-orang Saduki dan Imam Besar waktu itu sibuk mempelajari dan mencari-cari di kitab Taurat tentang sosok Messias. Tetapi kini Allah telah menyingkapkan diri sang Messias yang dijanjikan saat itu kepada para gembala, sebagai wakil dari rakyat jelata. Para gembala dapat mengenali dan menemukan sang Messias bukan karena mereka sibuk mencari, membuat menganalisa dan gemar “berteologi”; tetapi mereka hanya menerima penyataan Allah yang melampaui akal dan pengertian mereka. Berita kesukaan besar tersebut sebenarnya suatu berita yang alamiah. Mungkin berita kedatangan sang Messias bagi umat Israel sebenarnya merupakan berita yang sangat mengejutkan (bdk.Mat. 2:3). Luar biasa karena Messias yaitu Kristus telah datang dalam sejarah umat manusia. Tetapi ternyata kedatangan sang Messias itu bukan melalui peristiwa yang “supra-natural”.

Sang Messias ternyata datang melalui peristiwa kelahiran biasa dan serba alamiah yang tempat geografisnya berada di kota Daud yaitu Betlehem. Apalagi malaikat Tuhan kemudian memberi penjelasan agar mereka dapat menemukan di manakah bayi Messias tersebut lahir, yaitu: “Dan inilah tandanya bagimu: kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan” (Luk. 2:12). Ciri-ciri keadaan sang Messias yang baru lahir ternyata tidak luar biasa. Dia lahir dalam keadaan yang sangat miskin sama seperti pola kehidupan sehari-hari yang dialami oleh keluarga para gembala. Sang Messias lahir di sebuah tempat dengan palungan, yaitu tempat makanan hewan. Bukankah para gembala sebenarnya sudah sangat mengenal dengan keadaan palungan, tempat makanan hewan peliharaan mereka? Justru di balik yang biasa, alamiah dan sederhana atau miskin tersebut hadirlah misteri ilahi dalam diri sang Messias, yaitu Kristus Tuhan. Para gembala kemudian mendengar nyanyian malaikat Tuhan: “Kemuliaan Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya” (Luk. 2:14). Bala tentara malaikat Tuhan tersebut menyanyi dan memuji Allah di depan para gembala yang miskin dan sederhana. Para malaikat tidak memyanyi dan memuji Tuhan di depan kalangan istana dan pejabat kerajaan serta orang-orang pandai atau para pemimpin agama. Sebab kemuliaan Allah di tempat yang maha tinggi hanya dikaruniakan kepada orang-orang yang berkenan kepadaNya.

Dalam berita Natal menurut Injil Lukas, kita menemukan beberapa paradoks yang saling terjalin erat, antara yang “natural” dengan “yang supra-natural”, antara “yang manusiawi” dengan “yang ilahi”, antara “kebodohan” dengan “roh hikmat”. Namun jalinan paradoks tersebut memberikan makna yang baru, menyentuh dan memberikan pencerahan, yaitu:
- Di balik rasa takut dan kegentaran yang dahsyat ternyata terdapat janji kesukaan besar.
- Di balik peristiwa yang biasa dan alamiah terdapat sesuatu yang luar biasa, yaitu kehadiran Kristus di tengah-tengah sejarah umat manusia.
- Di balik ketidaktahuan dan kelemahan manusiawi, tersedialah anugerah Allah yang berlimpah sehingga para gembala mengalami penyataan Allah yang memberi pengertian dan pencerahan iman.
- Di balik kehinaan dan kemiskinan manusiawi, hadirlah suatu kemuliaan Allah dari tempat yang maha tinggi.

Makna berita Natal memang bukan hasil pencarian, upaya dan prestasi spiritualitas manusia. Tetapi suatu penyingkapan ilahi sehingga manusia menemukan anugerah Allah yang memampukan mereka untuk mamahami dan mengalami kehadiran Allah yang “transenden” di balik realita kehidupan yang “imanen”. Itu sebabnya para gembala dengan mata iman yang baru kepada teman-temannya yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita” (Luk. 2:15). Mungkin kota Betlehem pada zaman itu seperti kota-kota lain menjadi tempat perdagangan dan persinggahan bagi banyak orang. Tetapi yang membedakan antara para gembala dan banyak orang yang pergi ke Betlehem adalah hanya para gembala yang mampu melihat bahwa di dalam kota Betlehem “telah terjadi” suatu peristiwa istimewa dengan lahirnya seorang Juru-selamat, yaitu Kristus. Setelah mereka sampai di tempat tujuan, mereka menemukan Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di suatu bekas makanan ternak. Saat itulah para gembala menyampaikan segala peristiwa yang mereka alami kepada Maria dan Yusuf. Para gembala yang sehari-hari hanya mampu berbicara perihal hewan peliharaan, dan berbagai persoalan hidup kini mereka diubah oleh Allah. Di depan Maria, Yusuf dan bayi Yesus, para gembala mampu memberikan kesaksian tentang pengalaman hidup yang telah mengubah seluruh paradigma dan keyakinan mereka. Dengan gairah yang baru mereka menyaksikan bagaimana karya dan penyataan Allah yang “luar-biasa dan menakjubkan” telah terjadi dalam kehidupan mereka. Namun mereka tidak kecewa ketika mereka wujud penyataan Allah tersebut dalam bentuk seorang bayi yang biasa dan sangat sederhana. Di kandang Betlehem itu, para gembala mampu melihat kehadiran Allah yang transenden dan yang imanen dalam diri bayi Yesus. Itu sebabnya para gembala kemudian kembali untuk menjadi utusan Allah tentang berita kesukaan besar bagi seluruh bumi. Luk 2:20 berkata: “Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka”.

Para gembala dapat menjadi penyaksi iman dan orang-orang yang memuliakan Allah, karena mereka dengan anugerah Tuhan mampu menyingkapkan dimensi realita sehari-hari yang sering kasar dan keras dengan mata iman yang baru, sehingga mereka menemukan kehadiran Allah yang luar biasa dalam hal-hal yang biasa. Sebaliknya kita sering terjebak oleh rutinitas kehidupan sehari-hari yang menghasilkan kepenatan, kejenuhan, rasa putus-asa dan tiadanya makna hidup. Dalam situasi yang demikian kita sering tidak mampu menyingkap dan “mentransendensikan” rutinitas dan kehidupan sehari-hari untuk melihat kehadiran Allah yang berkarya di tengah-tengah kita. Itu sebabnya kita sering gagal merayakan peristiwa iman dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita tidak mampu mempermuliakan Allah dalam kehidupan nyata setiap hari. Kita beranggapan bahwa tindakan memuliakan Allah hanya dapat terjadi dalam peristiwa ibadah, khususnya dalam peristiwa Natal. Akibatnya di luar perayaan ibadah, hidup kita sama sekali jauh dan terasing dari Allah. Tidak mengherankan jikalau dalam hidup sehari-hari kita sering gagal berperan sebagai para utusan Allah yang menyaksikan karya keselamatanNya. Kehidupan sehari-hari kita tanpa spiritualitas, tanpa iman dan kasih. Sehingga kehadiran dan kehidupan kita sering hanya menimbulkan atau mengakibatkan “ketakutan besar” bagi banyak orang. Padahal ketika kita menyambut panggilan Tuhan dengan berperan sebagai para utusanNya, kita dimampukan dengan kuasa anugerahNya untuk memberitakan “kesukaan besar” bagi sesama. Ini berarti tindakan memuliakan Allah bukan sekedar suatu ritual-ibadah, tetapi suatu kehadiran yang senantiasa menghadirkan syalom, yaitu damai-sejahtera dan keselamatan dari Allah bagi orang-orang di sekitar kita.

Jadi makna memuliakan Kristus berarti kita menghadirkan damai-sejahtera dan keselamatan Allah dari tempat yang tinggi ke situasi hidup sehari-hari yaitu kepada sesama dan orang-orang di sekitar kita. Sehingga melalui kehidupan kita, Allah berperan semakin efektif dan menjadikan kita sebagai para utusanNya untuk memberitakan kesukaan besar. Jika demikian, apakah kita telah memiliki spiritualitas kerendahan hati dan kesederhanaan hidup sebagaimana kehidupan dari para gembala di padang Efrata? Ataukah kehidupan kita terlalu menekankan prestige, kedudukan, kehormatan, pujian dan materialisme sehingga kita tidak pernah memiliki mata iman yang melampaui dan menembus “tembok-tembok area duniawi”? Dalam situasi yang demikian, sesungguhnya Kristus tidak pernah lahir dan mentransformasi kehidupan kita. Tanpa Kristus yang lahir dan membaharui hidup kita, sesungguhnya kekristenan kita telah mati. Kekristenan kita sekedar suatu identitas formal, tetapi kita telah kehilangan roh Kristus. Karena itu marilah kita memuliakan Allah dengan segenap hidup kita, baik melalui perayaan ibadah maupun melalui perayaan hidup sehari-hari. Amin.

YOHANES PEMBAPTIS: “AKU BUKAN MESSIAS”


Yes. 61:1-4, 8-11; Mzm. 126; I Tes. 5:16-24; Yoh. 1:6-8, 19-28
Pengantar
Buku  James D. Tabor yang kontroversial dan menggemparkan berjudul: “Dynasty of Jesus” (Dinasti Yesus) mengemukakan bahwa sesungguhnya “para pengikut perdana Yohanes dan Yesus menyebut diri sebagai para pengikut Jalan”. Dengan ungkapan demikian, James Tabor mau menyatakan bahwa Yesus dan Yohanes pada prinsipnya bersama-sama berada dalam satu gerakan atau satu aliran keagamaan yang berkembang pada zaman itu.  
Jadi baik Yohanes dan Yesus dalam pengertian ini memiliki kedudukan yang sejajar sebab mereka memiliki misi yang sama sebagai “para pengikut Jalan”. Lebih lanjut James Tabor membuat pernyataan yang sangat mengejutkan, yaitu: “ …… fakta yang dikenal luas bahwa Yohaneslah yang membaptis Yesus, dan bukan sebaliknya! Yesus datang kepada Yohanes dan bergabung dengan gerakannya. Di dalam kontekss Yudaisme purba tindakan ini bermakna bahwa Yesus adalah murid Yohanes, dan Yohanes adalah rabi atau guru bagi Yesus” <!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]-->).  Pertanyaan yang muncul adalah apabila kedudukan Yesus dan Yohanes sejajar, bahkan lebih jauh lagi ternyata Yesus hanyalah murid dari Yohanes Pembaptis maka makna Adven bukanlah peristiwa penantian akan kedatangan Yesus sebagai Tuhan; tetapi sekedar penantian teologis tentang hari penghakiman terakhir dari Allah. Konsekuensi logisnya adalah Yesus dan Yohanes kelak juga akan berada di bawah penghakiman Allah. Tetapi karena mereka telah membuktikan sebagai “para pengikut Jalan” yang setia dan hidup benar, maka pastilah mereka akan terbebas dari penghakiman Allah pada akhir zaman nanti.
Tidak mengherankan jikalau beberapa orang Kristen kemudian menjadi goyah imannya dengan pemikiran atau lebih tepat kita sebut “dugaan teologis” dari James Tabor tersebut. Padahal kita dapat melihat bahwa James Tabor yang menggunakan Alkitab sebagai acuan dugaan teologisnya tersebut, ternyata sering mengabaikan ayat-ayat yang justru meneguhkan bahwa Yesuslah sang Messias. James Tabor tidak mengulas sedikitpun pernyataan dari Yohanes Pembaptis ketika dia ditanya oleh para imam dan orang-orang Lewi yang diutus oleh Sanhedrin dengan pertanyaan: “Siapakah engkau?”. Jawab Yohanes Pembaptis adalah: “Aku bukan Messias, juga bukan Elia, dan juga bukan nabi yang akan datang itu” (Yoh. 1:20-21).  Dalam hal ini James Tabor ternyata tidak pernah mengulas secara eksegetis apa artinya ucapan Yohanes Pembaptis saat dia melihat Yesus datang kepadanya: “Lihatlah, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29).  Mengapa dia tidak mau mengulas? Karena pernyataan Yohanes Pembaptis tersebut dianggap oeh James Tabor tidak sesuai dengan alur dan tujuan dari pemikirannya! Padahal Yohanes Pembaptis kemudian menegaskan pengakuannya tentang Yesus: “Ia inilah Anak Allah” (Yoh. 1:34). Ini berarti James Tabor tidak menggunakan ayat-ayat Alkitab secara seimbang dan obyektif dalam membangun dugaan (hipotesa) “teologis”-nya. Bagi James Tabor,  Yesus hanyalah manusia biasa dan bukan Tuhan. Dengan kasus seperti sikap James Tabor atau Dan Brown (buku: “The Da Vinci Code”), kita dapat melihat bahwa kuasa dunia ini terus-menerus berupaya dengan segala macam cara untuk menolak ke-Messias-an Yesus.  Intinya mereka menolak berita Alkitab bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru-selamat manusia, sehingga mereka juga menolak pengharapan iman Kristen yang percaya pada kedatangan Kristus di akhir zaman.  Kuasa dunia berupaya menyingkirkan peristiwa dan makna dari Adven, sehingga umat manusia hanya mengarahkan hatinya semata-mata kepada penghakiman Allah dengan menyingkirkan Kristus sebagai pusat seluruh kehidupan. Padahal Kristuslah yang telah diberi wewenang penuh oleh Allah untuk menghakimi umat manusia.
Kompleks-Messianis
Saat ini kita sering terjebak oleh paradoks yang pada satu pihak berupaya untuk menyingkirkan ke-Messias-an Yesus sebagai Tuhan dan Juru-selamat, dan pada pihak lain terdapat ambisi yang begitu besar untuk mengangkat diri sebagai “messias”. Perjalanan sejarah telah membuktikan munculnya orang-orang yang bersikap “anti-Kristus” dan juga dipenuhi oleh orang-orang yang berambisi menjadi “juru-selamat”. Mereka bersikap “anti-Kristus” adalah agar mereka sendiri yang dapat menjadi “juru-selamat dan messias”. Tipe dan fenomena inilah yang dimaksudkan dengan gejala “messianic-complex” (kompleks-messianis), yaitu suatu gejala perasaan diri begitu besar, tinggi dan suci  karena mereka merasa telah dianugerahi suatu hubungan yang begitu intim dengan Allah sehingga mereka merasa berhak untuk mengatakan kehendak Allah dan menuntut orang lain untuk melakukan apa yang mereka kehendaki. Dalam masalah “messianic-complex” tersembunyi problem kejiwaan yaitu perasaan diri serba besar, tinggi, dan suci. Timbul suatu anggapan palsu bahwa tanpa peran mereka, maka segala sesuatu di rumah, di kantor atau di gereja tidak akan dapat berjalan dengan baik atau sempurna. Sehingga tidak mengherankan jikalau para penderita “messianic-complex” pada saat yang sama menderita penyakit jiwa yang bernama “megalomania” yaitu: keyakinan semu yang sesungguhnya tidaklah benar (delusi) bahwa dirinya merasa telah memperoleh suatu anugerah dan hak khusus dari “Tuhan” sebagai tokoh besar yang hadir dalam kehidupan ini.  Mereka sering mengklaim diri sebagai seorang “nabi”, “rasul”, “utusan Tuhan”, “messias”,  “avatar”(titisan), “mahluk yang paling mulia”, “wali” atau menyebut diri sebagai inkarnasi seorang tokoh besar, dan sebagainya. Karena itu mereka berupaya untuk mempesona banyak orang agar memuja dan memuliakan dirinya. Tentunya upaya mereka untuk mempesona orang lain dengan banyak cara, misalnya dengan membuat pernyataan-pernyataan yang diucapkan berasal dari “yang ilahi”, “suara sorgawi”, “sabda Allah”, dan sebagainya. Padahal semua cara tersebut sekedar suatu manipulasi psikologis saja agar banyak orang mengagung-agungkan dan taat kepada mereka secara mutlak.
                Di tengah-tengah kecenderungan yang demikian, kita justru mendengar pernyataan dari Yohanes Pembaptis yang berkata: “Aku bukan Messias, bukan Elia dan bukan pula nabi yang akan datang itu” (Yoh. 1:20-21, 25). Bukankah pernyataan dari Yohanes Pembaptis tersebut mencerminkan suatu kejujuran dan integritas diri yang begitu kokoh, di mana dia tidak mau sedikitpun untuk membesarkan dirinya? Padahal pada waktu itu orang banyak datang berbondong-bondong untuk menjumpai Yohanes Pembaptis. Bahkan lembaga keagamaan “Sanhedrin” mengutus para imam dan orang-orang Lewi untuk memperoleh suatu kepastian apakah Yohanes Pembaptis adalah seorang Messias yang telah dinantikan oleh umat Israel, ataukah mungkin dia adalah “inkarnasi nabi Elia”; dan juga apakah dia adalah nabi yang dinubuatkan oleh Musa di Ul. 18:15, 18). Ini berarti banyak orang Israel pada zaman itu melihat Yohanes Pembaptis memiliki kharisma rohaniah yang luar-biasa, sehingga mereka akhirnya bersedia untuk dibaptiskan di sungai Yordan. Terhadap penilaian dan  kekaguman orang Israel terhadap dirinya, Yohanes Pembaptis tetap tidak bergeming dan tidak berdusta bahwa dia bukanlah seorang Messias. Dia hanya menyebut dirinya sekedar: “suara orang yang berseru-seru di padang gurun” (Yoh. 1:23).
Padahal kita tahu bahwa suara yang berseru-seru di padang gurun hanyalah suatu suara yang umumnya sayup-sayup terdengar, tidak memiliki suatu “power” (kuasa), dan tidak memiliki pendengar yang jelas. Sangat kontras dan berbeda jikalau Yohanes Pembaptis berkata bahwa dia adalah suara yang datang dari langit atau dari sorga seperti bunyi halilintar, pastilah suaranya akan  terdengar oleh banyak orang. Bob Dylan menulis dalam syair lagu yang diinspirasi oleh  sikap Yohanes Pembaptis bahwa dia bukanlah Messias, yaitu: “You say you’re looking for someone who’s never weak but always strong / to protect you and defend you whether you are right or wrong, / someone to open each and ev’ry door, but it ain’t me, babe. . . / It ain’t me you’re looking for." (Kamu katakan mencari seseorang yang tidak pernah lemah tetapi selalu kuat untuk melindungi dan menjaga dirimu apakah kamu berlaku benar atau salah, seseorang yang membuka setiap pintu, tetapi itu bukanlah aku … Itu bukan aku yang sedang kamu cari). Dengan demikian kita dapat melihat aspek terdalam dari spiritualitas Yohanes Pembaptis yaitu seorang yang sangat rendah-hati, tidak pernah ingin menonjolkan diri, sangat sederhana dan jujur.  Karena dia menyadari dirinya hanya sebagai “suara yang berseru-seru di padang-gurun” maka Yohanes Pembaptis disebut sebagai “saksi” untuk memberi kesaksian tentang Terang yang telah datang ke dalam dunia yaitu Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 1:6-7). Jadi sangatlah jelas, bahwa seluruh Injil menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis bukanlah sang Terang yang datang ke dalam dunia. Dia hanyalah saksi yang memberitakan tentang “Terang” yang telah menjadi manusia (Yoh. 1:8). Ini berarti seluruh kehidupan Yohanes Pembaptis hanya ditujukan kepada satu misi dari Allah yaitu untuk menyiapkan umat Israel untuk menyambut kedatangan Kristus dengan sikap pertobatan. Dia secara tulus mengabdikan hidupnya untuk kemuliaan dan karya Kristus.
Utusan Kabar Baik
Berita yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis sangat efektif sehingga didengar dan menyentuh hati umat Israel disebabkan dia telah berhasil meniadakan segala aspek ambisi yang menyangkut kemuliaan dan kelebihan dirinya sebagai seorang utusan Allah. Tepatnya Yohanes Pembaptis bersedia “menanggalkan” segala atribut dan otoritasnya sebagai seorang hamba Allah, agar dia dapat menyaksikan secara efektif kemuliaan pribadi ilahi yaitu sang Terang di dalam diri Kristus. Di hadapan publik, Yohanes Pembaptis menyatakan sikapnya terhadap Kristus: “Membuka tali kasutNyapun akut tidak layak” (Yoh. 1:27). Kerinduan utama dari Yohanes Pembaptis adalah agar dia dapat menyampaikan kabar baik, bahwa Kristus sang Terang dari Allah telah datang ke dalam dunia. Di sini terdapat hubungan yang sangat signifikan dan kualitatif antara Yohanes Pembaptis sebagai “yang diutus” (the sent), dengan diri Kristus yang bertindak sebagai pengutus (the sender). Dia tidak mau sedikitpun merebut kemuliaan Kristus, dan karenanya dia berkata: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30).  Spiritualitas Yohanes Pembaptis tersebut seharusnya menjadi acuan dan tolok ukur bagi setiap orang yang sering merasa dirinya “penting” dan “besar”. Sayangnya dalam kehidupan sehari-hari kita sering dipenuhi oleh berbagai tipe dari orang-orang yang mengidap penyakit “megalomania” tetapi dengan suatu bungkus rohani bahwa mereka melakukan tugas pelayanan tersebut semata-mata untuk kemuliaan Kristus. Bukankah hampir di antara kita tidak bersedia untuk makin bertambah kecil, agar Kristus makin bertambah besar? Kita lebih sering menghendaki agar dalam nama Kristus yang bertambah besar, nama kita juga ikut melambung tinggi. Akibatnya kita gagal untuk menyampaikan kabar baik yang efektif, yaitu kabar keselamatan yang seharusnya mampu membebaskan umat manusia dari belenggu dosa.
                Apabila kita mau menanggalkan segala ambisi dan dorongan “megalomania”, maka kita akan dipakai oleh Tuhan sebagai penyampai kabar baik yang efektif dan dilengkapi oleh kuasa RohNya. Sebagaimana Yohanes Pembaptis, maka demikian pula nabi Yesaya. Dia dipanggil oleh Allah untuk menyatakan karya keselamatan yang membebaskan kepada umatNya, yaitu untuk: “menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung” (Yes. 61:1-2). Kehadiran dan karya nabi Yesaya tersebut ternyata mampu membangkitkan pengharapan bagi umat Israel, sebab Allah masih berkenan mengingat kesusahan dan penderitaan mereka. Sebab sebelum nabi Yesaya mampu memberitakan pembebasan dari Allah, dia terlebih dahulu telah dibebaskan oleh Allah dari segala belenggu dosa. Demikian pula seharusnya dengan kehidupan kita. Sebelum kita sungguh-sungguh dapat menyampaikan kabar baik, kehidupan kita seharusnya dipenuhi oleh kabar baik yang membuat kehidupan kita berubah. Sebelum kita memberitakan tahun rahmat Tuhan telah tiba, kehidupan kita juga seharusnya dipenuhi oleh rahmat Tuhan yang membebaskan. Peran dan pelayanan seorang utusan Allah akan bertambah efektif ketika kehidupan rohaniahnya senantiasa terbuka untuk diubah dan diperbaharui oleh Allah. Tetapi sebaliknya, segala karunia dan berkat rohaniah yang diterima dari Allah menjadi lumpuh ketika dia membiarkan dirinya untuk dikuasai oleh dorongan/ambisi “megalomania” (perasaan diri penting dan  besar). Itu sebabnya pada  masa Adven ini merupakan saat yang sangat tepat bagi kita untuk diubah dan diperbaharui oleh Tuhan agar kita dapat menyaksikan karya dan kemuliaan Kristus kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Untuk itu kita perlu menguji segala sesuatu dan memegang yang baik sampai kedatangan Tuhan Yesus (I Tes. 5:21); termasuk pula kesediaan untuk menguji diri sendiri sehingga kita dapat memerankan sebagai utusan kabar baik yang semakin efektif dan berkenan di hadapan Tuhan.  
Dipulihkan Untuk Memulihkan
Kita perlu terus-menerus berjuang untuk  membebaskan diri dari belenggu kuasa dosa, sehingga kita mampu melawan segala kecenderungan hati untuk meninggikan diri dan merebut kemuliaan Kristus. Tetapi harus kita ingat, bahwa yang menentukan pemulihan diri kita bukanlah diri kita sendiri tetapi karya keselamatan Allah. Manakala kita merasa mampu memulihkan (merestorasi) diri sendiri, maka kita akan kembali terjebak kepada perasaan diri sebagai orang yang “lebih” hebat (superioritas). Itu sebabnya Mzm. 126:1 menyatakan: “Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi”. Umat Israel mengungkapkan kesaksiannya bahwa mereka seperti orang bermimpi, sebab mereka tidak menyangka bahwa Tuhan berkenan berkarya dan memulihkan kehidupan mereka yang hancur. Artinya karya pemulihan Tuhan yang terjadi sungguh-sungguh di luar dugaan dan harapan mereka. Itu sebabnya mereka tidak pernah menganggap pemulihan Yerusalem sebagai hasil usaha dan prestasi mereka. Bahkan sebaliknya, umat Israel menyadari bahwa mereka tidak sanggup untuk memulihkan diri mereka sendiri. Itu sebabnya mereka berseru dan berdoa: “Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!” (Mzm. 126:4).  Dengan spiritualitas yang dipulihkan tersebut umat Israel dimampukan untuk menjadi alat di tangan Tuhan yang memulihkan sesamanya. Sangat berbeda keadaannya jikalau umat Israel menganggap pemulihan Yerusalem sebagai hasil usaha dan prestasi mereka, maka yang muncul adalah kecongkakan rohani. Sehingga mereka hanya mampu mengklaim diri sebagai umat pilihan dan kesayangan Tuhan, tetapi mereka tidak mampu membuktikan spiritualitas yang berkualitas untuk memulihkan kehidupan sesamanya.  Padahal tidaklah demikian efek dari karya pemulihan Allah.
                Hasil pemulihan dari Allah adalah sukacita. Mzm. 126:2-3 menyaksikan hasil dari karya pemulihan Allah, yaitu: “Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di  antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita”. Saat kehidupan kita dipenuhi oleh kerendahan hati yang menundukkan diri di bawah otoritas kasih Allah, maka kehidupan kita akan dipenuhi oleh sukacita yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini. Sebab sukacita kita tersebut lahir dari suatu ucapan syukur kepada Allah yang telah melaksanakan karya keselamatanNya. Bukankah dalam makna teologis yang sama rasul Paulus juga berkata: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa.  Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (I Tes. 5:16-18).  Di sini terletak perbedaan esensial antara seseorang yang memiliki kecenderungan dan tipe “megalomania” (perasaan diri “besar dan penting”), dengan seseorang yang mengucap syukur atas karya keselamatan Tuhan. Seorang megalomania selalu “mengucap syukur” dan memuji-muji diri sendiri sebab dia merasa sangat istimewa. Padahal secara psikologis, seorang “megalomania” pastilah seorang yang sakit jiwanya dan tidak mampu hidup di dunia riel tetapi hidup dalam delusi (keyakinan semu) atas impian dan bayangannya sendiri.  Sebaliknya seorang yang mengucap syukur atas segala karya keselamatan Tuhan pastilah seorang yang mampu menyadari keterbatasan dan kekurangan dirinya, namun serentak mampu menghargai dirinya sebab dia tahu bahwa Allah sangat mengasihinya. Itu sebabnya seorang yang hidup dalam pengucapan syukur tidak pernah memandang diri secara berlebihan (superioritas diri), tetapi juga tidak pernah memandang secara berkekurangan (inferioritas diri). Dia mampu memandang diri secara tepat menurut cara pandang dan penilaian dari Allah.
Panggilan
Penyangkalan diri Yohanes Pembaptis yang menyatakan bahwa dirinya bukanlah seorang Messias justru bertujuan untuk menegaskan kesaksian dan pengakuannya bahwa Yesus adalah sang Kristus. Yohanes Pembaptis mau menyatakan bahwa dia juga membutuhkan seorang Juru-selamat. Renungkan makna pujian dari Kidung Jemaat 402 yang syairnya ditulis oleh Fanny J. Crosby, yaitu: “Kuperlukan Juru-selamat”. Jikalau demikian, apakah dalam pergumulan hidup sehari-hari kita menyatakan kerinduan dan doa agar Kristus makin berkaya secara penuh?  Kalau Kristus telah menguasai hidup kita, maka kita akan dimampukan untuk membuang segala sikap atau anggapan diri sangat penting, dan juga mampu membuat sikap atau anggap diri serba kurang. Sebaliknya kita akan lebih mengedepankan untuk menjadi para utusan kabar baik yang menyampaikan karya keselamatan Allah yang memulihkan. Bagaimanakah respon saudara? Amin.         

MARIA LEMAH, TETAPI BERHATI MULIA


II Sam. 7:1-11, 16; Mzm. 89:1-4, 19-26; Rom. 16:25-27; Luk. 1:26-38

Pengantar
Peristiwa inkarnasi Firman Allah menjadi manusia dalam diri Kristus tidak dapat dilepaskan dari peran Maria. Sebab hanya melalui Maria, Allah telah memilih dan menetapkan Maria sebagai wanita yang diperkenankan untuk melahirkan Yesus Kristus. Di antara para wanita yang hidup pada zaman itu, Allah berkenan memilih Maria sebagai satu-satunya wanita yang boleh mendengar kabar gembira dari malaikat Tuhan.
Sehingga tidak mengherankan jikalau ibunda dari Yohanes Pembaptis, yaitu Elisabet membuat suatu pengakuan yang lahir dari Roh Kudus: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai  ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:42-43). Sosok Maria yang tinggal di desa kecil Nazaret, disebutkan oleh Alkitab sebagai “seorang perempuan yang paling diberkati Allah di antara semua perempuan”. Keadaan sosial-ekonomi yang miskin, usianya yang sangat muda dan posisinya yang sangat lemah sebagai seorang wanita ternyata tidak menghalangi kasih-karunia Allah yang berkenan menjadikan dia sebagai wanita yang layak untuk melahirkan Yesus Kristus.  Dalam hal ini sangat mengherankan bahwa Allah ternyata tidak memilih salah seorang wanita bangsawan yang tinggal di istana raja Herodes, atau wanita yang tinggal di kota Yerusalem. Bukankah pilihan Allah kepada Maria yang tinggal di Nazaret dapat merugikan kepentingan Allah? Sebab waktu itu siapapun tahu bahwa Nazaret adalah sebuah desa yang tidak ternama, yang rata-rata penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan dan umumnya kurang terpelajar. Itu sebabnya orang-orang Nazaret  zaman itu dikenal memiliki tingkah-laku yang kasar, kurang sopan, dan tidak ada yang berpengetahuan. Sehingga saat Natanael diajak oleh Filipus untuk mengenal Yesus yang tinggal di Nazaret, secara spontan Natanael berkata: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh. 1:46).
                Kita sering bersikap seperti Natanael dalam memaknai kehidupan ini yaitu cenderung membuat penilaian berdasarkan apa yang tampak oleh mata inderawi. Lalu kita juga terlalu mudah menggeneralisir segala sesuatu, misalnya suatu tempat yang kebanyakan masyarakatnya berwatak kurang baik, maka kesimpulannya adalah semua orang di tempat itu kurang baik. Bukankah pandangan dan penilaian kita tersebut dijungkir-balikkan khususnya saat kita merenungkan sosok Maria dalam karya keselamatan Allah? Kondisi sosial ekonomi dan pola hidup masyarakat Nazaret yang zaman itu kurang memiliki nilai plus, ternyata melahirkan sosok wanita yang berhati mulia. Maria bagaikan sekuntum bunga yang paling indah di antara para ilalang dan bunga-bunga liar lainnya. Bahkan dari pernyataan Elisabet yang dipenuhi Roh Kudus menyebut Maria dengan sebutan khusus, yaitu sebagai “ibu Tuhanku” (meter tou kuriou).  Apakah pernyataan Elisabet tersebut sangat berlebihan? Layakkah Elisabet  memberi predikat  dan pujian kepada Maria sebagai “ibu Tuhan”? Respon gereja Roma Katolik dan Orthodoks Timur sangat jelas, yaitu mengakui Maria sebagai “Theotokos” (bunda Allah). Tetapi umumnya gereja-gereja Protestan dan yang sealiran menolak sebutan Maria sebagai “Theotokos”. Kesulitan biblis (alkitabiah) yang dihadapi oleh gereja-gereja ini adalah bagaimana mereka harus menjelaskan ungkapan dari Elisabet yang menyebut Maria sebagai “ibu Tuhanku”.  Pernyataan Elisabet yang menyebut Maria sebagai “ibu Tuhan”  tersebut dijadikan salah satu acuan teologis dalam konsili ekumenis di Efesus tahun 431. Konsili di Efesus kemudian menetapkan sebutan Maria dengan istilah “Theotokos” (bunda Allah). Ini berarti sebutan Maria sebagai “Theotokos” (bunda Allah) seharusnya diakui berasal dari teks Alkitab dan konsili gereja-gereja Tuhan. Tetapi bagi gereja yang menolak Maria sebagai “Theotokos” (bunda Allah) ternyata ada cara lain untuk mengatasi masalah teologis tersebut, yaitu menggantinya dengan sebutan “Christotokos” yang artinya: “dia yang mempersalinkan/melahirkan Kristus”. Tetapi pertanyaan penting adalah makna manakah yang tepat secara alkitabiah untuk menyebut diri Maria, yaitu sebagai “theotokos” ataukah sebagai “christotokos”?  Atau mungkin kita dapat menemukan suatu istilah teologis lain dalam menggambarkan tokoh Maria dalam sejarah keselamatan Allah?
Maria: “Theotokos” Ataukah “Christotokos”
Sebagaimana dipahami bahwa gelar Maria sebagai “Theotokos” ditetapkan dalam persidangan gerejawi di Efesus tahun 431. Sebutan “Theotokos” terdiri dari 2 kata, yaitu “theos” (Allah) dan “tokos” yang artinya: proses kelahiran (parturition) atau persalinan (childbird). Secara harafiah, istilah “theotokos” adalah: “yang melahirkan Allah”. Dalam bahasa Inggris “theotokos” diterjemahkan dengan sebutan “Mother of God”. Bahasa Latin menterjemahkan “theotokos” dengan “Deipara”, “Dei genetrix”, “Mater Dei”. Bahasa Arab menterjemahkan dengan “Walidat Allah” (والدة الله), dan gereja-gereja Armenia menterjemahkan “theotokos” dengan “Astvatzamayr”  (Ô±Õ½Õ¿Õ¾Õ¡Õ®Õ¡Õ®Õ«Õ¶). Sebenarnya terjemahan-terjemahan tersebut tetap tidak tertampung atau kurang mengena, sehingga istilah “theotokos” sebenarnya sangat sulit diterjemahkan. Artinya setiap penterjemahan harus disertai dengan penjelasan teologis yang memadai. Kesalahpahaman yang terjadi seakan-akan Maria adalah “bunda Allah” yang telah ada sejak kekal. Padahal tidaklah demikian yang dimaksudkan dengan gelar Maria sebagai “Theotokos”. Sebab dalam teologi “theotokos” Maria tidak pernah dimaksudkan sebagai “isteri Allah” atau ibu dari Allah”. Karena tetap disadari secara penuh bahwa keberadaan dan hakikat Allah telah berada sejak kekal. Jadi kalau Maria disebut sebagai “Theotokos” sebenarnya dimaksudkan bahwa melalui dirinya, terjadilah inkarnasi Allah di dalam diri Yesus Kristus. Sehingga yang dilahirkan oleh Maria, bukan hanya Yesus sebagai manusia; tetapi juga Yesus Kristus yang adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. 
                Sebaliknya dalam sebutan “Christotokos” yang dikemukakan oleh Nestorius menyatakan bahwa Yesus Kristus terbagi dalam 2 pribadi, yaitu aspek manusiawiNya sebagai anak Maria; tetapi keilahianNya bukan. Dalam pengertian ini “Christotokos” berarti: “yang melahirkan Kristus” dipakai untuk  menunjuk kepada penjadian diri Kristus sebagai manusia tetapi  mengabaikan dan memisahkan keilahianNya. Tentu saja pandangan Nestorius tersebut tidak dapat diterima oleh gereja. Sebab bukankah Kristus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia? Keilahian dan kemanusiaan Kristus tidak pernah terbagi dan terpisah. Dalam diri Yesus Kristus, hakikat (natur) ilahi dan insani menyatu secara utuh dan sempurna.  Sehingga implementasi pengajaran “Christotokos” sangatlah berbahaya, karena dalam pemahaman teologis ini hanya menekankan kepada penjadian Kristus sebagai manusia yang dilahirkan oleh Maria, tetapi tidak memberi tempat kepada hakikat keilahianNya. Pemahaman teologis “Christotokos” dianggap oleh persidangan Efesus dapat merusak inti dari peristiwa inkarnasi Allah di dalam diri Kristus. Itu sebabnya konsili Efesus menyatakan “anathema” (kutuk) kepada golongan Nestorius, dan menerima teologi “Theotokos” yang telah dikemukakan oleh Cyrillus.  Jadi kalau gereja dalam konsili Efesus tahun 431 menerima Maria sebagai “Theotokos” tidak pernah dimaksudkan bahwa gereja atau umat Tuhan menyembah Maria sebagai “yang ilahi” atau “Allah”. Tidak pernah! Sebutan “Theotokos”  pada prinsipnya hanya mau menyatakan bahwa Maria sebagai media yang dipilih khusus oleh Allah sehingga inkarnasi Firman Allah dapat hadir dalam diri Yesus yang sungguh-sungguh adalah Allah dan juga adalah manusia seutuhnya. Jadi yang disembah dan dipermuliakan hanyalah Allah yang telah menyatakan diri secara trinitaris, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dengan demikian, pengakuan Elisabet kepada Maria sebagai “ibu Tuhan” (“meter tou kuriou”) dan sikap gereja-gereja Tuhan yang kemudian merumuskan dengan istilah “Theotokos” tidaklah pernah bermaksud untuk menyembah Maria sebagaimana diduga selama ini oleh banyak orang Kristen.  Namun satu hal yang pasti, Maria sungguh-sungguh tokoh yang begitu agung karena kemurahan dan kasih karunia Allah yang begitu khusus; sehingga dia tidak bisa begitu saja dianggap pemeran/tokoh “biasa” dalam karya keselamatan Allah Sebab melalui dirinya, terwujudlah inkarnasi Firman Allah yang sempurna, sehingga umat manusia memperoleh kehidupan dan keselamatan kekal.
Janji Allah Yang Tergenapi
Pilihan Allah atas Maria, bukan suatu pilihan acak. Allah memilih Maria untuk menggenapi janjiNya kepada Daud. Sebab kepada raja Daud, Allah berjanji akan mengokohkan takhtanya melalui keturunannya (II Sam. 7:12). Beberapa orang  bertanya, di manakah dasar alkitabiahnya untuk menunjuk bahwa Maria berasal dari keturunan Daud? Pertanyaan ini muncul karena Injil Matius dan Injil Lukas tidak pernah menyebut Maria sebagai keturunan Daud. Tetapi yang disebut secara eksplisit dalam Injil hanyalah Yusuf. Padahal sangat jelas bahwa Yusuf bukanlah ayah biologis dari Yesus. Yusuf adalah ayah angkat atau ayah yang bertindak sebagai pengasuh bagi Yesus. Bagaimana kita harus menjawab persoalan ini? Perlu dipahami bahwa Injil Matius dan Lukas ditulis dalam konteks masyarakat Patriakhal, di mana nama wanita sebagai seorang isteri tidak pernah disebut. Sebab menurut tradisi Yahudi, jika garis keturunan dibuat melalui istri, maka bukan nama wanita itu yang disebut dalam daftar silsilah, melainkan nama suaminya. Dalam hal ini memang cukup jelas bahwa Yusuf adalah keturunan Daud melalui Salomo. Sedangkan Maria berasal dari keluarga Lewi, tetapi dia juga adalah keturunan Daud melalui Natan. Dengan demikian Yesus yang dilahirkan oleh Maria secara hukum dan biologis berasal dari keturunan raja Daud. Di Luk. 1:32-33 malaikat Tuhan berkata kepada Maria: “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."   Pernyataan malaikat Tuhan tersebut juga merupakan acuan yang sangat mendasar untuk menegaskan bahwa Yesus adalah keturunan raja Daud. Ini berarti melalui Maria, Allah telah menggenapi janjiNya untuk menegakkan “takha” kerajaan Daud. 
                Melalui peristiwa inkarnasi Firman Allah yang dilahirkan oleh Maria, kini terbukalah suatu babak baru dalam sejarah umat manusia. Sebab dalam sejarah hidup manusia telah hadir sesosok Anak Manusia yang menjadi wujud paripurna dari perjanjian (covenant) Allah.  Dengan demikian sejarah umat manusia tidak lagi berjalan tanpa arah, karena sang Firman Allah telah menjadi suatu kenyataan hidup. Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Maria telah menjadi warga umat manusia dan hidup sama seperti manusia lain kecuali dalam hal dosa. Melalui Yesus Kristus, kehidupan umat manusia kini dipimpin di bawah kehendak dan otoritasNya sebagai Penguasa Hidup.  Memaknai teologi perjanjian Allah (theology of the covenant of God) dalam kehidupan riel kita, maka kita dipanggil untuk mendasarkan kehidupan ini berdasarkan perjanjian Allah. Kita perlu menyikapi dan memaknai setiap peristiwa yang terjadi dengan tetap berpijak kepada perjanjian Allah, sehingga kita senantiasa dapat memperoleh inspirasi yang segar, yang membebaskan dan yang mampu mengarahkan diri kita kepada Allah.  Pola hidup yang demikian akan memampukan kita untuk menghadapi berbagai perubahan dan kemungkinan-kemungkinan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pemahaman teologi perjanjian Allah yang disampaikan kepada Maria,  mengingatkan saya kepada ucapan Bruce G. Epperly, yang berkata:  “Covenant is a source of inspiration and guidance; it defines who we are and what we are called to do. Covenant is also a promise that God was, is, and will be our companion, guiding us forward to new possibilities and adventures of service and fidelity” (Perjanjian sebagai suatu sumber inspirasi dan bimbingan; yang menegaskan siapakah diri kita dan apa panggilan yang harus kita lakukan. Perjanjian adalah juga suatu janji bahwa Allah yang dahulu,  sekarang dan akan menjadi bagian dari persekutuan kita, memimpin kita ke arah kemungkinan-kemungkinan baru dan berbagai ziarah pelayanan dan kesetiaan). Dengan demikian, ketaatan Maria telah membuka kemungkinan baru dalam sejarah keselamatan, sehingga umat manusia dapat memiliki pengharapan dan perspektif iman yang membebaskan.
Ketaatan Di Tengah  Bayang-Bayang Kematian
Maria adalah satu-satunya wanita yang terpilih dan mendapat kasih-karunia Allah yang sangat istimewa untuk melahirkan sang Messias. Tetapi pada sisi lain, kasih-karunia dan berkat Allah yang istimewa tersebut sebenarnya dapat membawa  Maria  kepada situasi yang sangat berbahaya. Siapa yang tahu bahwa waktu itu Maria mengandung dari Roh Kudus. Masyarakat hanya tahu bahwa Maria saat itu belum menikah, tepatnya dia baru dalam status bertunangan, sehingga peristiwa kehamilan Maria akan menjadi suatu persoalan besar. Di Ul. 22:23-24, hukum Taurat menyatakan: “Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan, jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu”.   Inti dari hukum Taurat  di Ul. 22 pada hakikatnya adalah untuk memelihara kekudusan perkawinan, sehingga segala sesuatu yang cemar haruslah dihapuskan. Termasuk pula wanita yang masih gadis, atau wanita yang telah bertunangan dan wanita yang telah bersuami – semuanya harus hidup kudus sebagai umat perjanjian Allah. Dengan demikian, Maria yang mau menyambut kabar  dari malaikat Tuhan sebenarnya berada dalam situasi yang sangat berbahaya bagi keselamatan dirinya. Masyarakat yang tinggal di Nazaret dapat menghukum Maria dengan hukuman rajam.
                Tetapi ternyata Maria menjawab berita dari Malaikat Tuhan tersebut dengan kerendahan hati dan sikap iman yang luar-biasa. Dia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Maria yang masih muda-belia itu memposisikan dirinya selaku hamba Tuhan dan menempatkan kehendak Allah di atas segala-galanya. Dia menyambut kehendak Allah tersebut dengan hati yang tulus, walaupun dia menyadari bahwa ketaatannya dapat berakibat buruk. Jadi di balik kepapaan dan kebeliaan Maria, ternyata menyingkapkan keagungan iman dan kasihnya kepada Allah. Dia lebih menonjolkan ketaatannya yang mutlak dan siap menanggung risiko asal kehendak Allah terlaksana. Bukankah sikap Maria yang taat tanpa syarat kepada Allah merupakan model spiritualitas orang beriman yang paling ideal? Tetapi kehidupan kita justru sebaliknya! Sebab model spiritualitas yang sering kita kembangkan adalah model ketaatan yang serba bersyarat. Kita mau taat kepada Tuhan, asalkan keinginan dan harapan kita dapat terpenuhi.  Kita mau setia kepada Kristus, asalkan menguntungkan diri kita. Kita mau mengikut dan percaya kepada Kristus, asalkan kita tidak menanggung risiko yang buruk. Tepatnya model spiritualitas yang sering kita kembangkan adalah proses penguatan atau kristalisasi dari egoisme diri, di mana kehendak atau kepentingan diri begitu ditonjolkan sehingga ruang untuk kehendak Allah tidak tersedia. Dalam hal ini ruang hati kita yang begitu luas lebih banyak didominasi oleh kehendak dan keinginan diri, sedangkan ruang untuk kehendak Allah ditempatkan di ruang yang paling sudut dan terpencil. Tetapi anehnya, orang-orang dengan tipe spiritualitas demikian sering gemar membuat ungkapan-ungkapan yang saleh dan sangat rohani, tetapi kehidupan mereka sangat miskin dengan ketaatan dan kesetiaan.
Panggilan
Di Rom. 16:25-26 rasul Paulus memberi kesaksian: Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya,  tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman”. Melalui Maria, Allah telah menjadikan Maria sebagai mediaNya yang  sangat istimewa sehingga penyataan rahasia Allah yang berabad-abad lamanya akhirnya tersingkap dan hadir dalam sejarah hidup manusia. Penyataan rahasia Allah tersebut adalah Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam hal ini ciri yang paling menonjol dari Tuhan Yesus dan Maria, ibuNya adalah ketaatan yang mutlak dan tanpa syarat kepada Allah. Sehingga melalui Maria kita dapat belajar model spiritualitas ketaatan iman, dan melalui Yesus Kristus kita telah diperkaya dan diselamatkan melalui ketaatanNya sebagai Anak Allah yang mau mengosongkan diri. Jika demikian, apakah kehidupan rohani kita setiap hari ditandai oleh ketaatan dan kesetiaan yang tanpa syarat sebagaimana yang dinyatakan oleh Kristus? Seandainya saat ini kita merasa miskin dan papa, tidak terlalu berpengetahuan serta tidak berdaya; jangan mengecilkan dan mengasihani diri sendiri untuk memberi alasan tidak sanggup melaksanakan kehendak Allah. Lihatlah diri Maria yang juga papa, miskin dan tidak terpelajar tetapi memiliki hati yang begitu agung dan setia melaksanakan kehendak Allah tanpa syarat. Sehingga tepatlah Maria bukan hanya ibu bagi kanak-kanak Yesus, tetapi dia juga adalah “ibu beriman” bagi kehidupan kita. Amin.

MASIH ADAKAH TEMPAT BAGI KRISTUS?


Yes. 9:2-7; Mzm. 96; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14, 15-20 

Pengantar
Dalam kehidupan sehari-hari tidak ada seorangpun di antara kita yang tidak membutuhkan “tempat” atau “ruang”. Apakah tempat tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat berteduh, tempat dan ruang berkomunikasi, tempat studi, tempat  mengembangkan diri, tempat bermain, tempat berbagi rasa, tempat beribadah, tempat bekerja, dan sebagainya.

Makna ruang bagi manusia bukan sekedar suatu tempat yang bersifat fisik seperti tersedianya sebuah gedung, rumah, sekolah, mal/plaza, pasar, gereja, dan akses jalan raya. Tetapi juga makna ruang menunjuk kepada tersedianya situasi batiniah atau rohaniah yang personal. Misalnya kita dapat merasa “sesak” di dalam gedung yang cukup luas karena kita tidak  memperoleh penghargaan yang sewajarnya. Keadaan “sesak” di sini lebih menunjuk keadaan batin kita yang merasa tertekan  karena orang-orang di sekitar bersikap mengabaikan dan merendahkan diri kita. Sebaliknya kita juga dapat merasa “nyaman” dan “lapang” di suatu ruang yang sempit secara fisik sebab kita memperoleh kehangatan kasih, keakraban, dan persaudaraan yang tulus. Dengan demikian makna “ruang yang sempit” atau “ruang yang lapang” sangatlah relatif bagi setiap orang sebab tergantung dari kualitas relasi yang terjalin di dalamnya.  Semakin tinggi kualitas relasi atau komunikasi kita dengan orang-orang di sekitar kita, maka sebenarnya kita telah memperoleh ruang batiniah yang lebih lapang dan melegakan. Tetapi semakin rendah kualitas relasi atau komunikasi kita dengan orang-orang di sekitar kita, maka sebenarnya ruang  batin kita menjadi serba sempit, menekan, menyesakkan, mengancam, bahkan  menakutkan walau kita hidup di suatu gedung yang sangat mewah dan megah. Keleluasaan ruang batin tidak senantiasa identik nilai dan ukurannya dengan keleluasaan ruang fisik.

                Allah diimani sebagai satu-satunya Tuhan yang menciptakan ruang kehidupan yaitu bumi dengan segala isinya. Dialah Tuhan yang berada di tempat yang tidak terbatas. Dia serba tidak terbatas oleh waktu dan ruang, sebab waktu dan ruang hanyalah ciptaanNya. Keberadaan Allah lebih tepat disebut sebagai keberadaan yang kekal (eternal), maha-hadir (omnipresent), melampaui segala sesuatu (transcendent). Namun ketika Allah dalam inkarnasi Kristus hadir dalam sejarah kehidupan manusia, Alkitab menyaksikan situasi yang paradoksal. Injil Yohanes 1:10-11 menyaksikan: Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”.  Saat Allah yang telah menciptakan ruang dan alam datang ke bumi, ternyata umat ciptaanNya tidak mau menyediakan ruang bagiNya.  Dia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi manusia tidak mengenal dan menolak kehadiranNya. Dengan demikian peristiwa Natal sebenarnya juga menyaksikan bagaimana sikap manusia yang tidak tanggap terhadap kehadiran Allah, sehingga manusia lebih memilih untuk menutup setiap ruang kehidupan yang dimilikinya. Yang mana pilihan dan penolakan kita tersebut telah membuat semua kemungkinan atau celah yang ada telah tertutup rapat, sehingga hanya tinggal satu kemungkinan yaitu tidak tersedianya tempat bagi Allah. Bukankah sejarah kehidupan kita sering ditandai oleh berbagai respon penolakan  terhadap kehadiran Allah dan FirmanNya? Kita sepertinya sering mencoba untuk menyingkirkan Allah dalam ruang kehidupan kita dan kalau perlu kita berupaya untuk membunuhNya. Sebagaimana yang dikatakan oleh  Frederick Nietzche: “God is dead” (Allah telah mati). Kalau Allah telah mati, maka tertutuplah segala kemungkinan bagi manusia untuk memperoleh perlindungan. Manusia merasa dirinya bebas sehingga manusia dapat menentukan dirinya lebih leluasa. Dalam realita hidup kita tidak hanya berupaya menyingkirkan Allah secara filosofis dan teologis, tetapi juga dalam praktek dan tindakan. Kita umumnya lebih menyukai untuk memenuhi seluruh ruang hati kita dengan mengejar ketamakan seperti materi, uang, sikap yang ambisius, hawa-nafsu seks dan popularitas.
Berkat Yang Tersembunyi?
Karena perintah kaisar Agustus, Yusuf dan Maria harus pergi dari Nazaret menuju Betlehem yang berjarak sekitar 170 km dengan berjalan kaki. Mereka harus pergi ke Betlehem untuk pendaftaran sensus karena Yusuf dan Maria berasal dari keturunan raja Daud.  Firman Tuhan kepada Samuel berkata: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku" (I Sam. 16:1). Keterangan I Sam. 16:1 sangat jelas menyatakan bahwa raja Daud dan leluhurnya berasal dan lahir di kota Betlehem (bdk. Luk. 2:4-5 dengan Rut. 1:1-2, 19; 4:17). Dari sumber ini kita dapat melihat bahwa bukan hanya Yusuf saja yang keturunan Daud, tetapi juga Maria. Sebagaimana diketahui bahwa Yusuf adalah keturunan Daud melalui Salomo. Sedangkan Maria berasal dari keluarga Lewi, tetapi dia juga adalah keturunan Daud melalui Natan (Luk. 3:32).  Dengan demikian Yesus yang dilahirkan oleh Maria secara hukum dan biologis berasal dari keturunan raja Daud. Jika demikian, bukankah melalui perintah kaisar Agustus yang mewajibkan setiap penduduk di wilayah   kekuasaan kerajaan Romawi khususnya bagi Yusuf dan Maria untuk didaftarkan di tempat asal mereka masing-masing sebenarnya merupakan suatu berkat yang tersembunyi (blessing in disguise)?  Artinya melalui perintah kaisar Agustus tersebut, Yusuf dan Maria dapat kembali menengok sanak famili atau kerabat yang masih tinggal di Betlehem. Selain itu khusus untuk Maria, dia dapat melahirkan di tengah-tengah keluarga besar keturunan raja Daud. Bukankah suatu sukacita besar bagi seorang wanita dapat melahirkan anak di tengah-tengah keluarga besar mereka? Tradisi Timur di Israel, seperti halnya budaya Jawa pada umumnya memiliki kebiasaan bagi seorang wanita untuk kembali pulang ke rumah orang-tua atau kerabat saat dia akan melahirkan seorang anak.
                Tetapi tampaknya kota Betlehem saat itu sedang sibuk dengan para pendatang yang juga memiliki tujuan seperti yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria untuk pendaftaran sensus penduduk. Demikian pula halnya dengan para kerabat dan sanak famili dari Yusuf dan Maria. Mereka juga sibuk dengan berbagai urusan dan persoalannya masing-masing. Sehingga mereka tidak dapat membantu Maria untuk melahirkan anaknya di tengah-tengah keluarga besar keturunan Daud. Bahkan juga tempat penginapan di kota Betlehem telah penuh.  Padahal Maria pada waktu itu telah tiba saatnya untuk bersalin. Luk. 2:6-7 menyaksikan: “Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”. Apa yang dialami oleh  Maria sepertinya sesuatu yang wajar. Karena orang-orang Betlehem dan kerabat telah sibuk dengan urusannya masing-masing dan tempat di rumah mereka telah penuh, maka  harap dimaklumi jikalau mereka tidak dapat menyediakan tempat bagi Maria untuk melahirkan Anaknya di tengah-tengah mereka. Budaya kita sering membuat “permakluman” dengan alasan kesibukan atau sedang repot, sehingga kita sering tidak tanggap dengan kesusahan dan pergumulan orang-orang dekat di sekitar kita.  Itu sebabnya alasan kesibukan atau kerepotan sering menjadi senjata yang sangat ampuh untuk membenarkan diri; yang  artinya kita tidak mau disalahkan apabila kita tidak dapat menyediakan sedikit “ruang” bagi orang lain.
                Yusuf dan Maria yang kemungkinan besar berharap dapat berada di tengah-tengah keluarga besar mereka, namun kini harapan tersebut kandas. Semua tempat kerabat dan tempat penginapan telah penuh, sehingga Maria terpaksa harus melahirkan seorang Anak di tempat yang tak layak yaitu kandang ternak.  Bukankah cerminan peristiwa yang dialami oleh Yusuf dan Maria yang melahirkan Kristus di tempat yang tidak seharusnya merupakan gambaran dari kehidupan sehari-hari yang sering kita tidak tanggap untuk menyambut kehadiran Allah di tengah-tengah umatNya? Saat kita tidak mau menyediakan waktu dan hati untuk mendengarkan sesama atau saudara yang sedang menanggung beban yang sangat berat, maka sebenarnya kita juga tidak menyediakan “ruang” bagi Allah dalam kehidupan kita. Rasa enggan dan penolakan kita terhadap kehadiran orang lain merupakan cermin dari sikap spiritualitas kita yang enggan dan menolak terhadap kehadiran Allah yang sebenarnya hendak menyapa diri kita. Bukankah saat kita menolak kehadiran diri Allah, sebenarnya kita juga menolak keselamatan yang hendak dianugerahkanNya? Kita sering menolak kehadiran Allah karena kita tidak mau menyediakan suatu ruang khusus untuk menyambut kedatanganNya yang menyelamatkan. Dalam hal ini kita sering lupa bahwa keselamatan Allah tidak mungkin akan terwujud selama kita tidak menyediakan ruang bagiNya. Sebab bukankah keselamatan Allah membutuhkan konteks hidup, yaitu “ruang relasional” sehingga memungkinkan terjadi perjumpaan Allah dengan umatNya? Tanpa ruang atau konteks hidup, keselamatan dari Allah hanyalah suatu harapan yang utopis belaka.
Umat Yang Menyediakan Ruang
Kisah kelahiran Kristus di Betlehem ditandai oleh peristiwa yang paradoksal. Pada satu pihak disaksikan bahwa kerabat dan famili Yusuf atau Maria tidak dapat membantu untuk menyediakan tempat untuk melahirkan Anaknya. Namun pemilik  kandang dan para gembala justru dikisahkan oleh Injil  Lukas lebih tanggap terhadap kesulitan yang dihadapi oleh Yusuf dan Maria. Pemilik kandang berkenan memberi tempat bagi Maria untuk melahirkan Anaknya, sedang para gembala bersedia datang beramai-ramai datang menengok bayi Yesus. Pada intinya baik pemilik kandang dan para  gembala bersedia menyediakan ruang, yaitu ruang fisik bernama kandang dan ruang hati berupa kesediaan untuk menyambut. Mereka merupakan representasi dari umat yang dengan tulus mau menyediakan ruang bagi karya keselamatan Allah. Sehingga tidak mengherankan, jikalau kabar baik tentang kelahiran Kristus disampaikan Allah melalui para malaikatNya kepada para gembala yang  sedang menjaga kawanan ternak mereka. Kata para malaikat kepada para gembala: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan" (Luk. 2:10-12). Hanya kepada para gembala, para malaikat memberitakan suatu kesukaan besar bagi seluruh bumi sebab kini telah lahir Kristus Tuhan di kota Daud. Mereka diminta untuk datang mengunjungi bayi Yesus yang terbaring dalam palungan (tempat  makanan ternak). Tentu saja tanda yang disebut oleh para malaikat telah begitu akrab atau familiar bagi para gembala. Mereka tahu dengan persis apa artinya “kandang dan palungan”. Sehingga kelahiran bayi Yesus Kristus di palungan yang dinyatakan oleh malaikat sebagai Tuhan dan Juru-selamat bagi para gembala merupakan peristiwa yang begitu akrab dan cocok dengan situasi hidup mereka sehari-hari. Di satu pihak para gembala pernah gentar (pengalaman “tremendum”) saat para malaikat menampakkan diri di hadapan mereka, tetapi sikap mereka kemudian berubah takjub dan bertanya-tanya  saat mereka melihat bayi Yesus di dalam palungan (Luk. 2:17-18).   Dalam hati para gembala timbul suatu perasaan takjub akan keagungan Allah (pengalaman “fascinans”), tetapi juga makna kelahiran Kristus masih tersembunyi sebagai rahasia ilahi (pengalaman “mysterium”) yang belum sepenuhnya dimengerti oleh mereka. 
                Tokoh para gembala sebagai representasi dari umat yang bermurah-hati menyediakan ruang hati bagi Kristus pada hakikatnya bukan terjadi karena mereka senantiasa hidup serba miskin dan berkekurangan secara materi. Sebab tidak otomatis setiap orang yang miskin secara materi atau ekonomis senantiasa akan menjadi orang-orang yang bermurah-hati  dan mau menyediakan ruang bagi sesamanya. Justru karena alasan “miskin” atau hidup “kekurangan” bukankah cukup banyak orang menjadi sangat kikir dan egoistis, sehingga mereka sering menolak atau mengelak untuk memberi bantuan kepada sesamanya? Karena kita merasa diri “miskin” dan hidup serba “pas-pasan”, maka kita sering enggan untuk menolong orang yang datang kepada kita.  Jadi lebih tepat para gembala yang dilukiskan di Luk. 2 pada prinsipnya representasi dari umat yang telah terbiasa hidup miskin, terhimpit dan tertindas; maka spiritualitas mereka lebih terlatih untuk hidup sederhana dan bersandar kepada anugerah Allah.  Dengan demikian tokoh para gembala merupakan simbolisasi dari umat yang “miskin” di hadapan Allah. Spiritualitas para gembala ditandai oleh kesederhanaan hidup, kesediaan untuk menghadapi ketertindasan dan pergumulan hidup dengan sikap  iman yang berserah penuh kepada Allah. Sehingga hati mereka lebih terbuka dengan keadaan dan persoalan sesamanya yang sedang menderita. Selain itu mereka percaya kepada janji Allah, bahwa Allah akan memulihkan dan menyelamatkan kehidupan mereka. Allah akan mengubah kehidupan mereka yang terhimpit dan penuh kenistaan menjadi kehidupan yang penuh pengharapan.
Nubuat Yang Tergenapi
Sukacita dan pengharapan yang dialami oleh para gembala sebagai representasi dari umat yang menyambut kehadiran Allah merupakan penggenapan janji Allah sebagaimana pernah disaksikan oleh Yes. 8:23 – 9:7. Semula umat Israel yang tinggal di tanah Naftali dan Zebulon berada dalam situasi yang kelam dan suram. Sebab daerah mereka mengalami kerusakan yang paling hebat akibat perang Syro-Efraimi tahun 734-733 sM. Tentara Asyur waktu itu telah melakukan penyerbuan dengan menyerang terlebih dahulu wilayah Naftali dan Zebulon di kerajaan Utara, baru kemudian  meluas ke wilayah kerajaan Israel Selatan yakni kerajaan Yehuda. Di tengah-tengah umat yang sedang terhimpit dan menderita itu, Allah berfirman kepada nabi Yesaya, yaitu: “Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain” (Yes. 8:23).  Itu sebabnya di Yes. 8:23 – 9:7 terjadi suatu perubahan situasi, dari situasi sedih dan putus-asa berubah menjadi penghiburan dan pengharapan. Sebab janji Allah menyatakan: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah  melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes. 9:1). Dalam konteks ini Allah telah menghadirkan janji keselamatan dan pengharapan yang baru di tengah-tengah umat Israel yang waktu itu sedang terpuruk dalam kesuraman hidup. Jadi dalam inkarnasi Kristus, umat diperkenankan mengalami karya keselamatan Allah yang membawa pengharapan baru; sehingga kini makin terbukalah ruang atau dimensi “syaloom” dalam arti yang sepenuh-penuhnya.  Sungguh, inkarnasi Kristus telah menghadirkan dimensi ruang rohaniah yang melegakan, membebaskan dan membuka suatu perspektif hidup yang baru. Sehingga sangat tepatlah ketika rasul Paulus berkata: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Tit. 2:11).  
                Ini berarti melalui peristiwa inkarnasi Kristus, selaku umatNya kita dipanggil untuk menggeser dan membuka sekat-sekat rohaniah yang menyebabkan ruang hati kita dipenuhi (disesaki) oleh berbagai macam kejahatan dan egoisme diri. Rasul Paulus juga berkata:  “yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Tit. 2:14). Sehingga dalam iman kepada Kristus, kita dapat menjadi umat yang kudus dan rajin berbuat baik. Bukankah kekudusan dan rajin berbuat baik merupakan kunci iman yang utama untuk menciptakan ruang yang membebaskan di tengah-tengah kesesakan hidup yang duniawi?  Tanpa kekudusan, kita akan menjadi umat yang cemar dan bergelimangan dosa. Dan tanpa spiritualitas yang rajin berbuat baik, kita akan menjadi umat gemar berbuat jahat. Padahal hidup cemar dan gemar berbuat jahat merupakan manifestasi dari spiritualitas yang menindas dan merusak nilai-nilai kehidupan ini. Bahkan juga pola hidup yang cemar dan gemar berbuat jahat akan menghancurkan martabat dan keagungan dari karya keselamatan Allah. Hanya dengan pola hidup yang kudus dan gemar berbuat baik saja yang memungkinkan kita menciptakan berbagai ruang yang menghadirkan syaloom Allah, yaitu keselamatan dan damai-sejahtera dari Allah secara konkret.
Panggilan           
Saat ini seluruh umat manusia telah didera oleh “krisis global” yang menyebabkan begitu banyak orang kehilangan pekerjaan dan tiba-tiba jatuh miskin. Mereka menjadi terpukul dan putus-asa. Sehingga banyak orang merasa makin sesak di tengah-tengah kompleksitas persoalan hidup ini. Dalam situasi demikian, ruang batiniah atau spiritualitas kita makin menyempit dan menekan, sehingga kita merasa terbelenggu tanpa daya. Situasi kehidupan kita saat ini seperti yang dialami oleh umat Israel yang tinggal di wilayah Naftali dan Zebulon. Serba kelam dan suram. Tetapi ternyata kasih Allah begitu besar, sehingga Dia tidak membiarkan kita terus-menerus berada dalam kekelaman dan kesuraman hidup. Di dalam inkarnasi Kristus, Allah telah hadir sebagai terang besar yang membawa sukacita bagi setiap orang agar  mereka mengalami pembebasan, kelegaan, damai-sejahtera dan keselamatan. Ini berarti dalam peristiwa Natal, kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Tit. 2:11).  Jika demikian, apakah kita yang saat ini diperkenankan merayakan inkarnasi Kristus bersedia membuka ruang hati kita bagi sesama yang lebih menderita? Semakin kita membuka ruang hati untuk menolong sesama, maka semakin luas pula ruang spiritualitas kita. Jadi damai-sejahtera Allah akan kita alami saat ruang hati kita makin meluas dan berhasil menyingkirkan sekat-sekat  penghalangnya. Sebaliknya perasaan gelisah dan tertekan akan kita alami saat ruang hati kita semakin menyempit dan dipenuhi oleh berbagai sekat penghalang. Jika demikian, apakah kita kini lebih memilih untuk menutup pintu dan ruang hati yang akan menyebabkan kita bersikap egoistis dan tidak mau peduli dengan kehadiran sesama? Damai-sejahtera Natal dari Kristus akan memampukan kita untuk lebih membuka ruang hati kita bagi orang-orang di sekitar kita, sehingga kita dapat menciptakan ruang kehidupan yang lebih memberdayakan dan membebaskan. Amin.

SUKACITA UNTUK SEMUA


Yes. 62:6-12; Mzm. 97; Tit. 3:4-7; Luk. 2:1-7, 8-20 

Pengantar
Kisah Natal yang dirayakan oleh gereja-gereja Tuhan pada umumnya ditandai oleh suasana sukacita dan kegembiraan. Tetapi apakah perayaan Natal yang penuh dengan sukacita dan kegembiraan, juga merupakan peristiwa faktual yang menyenangkan bagi Maria dan Yusuf? Atas perintah kaisar Agustus, Maria dan Yusuf harus pergi sementara waktu dari kota Nazaret ke Betlehem untuk melaksanakan pendaftaran sensus penduduk. Sebagaimana kita lihat jarak kota Nazaret ke Betlehem sekitar 80-90 mil atau sekitar 150-170 km, maka perjalanan Yusuf dan Maria bukanlah suatu perjalanan yang menyenangkan.
Selain perjalanan tersebut sangat jauh dengan cara berjalan kaki atau naik keledai, juga keadaan Maria pada waktu itu sedang hamil tua. Dari sudut ini sebenarnya kisah Natal yang dialami oleh para pelaku karya keselamatan Allah, yaitu Maria dan Yusuf bukanlah suatu kisah yang membawa sukacita atau kebahagiaan.  Kesulitan dan penderitaan dalam perjalanan   dari Nazaret ke Betlehem yang dialami oleh Maria terjadi sebagai konsekuensi jawaban Maria yang bersedia untuk mengandung dari Roh Kudus (Luk. 1:38). Seandainya Maria menolak panggilan dari malaikat Gabriel untuk mengandung dari Roh Kudus, Maria tidak akan mengalami penderitaan yang seberat ini. Mungkin dia tetap akan berangkat ke Betlehem tetapi bukan dalam keadaan hamil. Seandainya dia menolak perkataan malaikat Gabriel, Maria juga tidak perlu menanggung risiko berupa sanksi sosial dan keagamaan  dengan kehamilannya yang di luar kewajaran.
Makna kebahagiaan dan sukacita sering dipahami jikalau kita selalu mengambil keputusan yang serba aman, tidak beresiko atau berhadapan dengan  kesulitan.  Dalam konteks ini makna sukacita dan bahagia dipahami jikalau ritme kehidupan ini selalu berjalan serba datar, menjauh dari tantangan, dan mulus tanpa masalah. Tetapi seandainya pula Maria dan Yusuf menolak panggilan Allah demi rasa aman mereka, maka karya keselamatan Allah dalam inkarnasi Kristus juga tidak akan terwujud. Dunia dan umat  manusia tidak akan pernah mengalami kehadiran Allah dalam sejarah kehidupan mereka. Umat manusia sepanjang zaman tidak akan dapat mengalami sukacita sorgawi dengan datangnya sang Raja Kehidupan. Justru melalui kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh Maria dan Yusuf, terbukalah wilayah yang luas tanpa batas anugerah keselamatan dari Allah bagi umat manusia.  Sehingga melalui kerelaan dan sikap iman yang diperlihatkan oleh Maria telah mewujudkan perkataan nabi Yesaya: “Sebab inilah yang telah diperdengarkan TUHAN sampai ke ujung bumi! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang”  (Yes. 62:11). Sukacita Natal dapat kita  alami secara penuh karena keselamatan dari Allah telah datang!
Keselamatan Allah Telah Datang
Makna sukacita dalam kehidupan sehari-hari seringkali dilepaskan dari keselamatan Allah. Sukacita dalam kehidupan sehari-hari justru seringkali dikaitkan dengan keberhasilan untuk memiliki. Semakin banyak kita memiliki, maka semakin banyak pula kita bersukacita. Tetapi semakin banyak yang kita miliki hilang, maka hilang pula sukacita yang kita miliki. Ketika  nilai saham yang kita miliki merosot jatuh, maka hilanglah segala sukacita yang pernah kita miliki. Ketika investasi atau harta kekayaan yang kita miliki disita, maka hancurlah segala kebanggaan dan kebahagiaan hidup kita. Dengan demikian makna sukacita dan kebahagiaan yang kita miliki berubah-ubah seiring dengan apa yang kita dapatkan dan apa yang tidak kita dapatkan. Justru peristiwa Natal hendak menegaskan bahwa nilai atau makna sukacita dan kebahagiaan kita bukanlah ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tetapi ditentukan oleh seberapa besar kita menyambut keselamatan Allah yang telah datang. Peristiwa Natal justru merupakan momen yang penuh makna saat kita mampu melepaskan segala hal yang kita milliki agar terbukalah ruang hati yang luas untuk menyambut  peristiwa inkarnasi firman Allah menjadi manusia. Saat hati kita penuh sesak dengan berbagai barang atau milik secara dunia,  maka kita tidak dapat menyambut sukacita dan kebahagiaan Natal.
                Dalam bukunya yang berjudul “Authentic Happiness” (Kebahagiaan yang otentik), Martin Seligman, yang mana dia termasuk sebagai salah satu pendiri dari psikologi positif menyatakan bahwa kebahagiaan terdiri dari “emosi-emosi positif” (positive emotions) dan “aktivitas-aktivitas positif” (positive activities) yang terentang dari masa lampau, kini dan masa mendatang. Sehingga manakala masa lampau dan masa kini kita penuh dengan kepuasan, rasa bangga dan ketenteraman; serta sikap kita memandang masa depan dengan sikap yang optimistik, berpengharapan dan keyakinan maka niscayalah kita akan berbahagia. Efek dari kebahagiaan yang demikian akan membebaskan diri kita dari penghalang-penghalang emosi, sehingga kita dapat lebih mampu menikmati pekerjaan dan aktifvitas-aktivitas yang lebih kreatif. Dengan cara hidup yang demikian, kita akan dapat mengalami makna hidup yang lebih penuh sebab kita mengarahkan tujuan hidup yang lebih besar dari pada tujuan-tujuan jangka pendek. Pemikiran Martin Seligman tersebut pada satu segi tentunya bermanfaat bagi kita untuk menghayati dan menemukan makna sukacita atau kebahagiaan. Tetapi pandangan Martin Seligman dan seperti para pemikir yang lain umumnya menempatkan makna sukacita atau kebahagiaan sebagai hasil upaya manusia untuk mengelola emosi-emosi secara positif agar dapat menghasilkan kegiatan atau tindakan yang positif. Mereka memandang kebahagiaan sebagai hasil dan upaya manusiawi. Tetapi tidaklah demikian dengan berita Natal. Kebahagiaan dan sukacita pada hakikatnya merupakan anugerah keselamatan dari Allah. Di Tit. 3:4-6, menyatakan: “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita”.  Justru di saat kita gagal untuk berpikir positif dan hidup yang tidak tenteram serta penuh penderitaan, di situlah kita diperkenankan mendengar tentang kemurahan hati dan kasih Allah. Saat hidup kita terpuruk dan tidak berharga, kita memperoleh pengharapan sebab Allah mengasihi kita dalam inkarnasi Kristus.
Penguasa Kehidupan
Injil Lukas menyaksikan bahwa kaisar Agustus telah mengeluarkan suatu perintah yang  memerintahkan untuk mendaftarkan semua orang di seluruh wilayah kerajaannya. Atas perintah kaisar Agustus tersebut, Maria akhirnya melahirkan Yesus di kota Betlehem. Jika demikian, apakah ini berarti kelahiran Yesus di kota Betlehem terjadi karena perintah kaisar Agustus?  Bukankah seandainya kaisar Agustus tidak pernah memerintahkan pendaftaran penduduk, maka kemungkinan besar Maria akan melahirkan Yesus di kota Nazaret?  Jika demikian, bukankah yang menjadi penguasa dan yang menentukan riwayat hidup Yesus Kristus adalah kaisar Agustus? Tetapi apabila kita mencermati lebih teliti, maka kita disadarkan bahwa perintah kaisar Agustus tersebut justru merupakan penggenapan dari rencana Allah. Di Mikha 5:1 terdapat nubuat Allah: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”.   Allah telah merencanakan karya keselamatanNya yaitu inkarnasi Kristus di Betlehem ribuan tahun sebelum kaisar Agustus lahir dan memerintah. Dengan demikian, kaisar Agustus dalam berita Alkitab sebenarnya hanya dipandang sebagai alat di tangan Allah. Perintah kaisar Agustus untuk mendaftarkan semua penduduk di wilayah kerajaan Romawi pada hakikatnya terjadi di bawah kendali otoritas kehendak dan rencana Allah. Sehingga melalui perintah kaisar Agustus tersebut mendorong Maria untuk pergi meninggalkan kota Nazaret ke Betlehem. Ini berarti yang menjadi penguasa kehidupan kita bukanlah pemerintah atau penguasa, tetapi Allah.
Sekilas pemerintah atau penguasa dunia ini mampu mengatur dan mengendalikan berbagai aspek kehidupan kita. Padahal keputusan-keputusan atau kebijaksanaan mereka dalam konteks tertentu merupakan wujud dari rencana Allah bagi kehidupan kita. Namun sayangnya, manusia seringkali menjadikan orang-orang yang berkuasa sebagai tempat untuk bersandar dan sumber berkat. Pada zamannya kaisar Agustus mengklaim dirinya sebagai “kurios” (penguasa atau tuan) bagi seluruh penduduknya. Sebaliknya banyak penduduk yang mendewa-dewakan atau memuja-muja kebesaran kaisar Agustus. Sehingga banyak orang akan merasa bahagia dan sukacita jikalau mereka memiliki hubungan yang dekat dengan para  penguasa. Mereka merasa diri lebih aman, tenteram dan terjamin keselamatannya karena merasa dilindungi atau dijaga oleh para penguasa. Pola berpikir seperti inilah yang kelak menghasilkan sikap kolusi. Sebab dalam kolusi, orang-orang yang ingin dekat dan memperoleh keuntungan dari pemerintah bersedia untuk membayar uang pelicin atau uang haram. Sebagai gantinya, pemerintah atau penguasa yang merasa diuntungkan dapat menganggap mereka sebagai “orang-orang terdekat dan terpercaya”. Itu sebabnya dari sikap kolusi dapat berkembang menjadi sikap nepotisme. Lingkaran sikap kolusi dan nepotisme selalu berujung kepada tindakan yang korup. Kini berita Natal justru memproklamirkan bahwa Allah adalah Tuhan yang menjadi pelindung dan Juru-selamat sejati umat manusia. Peristiwa Natal mengkontraskan 2 penguasa, yaitu kaisar Agustus dengan Yesus Kristus!  Keduanya sama-sama raja, tetapi kelak terbukti hanya Kristuslah sang Raja Kehidupan yang mampu mengaruniakan keselamatan, ketenteraman dan kebahagiaan yang sejati. Sehingga tidak mengherankan jikalau Mazmur 97:1 mengungkapkan pujian kepada Allah yang adalah Raja: “TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita!” Yang dipuji oleh bumi dan banyak pulau bukanlah para raja dan penguasa dunia, tetapi Allah yang adalah Raja Kehidupan.
Yang Berkenan Kepada Allah
Sebagai Raja Kehidupan, Allah memiliki hak dan kedaulatan penuh atas hidup manusia. Namun kedaulatan Allah sebagai Raja senantiasa dilandasi oleh rahmatNya yang bebas. Itu sebabnya dalam peristiwa Natal, rahmat Allah justru dinyatakan kepada orang yang berkenan kepadaNya yaitu para gembala di padang Efrata. Para gembala mendengar nyanyian para malaikat memuji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Luk. 2:11).  Sukacita dan damai-sejahtera yang dinyatakan dalam nyanyian para malaikat ditujukan kepada orang “yang berkenan kepada Allah”. Ungkapan kata “yang berkenan” (eudakia) dalam Injil Lukas juga dipakai dalam peristiwa baptisan Kristus di sungai Yordan (Luk. 3:22). Makna ungkapan “eudakia” berarti: “good-will” (kehendak mulia), “good-pleasure” (kesukaan), “favor” (kemurahan), “feeling of complacency of God” (perasaan puas akan Allah), “satisfaction” (kepuasan), “happiness” (kebahagiaan), “delight of men” (kegembiraan). Dengan demikian berita sukacita dan damai-sejahtera Natal pada haikatnya ditujukan kepada orang-orang yang berkehendak mulia, yang hidup dalam kemurahan hati, yang puas dengan pemeliharaan Allah dan bahagia dalam  menyambut  berkat Allah. Jadi makna “orang-orang yang berkenan kepada Allah” tidak serta merta identik dengan orang-orang yang termaginalisasi. Sebab orang-orang yang termaginalisasi umumnya hanya dikaitkan dengan orang-orang yang miskin, orang-orang yang terasing dan tidak berdaya secara ekonomis atau hukum. Padahal belum tentu setiap orang yang  miskin, orang-orang terasing dan tidak berdaya secara ekonomis atau hukum berstatus “berkenan kepada Allah”. Tepatnya orang-orang yang berkenan kepada Allah menunjuk kepada setiap orang yang hidup benar,  yang bersandar kepada Allah, hidup sederhana, bersyukur atas pemeliharaan Tuhan dan berbahagia atas rahmatNya. Jadi makna “orang yang berkenan kepada Allah” lebih menunjuk kepada kualitas iman dan spiritualitas kasih dari umat percaya.
                Dengan demikian berita keselamatan Natal yang membawa sukacita ditujukan kepada setiap orang yang berkenan kepada Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang  berkenan kepada-Nya" (Luk. 2:11).  Berita keselamatan Natal senantiasa melampaui  batas-batas: ekonomis, suku, etnis, bahasa, pandangan hidup dan agama. Peristiwa Natal tidak pernah bergerak secara eksklusif, tetapi selalu menyebar secara inklusif “di antara manusia yang berkenan kepada Allah”.  Kalaupun berita keselamatan Natal pada sisi lain layak dianggap “eksklusif”, maka yang dimaksudkan “eksklusif” di sini karena keselamatan Allah ditujukan hanya kepada “orang-orang yang berkenan kepadaNya”. Berita keselamatan Natal tidak pernah ditujukan kepada orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai “kurios” (tuan dan penguasa) atas hidup orang lain sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaisar Agustus.  Sukacita dan damai-sejahtera Natal juga tidak mungkin diterima oleh setiap orang yang puas diri, sombong, takabur dan memandang rendah sesamanya.
Sukacita Untuk Kemuliaan Allah
Sikap para gembala yang telah memperoleh kabar gembira dari para malaikat disaksikan: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita."  Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu (Luk. 2:15-17). Mereka bersukacita dengan apa yang telah mereka terima dan alami. Namun lebih dari pada itu, mereka juga berkomitmen membagikan sukacita keselamatan untuk kemuliaan Allah. Para gembala menjadi para pemberita Injil pertama agar kemuliaan Allah yang telah mereka lihat juga dapat dialami oleh orang lain. Ini berarti sukacita  dan damai-sejahtera Natal bukanlah sesuatu yang sifatnya pasif dan konsumtif. Seharusnya kita bersukacita karena kita dapat membagikan kepada orang lain sehingga mereka dapat berbahagia dan mengalami keselamatan Allah. Bahkan orang yang berkenan kepada Allah mampu menggunakan penderitaan dan tragedi hidupnya sebagai sumber inspirasi yang memberi kekuatan kepada orang lain. Victor Frankl seorang Yahudi yang di Austria (26 Maret 1905 - 2 September 1997) dapat mengilhami kita bagaimanakah mampu bersukacita dan hidup yang bermakna untuk kemuliaan Allah. Pada tahun 1942 dia bersama  keluarga dan orang-orang Yahudi lainnya diangkut dengan gerbong kereta api dari kota kelahirannya di Wina, Austria menuju di sebuah kota yang bernama Auschwitz. Mereka dijajar menjadi 2 kelompok kiri dan kanan. Ternyata mereka yang berada di kelompok sebelah kiri semuanya dimasukkan ke dalam kamar gas atau eksekusi tembak. Victor Frankl baru menyadari bahwa yang termasuk di kelompok sebelah kiri adalah ayah, ibu, isterinya yang sedang mengandung dan kakaknya laki-laki. Jumlah yang dieksekusi pada hari itu mencapai 1300 orang. Selama dalam tahanan Victor Frankl seringkali mengalami berbagai kekejaman, penghinaan, kelaparan dan kedinginan. Tetapi semangat hidupnya tidak pernah pudar. Dia belajar bahwa manusia dapat kehilangan segala sesuatu yang dihargainya kecuali kebebasan, yaitu kebebasan untuk memilih atau kemauan akan arti kehidupan. Itu sebabnya dalam bukunya yang berjudul “Man’s Search for Meaning”, Victor Frankl  mengemukakan psikologinya yang disebut “Logotherapy” sebab mengulas tentang arti dari eksistensi manusia dan kebutuhan manusia akan makna hidup.
                Menurut pengakuan Victor Frankl, sumber kekuatan rohaninya diperoleh saat dia menemukan sobekan kertas di jasad temannya. Sobekan kertas tersebut berisi Ul. 6:4-5, yaitu: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”.  Ayat Alkitab ini menginspirasi Victor Frankl bahwa makna kasih kepada Allah harus dihayati dengan penuh arti walau kehidupan ini sering sewenang-wenang dan dapat mencabut nyawanya. Victor Frankl mampu mengatasi (mentransendensikan) seluruh penderitaannya, sehingga dia mampu memberi respon yang memperkaya rohani dan pemikirannya. Dia tetap mampu bersukacita dan menemukan arti di tengah-tengah kekelaman dan kekejaman hidup. Setelah dia bebas dari tahanan, Frankl kemudian berperan aktif memberi kekuatan, motivasi dan dorongan untuk menemukan arti hidup bagi banyak orang. Bukankah melalui kisah hidup dari Victor Frankl tersebut kita dapat belajar apa artinya sukacita untuk kemuliaan Allah? Berita Natal juga mendorong dan memanggil kita untuk menemukan arti hidup yang telah dianugerahkan Allah melalui peristiwa inkarnasi Kristus. Tetapi juga berita Natal mendorong dan memanggil kita agar kita tetap menjadi berkat dan sumber inspirasi bagi orang lain di tengah-tengah kekelaman penderitaan yang kita alami. Jika kita telah menerima keselamatan Allah yang telah datang dan nyata di dalam Kristus, maka seharusnya   sukacita dan damai-sejahtera kita tidak lagi ditentukan oleh apa yang kita miliki. Semua yang kita miliki suatu saat akan lenyap dan hilang. Tetapi tidak berarti sukacita dan damai-sejahtera Kristus harus ikut lenyap selama kita mau menjadikan Dia sebagai satu-satunya Tuhan dan Raja atas kehidupan  kita.  Di dalam kuasa iman kepada Kristus, kita dimampukan untuk mengatasi (mentransendensikan) diri kita sehingga berbagai kesusahan, permasalahan, dan tekanan hidup tidak pernah berhasil melumpuhkan atau melumpuhkan kita. Sebaliknya kita makin dimampukan untuk menjadi berkat keselamatan dan sukacita bagi orang-orang di sekitar kita.
Panggilan
Sukacita dan damai-sejahtera kita ditentukan oleh sejauh mana kita mampu memberi respon iman terhadap segala peristiwa hidup yang paling berat dan menyedihkan. Ketika kita mampu memberi respon iman yang tepat dengan berlandaskan kepada anugerah keselamatan Allah, maka tidak ada penderitaan, kegagalan, kekejaman dan ketidakadilan hidup ini yang mampu merampas sukacita dan damai-sejahtera kita.  Karena itu sebagai orang-orang yang telah memperoleh kemurahan kasih Allah, kita dipanggil untuk menjadi pemberita-pemberita keselamatan yang membawa sukacita dan damai-sejahtera Kristus. Bagaimanakah jawaban saudara? Amin.